Tomas Bukanlah Yudas

Nasihat bagi Mereka yang Ragu-ragu

Apa yang Anda lakukan ketika Anda benar-benar tidak yakin dengan iman Anda?

Beberapa orang menyangkal bahwa keraguan dapat menjadi sesuatu yang serius karena pewahyuan umum menunjukkan keberadaan Allah secara jelas (Mazmur 19:1; Roma 1:19). Namun, Alkitab tidak pernah menjanjikan bahwa Allah akan sama jelasnya bagi setiap orang di setiap saat.

Gambar: bersyukur

Iman sering kali melibatkan saat-saat kegelisahan. Beberapa orang yang masuk ke dalam kekristenan bergumul dengan sangat dalam sebelum akhirnya menerobos masuk. Banyak orang percaya mengalami "malam yang gelap bagi jiwa" — saat-saat atau bahkan musim-musim kesedihan ketika rasanya kehadiran Allah hilang. Pikirkanlah banyak mazmur ratapan (misalnya, Mazmur 22; Mazmur 88) atau karya C.S. Lewis yang berjudul A Grief Observed. Dalam pelayanan saya di YouTube, saya menemukan bahwa banyak anak muda yang merasakan hal ini pada saat ini.

Dunia ini dipenuhi dengan ketidakpastian dan kecemasan yang menggerogoti. Banyak orang yang terbuka untuk percaya kepada Allah, bahkan mungkin ingin percaya — tetapi mereka masih merasa terjebak dalam ketidakpastian. Jadi, apa yang Anda lakukan ketika keyakinan Anda tentang Allah berada di atas 50 persen, tetapi di bawah 100 persen? Atau, bagaimana Anda membantu seorang teman dalam situasi seperti ini? Pertama-tama, izinkan saya memberikan beberapa dorongan, dan kemudian beberapa nasihat.

Ketidakpastian Bukan Berarti Anda Palsu

Di dalam gereja, kita sering bergumul untuk memahami cara menolong orang yang ragu-ragu. Terkadang kita memberi kesan bahwa orang percaya yang sungguh-sungguh tidak akan memiliki keraguan. Akan tetapi, pendekatan ini tampaknya tidak alkitabiah. Beberapa rasul sendiri juga ragu — bahkan ketika mereka melihat Yesus yang telah bangkit (Matius 28:17)! Dan, Yudas 22 memerintahkan kita untuk "mengasihani mereka yang ragu-ragu."

Jika Anda bergumul dengan keraguan, ingatlah: Tomas bukanlah Yudas. Tomas meragukan, tetapi Yudas mengkhianati. Keduanya tidak identik.

Saya tidak mengatakan hal ini untuk meremehkan besarnya keraguan Anda. Beberapa keraguan adalah dosa, dan hampir semua keraguan itu menyakitkan. Namun, dalam pengamatan saya, beberapa orang percaya diliputi oleh rasa malu dan menyalahkan diri sendiri karena memiliki keraguan. Akibatnya, mereka mungkin merahasiakan keraguan tersebut dan mereka mungkin bertanya-tanya jika mereka sama sekali tidak memiliki iman yang benar.

Jadi, ingatlah: orang-orang Kristen sejati di Alkitab bergumul dengan keraguan yang nyata. Dan, Tomas bukanlah Yudas. Janganlah lebih keras dalam menilai status kerohanian Anda daripada Alkitab. Faktanya, jika kita terus berjalan di dalam terang dengan sebaik-baiknya, Allah sebenarnya dapat menggunakan ketidakpastian kita untuk kebaikan.

Allah Dapat Menggunakan Ketidakpastian untuk Kebaikan

Ada banyak nasihat yang saya berikan kepada mereka yang bergumul dengan keraguan. Misalnya, memiliki seorang teman untuk diajak bicara sangatlah penting. Begitu juga dengan menjaga disiplin rohani (terutama doa, membaca Kitab Suci, dan ibadah bersama). Kehidupan rohani kita dan komunitas kita dengan kuat membentuk dan memperkuat keyakinan kita. Namun, di sini saya ingin berfokus pada satu strategi yang saya percaya sering diabaikan: kita perlu merefleksikan secara teologis ketidakpastian kita. Kita perlu mengembangkan sebuah kerangka kerja untuk memahami keraguan dan perannya dalam kehidupan kita.

