Salib yang Ajaib

Saya terkadang bertanya-tanya berapa banyak orang Kristen yang meluangkan waktu sejenak untuk memikirkan betapa anehnya salib digunakan sebagai karya seni. Salib menghiasi arsitektur gereja, lukisan klasik, patung, dan bahkan perhiasan. Akan tetapi, pikirkan sejenak apa sebenarnya salib itu. Itu adalah sebuah metode hukuman mati. Faktanya, itu adalah salah satu cara hukuman mati paling mengerikan yang pernah dibuat oleh manusia. Begitu mengerikannya sehingga hanya diperuntukkan bagi yang terendah dari orang-orang bejat: budak, bajak laut, dan pemberontak. Warga negara Romawi dikecualikan. Orang Romawi yang berbudaya menganggapnya tidak pantas untuk dibicarakan dalam pergaulan yang sopan. Namun, hari ini kita memakai simbol kematian yang hina dan memalukan ini di leher kita. Sifat yang kasar ini tidak langsung terlihat oleh kita karena seiring berjalannya waktu, simbol salib telah kehilangan banyak konotasi aslinya. Untuk mendapatkan gambaran tentang keanehannya, bayangkan melihat orang memakai kalung dengan gambar pemenggalan kepala atau kursi listrik.

Gambar: Salib ajaib

Lalu, apa yang terjadi untuk menjelaskan perubahan itu? Kita tahu Yesus dihukum mati di kayu salib Romawi, tetapi ada apa dengan kematian-Nya yang mengubah simbol kengerian ini menjadi simbol pengharapan? Dalam kisah-kisah di Kitab Injil tentang penyaliban kita membaca, sebagian besar, tentang apa yang dilihat oleh setiap pengamat di bukit pada hari itu. Kita tidak banyak membaca penafsiran tentang apa yang sedang terjadi sampai kita tiba pada Kitab Kisah Para Rasul dan Surat-surat. Dalam khotbah Paulus, misalnya, dia menjelaskan dari Perjanjian Lama bahwa Mesias perlu menderita dan bahwa Yesus adalah Mesias (Kisah Para Rasul 17:2-3). Akan tetapi, Paulus melihat ke bagian mana di Perjanjian Lama untuk membuktikan bahwa Mesias perlu menderita? Ada sejumlah teks yang bisa dia baca (misalnya, Mazmur 16; 22), tetapi salah satu yang paling signifikan kemungkinan adalah Yesaya 52:13-53:12.

Yesaya 52:13-53:12 adalah salah satu dari "Nyanyian Hamba" Yesaya. Dalam Nyanyian Hamba pertama (42:1-9), Yesaya menggambarkan misi Hamba untuk menegakkan keadilan dan kerajaan di seluruh bumi. Nyanyian Hamba kedua (49:1-6) menggambarkan misi Hamba untuk memulihkan Israel. Nyanyian Hamba ketiga (50:4-9) mengungkapkan ketaatan Hamba dan penderitaan yang Dia tanggung sebagai akibatnya. Nyanyian Hamba keempat dan terakhir kemudian mengungkapkan bagaimana Hamba akan menebus umat-Nya. Ini mengungkapkan bahwa penderitaan-Nya akan menjadi sarana untuk membebaskan umat-Nya dari dosa. Ini mengungkapkan bahwa Dia sendiri akan menanggung dosa mereka. Yesaya menulis (53:5, AYT):

Akan tetapi, Dia ditikam karena pelanggaran-pelanggaran kita.
Dia diremukkan karena kejahatan-kejahatan kita.
Hukuman yang mendatangkan kesejahteraan bagi kita ditimpakan ke atasnya,
dan oleh bilur-bilur-Nya kita disembuhkan.

Inilah yang terjadi di kayu salib ketika Yesus disalibkan. Dia adalah Hamba Allah. Dialah yang diwahyukan Allah kepada Yesaya delapan abad sebelum kematian-Nya. Di kayu salib, Dia sendiri menanggung dosa kita dan menanggung murka Allah. Kematian-Nya adalah penebusan untuk semua dosa kita. Kita yang percaya kepada Yesus memiliki pengampunan dosa dan damai dengan Allah karena apa yang telah dituntaskan di kayu salib. Karenanya tidaklah mengherankan bahwa Paulus menyatakan kepada jemaat Korintus: "Sebab, aku memutuskan untuk tidak mengetahui apa pun di antara kamu selain Kristus Yesus, yaitu Ia yang disalibkan" (1 Kor. 2:2, AYT).

Pikirkan ini. Biarkan itu meresap. Kristus menderita dan mati di kayu salib karena dosa. Dosa Anda. Dosa saya. Sejak kejatuhan, dosa telah menjadi masalah di dunia. Kita tidak terlalu memikirkan dosa di zaman kita ini. Kita berada di luar hal-hal seperti itu. Dosa adalah konsep yang "kuno" dan ketinggalan zaman, atau begitulah menurut kita.

Akan tetapi, jika Anda ingin mengetahui perspektif yang benar tentang keseriusan dosa, lihatlah ke salib. Lihatlah sifat ekstrem dari solusi untuk masalah ini. Jika dosa "bukan masalah besar," akankah Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk mati dalam kematian yang memalukan di kayu salib untuk membereskannya? Dan, kasih seperti apakah ini? Kasih seperti apakah yang diperlihatkan ketika Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk mati bagi dosa-dosa yang kita lakukan terhadap-Nya? Ini adalah jenis dan tingkat kasih yang sulit kita pahami. Inilah yang mengubah salib dari simbol ketakutan menjadi simbol iman. Inilah yang membuat Isaac Watts menulis:

Bila kupandang salib yang ajaib
Di mana Raja mulia mati,
Kebanggaanku, hilanglah,
Kecongkakanku pudarlah.
Jangan biarkan kubermegah,
Selain dalam kematian-Mu!
Semua yang memikatku dulu,
Kukorbankan tuk darah-Nya.
Lihat sekujur tubuh-Nya,
Mengalir derita dan kasih!
Tak terselami pengorbanan-Nya,
Dan mahkota duri yang mulia.
Bila semesta milikku,
Tak cukup kupersembahkan,
Betapa ajaib kasih-Nya,
Menuntut seluruh hidupku.

(t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Ligonier
Alamat situs : https://www.ligonier.org/learn/articles/wondrous-cross/
Judul asli artikel : The Wondrous Cross
Penulis artikel : Keith Mathison