Ketika saya masih kuliah, saya bergumul dengan rasa frustrasi yang akut pada ketidakpastian hidup. Saya setuju dengan penekanan dalam filosofi eksistensial bahwa kita dilemparkan ke dalam eksistensi, namun secara bersamaan tidak diperlengkapi untuk eksistensi. Tidak ada yang memberi Anda buku petunjuk saat Anda dilahirkan!

Pada suatu malam di bulan Desember 2005, saya menulis ini di jurnal saya:

Satu-satunya hal yang lebih buruk dari rasa sakit dalam hidup adalah keacakannya. Kita dilemparkan ke dalam kesadaran dan perjuangan tanpa penjelasan atau jawaban yang menyertainya. Hidup ini seperti sebuah ujian yang terpaksa kita jalani, yang jawabannya tidak mungkin kita ketahui. Kekosongan yang kita isi dengan pertanyaan-pertanyaan kehidupan paling banter hanya berupa tebakan, dan biasanya hanya prasangka yang belum teruji. Hidup ini seperti sebuah pertempuran yang kita dipaksa untuk berjuang, tetapi tujuannya tidak jelas bagi kita. Kita dilemparkan ke dalam pertarungan, tetapi tidak yakin dengan tuntutan yang diberikan kepada kita. Kita merasa bahwa kita harus berjuang, tetapi tidak yakin tujuan kita berjuang, atau caranya. Dilema besar dalam hidup bukanlah kegagalan atau rasa sakit, tetapi ketidakpastian dan kekacauan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh saya: Bagaimana jika situasi ini, dan perjuangan yang termasuk di dalamnya, memiliki tujuan?

Pascal tentang Ketersembunyian Allah

Sebuah terobosan datang ketika saya menemukan bahwa pergumulan saya bukanlah hal yang baru. Beberapa pemikir besar Kristen di masa lalu telah menderita karenanya. Pemikir besar abad ketujuh belas, Blaise Pascal, misalnya, memberi penekanan yang terkenal tentang ketersembunyian Allah dan penderitaan yang diakibatkannya:

Alam tidak memiliki apa pun yang dapat ditawarkan kepada saya yang tidak menimbulkan keraguan dan kecemasan. Jika saya tidak melihat tanda-tanda keilahian di sana, saya akan memutuskan solusi negatif: jika saya melihat tanda-tanda Pencipta di mana-mana, saya akan dengan damai menetap dalam iman. Namun, karena melihat terlalu banyak yang disangkal dan tak kuasa untuk memastikannya, saya berada dalam kondisi yang menyedihkan. (Pensées 429, dikutip dari Christianity for Modern Pagans, 213)

Namun bagi Pascal, keadaan ini ada karena suatu alasan. Allah menggunakan ketidakpastian kita untuk menghasilkan kerendahan hati di dalam diri kita, dan bersamaan dengan itu, sebuah kesadaran akan kebutuhan kita akan Allah: "Bukan hanya benar, tetapi juga berguna bagi kita bahwa Allah harus disembunyikan sebagian dan diungkapkan sebagian, karena sama berbahayanya bagi manusia untuk mengenal Allah tanpa mengetahui kesengsaraannya sendiri, sama berbahayanya dengan mengenal kesengsaraannya tanpa mengenal Allah" (Pensées 446, 249).

Menurut cara berpikir ini, jika Allah langsung menjawab setiap keraguan kita, hal ini tidak akan produktif bagi kita. Kita mungkin mengenal Allah tetapi berhubungan dengan-Nya dalam kesombongan dan rasa puas diri, yang sebenarnya tidak akan menyentuh area kebutuhan kita dalam berhubungan dengan Allah— yaitu dosa dan perlawanan kita terhadap-Nya. Seperti yang ditulis oleh Pascal di bagian lain, "Allah ingin menggerakkan kehendak dan bukan pikiran. Kejernihan yang sempurna akan membantu pikiran dan merusak kehendak" (Pensées 234, 247).

Cahaya bagi Mereka yang Ingin Melihat

Saya menyadari bahwa ide ini bisa membuat orang frustasi ketika mendengarnya. Akan tetapi, coba pikirkanlah: Bagaimana kita tahu bahwa kepastian adalah hal yang benar-benar kita butuhkan? Jika kita jujur, kita mungkin akan menyadari bahwa kita sering gagal untuk bertindak berdasarkan pengetahuan kita. Mungkin sifat dari wahyu Allah — yang sebagian tersembunyi, namun nyata melalui ciptaan, hati nurani, dan Kristus — sebenarnya paling sesuai dengan kondisi kita yang sebenarnya.

Bagaimanapun juga, Allah tidak hanya tertarik pada keyakinan kita kepada-Nya, tetapi juga pada bagaimana kita percaya. Jika Ia mengalahkan perlawanan kita dengan mukjizat-mukjizat yang sering terjadi, hal ini mungkin akan menghasilkan "teisme tipis": kita dengan berat hati akan mengakui keberadaan-Nya sambil berharap tidak demikian. Sementara itu, bagi mereka yang mencari Allah, Allah tidak membiarkan diri-Nya sendiri tanpa kesaksian. Pascal sekali lagi sangat membantu:

Allah menggunakan ketidakpastian kita untuk menghasilkan kerendahan hati di dalam diri kita, dan bersamaan dengan itu, sebuah kesadaran akan kebutuhan kita akan Allah.


Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jika Allah ingin mengatasi sikap keras kepala orang-orang yang paling keras kepala, Ia dapat melakukannya dengan menyatakan diri-Nya kepada mereka dengan sangat jelas sehingga mereka tidak dapat meragukan kebenaran esensi-Nya, karena Ia akan muncul pada hari terakhir. . . . Ini bukanlah cara yang Ia inginkan untuk muncul ketika Ia datang dengan lemah lembut. Sebab, begitu banyak orang yang telah menunjukkan diri mereka tidak layak untuk mendapatkan pengampunan-Nya sehingga Ia ingin mencabut kebaikan yang tidak mereka inginkan. Ada cukup cahaya hanya bagi mereka yang ingin melihat, dan cukup kegelapan bagi mereka yang memiliki kecenderungan yang berlawanan. (Pensées 149, 69)

Berjalanlah di Dalam Terang yang Anda Miliki

Sementara itu, apa yang harus kita lakukan? Pascal menyarankan kita untuk membuat pilihan. Buatlah keputusan terbaik yang kita bisa berdasarkan hal-hal yang kita ketahui. Buatlah komitmen yang nyata dengan sepenuh hati terhadap kebenaran sebaik mungkin yang dapat kita lihat, berjalanlah dalam terang apa pun yang telah Allah berikan kepada kita, percaya bahwa kegelapan yang tersisa tidak akan bertahan selamanya — bahwa sebenarnya Allah sedang bekerja melaluinya.

Jadi, pembaca Kristen, ketika Anda bergumul dengan ketidakpastian, janganlah berkecil hati. Teruslah melangkah maju. Allah sedang bekerja di tengah-tengah pergumulan Anda — dan Ia akan dengan setia menopang Anda hingga hari di mana Anda berdiri di hadapan-Nya, muka dengan muka, dengan segala ketidakpastian yang ditinggalkan untuk selama-lamanya.

(t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/thomas-was-not-judas
Judul asli artikel : Thomas Was Not Judas - Counsel for Those Who Doubt
Penulis artikel : Gavin Ortlund
Tanggal akses : 28 Februari 2024