Lima Kebenaran Tentang Kematian Yesus

Anugerah ada dalam setiap iman orang kristiani. Tidak ada yang lebih jelas dibanding yang terlihat pada salib Kristus. Hanya karena anugerahlah bahwa Anak Allah mengambil rupa manusia, dan anugerahlah yang Ia ajarkan kepada kita agar kita hidup - tetapi yang utama adalah karena anugerahlah Ia mati di kayu salib menggantikan kita.

Selain itu, anugerah klimaks yang ditunjukkan pada salib ini memiliki bentuk khusus - memiliki ujung. Setiap ujung ini membantu kita melihat apa yang sebenarnya terjadi ketika Yesus mati. Dan, penting bahwa kita melihat karena melihat mengarahkan pada penyembahan - Anda tidak bisa menyembah apa yang tidak Anda ketahui.

Jadi, dengan harapan untuk kejelasan yang lebih - dorongan untuk penyembahan - di bawah ini terdapat lima kebenaran alkitabiah tentang apa yang Yesus capai di atas salib.

1. Kematian Yesus adalah untuk para musuh-Nya

Gambar: salib

Kasih Allah berbeda dengan kasih alami manusia. Allah mengasihi kita ketika kita sama sekali tidak pantas untuk dikasihi. Ketika Yesus mati, Dia mati demi orang fasik, untuk orang-orang berdosa, dan untuk para musuh-Nya. Paulus menggambarkan tentang betapa bertentangannya hal ini dengan sifat manusia saat dia menulis, "Sebab, jarang ada orang yang mau mati untuk orang benar, meskipun mungkin untuk orang yang baik ada orang yang mau mati. Namun, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, ketika kita masih menjadi pendosa, Kristus mati bagi kita" (Roma 5:7-8, AYT).

2. Kematian Yesus menebus dosa manusia

Kematian Kristus berhasil dalam tujuannya. Dan, tujuan-Nya bukan hanya untuk menebus kemungkinan akan keselamatan, tetapi untuk menebus umat kepunyaan-Nya sendiri. Dengarkan perkataan Yesus: "Akan tetapi, Aku telah mengatakan kepadamu bahwa sekalipun kamu sudah melihat Aku, kamu tetap tidak percaya. Dan, inilah kehendak Dia yang mengutus Aku: supaya semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku itu tidak ada yang hilang, tetapi Aku bangkitkan pada akhir zaman" (Yohanes 6:36, 39, AYT).

Jika kita mengatakan bahwa Kristus hanya menebus kesempatan keselamatan bagi semua orang, kita mengeluarkan kata-kata alkitabiah seperti penebusan pada maknanya. John Murray menulis: "Hal ini adalah untuk mengemis konsepsi penebusan sebagai pengamanan yang efektif dari pelepasan oleh harga dan kekuatan untuk menafsirkannya sebagai sesuatu yang kurang dari pencapaian efektif yang mengamankan keselamatan mereka yang menjadi objeknya. Kristus tidak datang untuk menempatkan manusia dalam posisi yang dapat ditebus, tetapi untuk menebus bagi diri-Nya sendiri suatu umat." ("Redemption Accomplished and Applied", 63).

3. Kematian Yesus adalah untuk menggantikan kita

Kematian Yesus merupakan penggantian. Artinya, dia mati untuk menggantikan kita. Dia mati dengan kematian yang pantas kita terima. Dia menanggung hukuman yang adil bagi kita. Bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, Kristus mengambil murka Allah atas nama mereka. Petrus menulis, "(Dia) sendiri telah menanggung dosa kita pada tubuh-Nya di kayu salib supaya kita mati terhadap dosa, dan hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya, kamu disembuhkan" (1 Petrus 2:24, AYT).

4. Kematian Yesus mendefinikan Kasih

Kematian Yesus memungkinkan kita untuk memiliki hubungan yang penuh sukacita dengan Tuhan, yang adalah tingkat kebaikan tertinggi dari salib.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Kematian Yesus tidak hanya merupakan bentuk tindakan kasih, tetapi mendefinisikan kasih. Kematian-Nya sebagai ganti kita adalah contoh penting dari arti mengasihi, dan Yesus mengajak mereka yang mengikuti-Nya untuk juga bertindak dalam jenis kasih yang mau memberikan hidup. Yohanes menulis, "Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran" (1 Yohanes 3:16, AYT). John Piper menjelaskan: "Kematian Yesus merupakan pembawa dosa sekaligus pemberi petunjuk. Itu adalah kematian yang mengampuni dosa dan kematian yang menjadi contoh kasih. Ini adalah penebusan hidup kita dari kebinasaan dan pola kehidupan yang mengasihi." ("What Jesus Demands from the World", 266).

5. Kematian Yesus mendamaikan kita dengan Allah

Pembenaran, pendamaian, dan penebusan -- segala keuntungan dari Kematian Kristus -- mempunyai satu tujuan besar: perdamaian. Kematian Yesus memungkinkan kita untuk memiliki hubungan yang penuh sukacita dengan Allah, yang merupakan tingkat kebaikan tertinggi dari salib. Paulus menulis, "Kamu dahulu terasing, memusuhi Allah dalam pikiranmu, dan melakukan tindakan-tindakan jahat, sekarang kamu telah didamaikan dengan tubuh jasmani Kristus melalui kematian-Nya untuk mempersembahkan kamu sebagai persembahan yang kudus, tidak bercacat, dan tidak bercela di hadapan Allah" (Kolose 1:21-22, AYT).

Coba pikirkan bagaimana hal ini bekerja dalam hubungan kita dengan orang lain. Ketika kita berdosa, tidak hanya kita menyakiti orang lain, tetapi kita juga merusak hubungan. Hubungan itu tidak akan pernah menjadi sama sampai kita meminta pengampunan. . . Demikian puna halnya hubungan dengan Allah. Kita datang ke dunia ini berdosa, dan sebagai hasilnya, kita terasing dari Allah. Hanya pengampunan -- pengampunan yang hanya dapat ditebus dari salib -- yang dapat menyembuhkan hubungan sehingga kita dapat menikmati persekutuan dengan Allah. (t/Nike)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/five-truths-about-the-death-of-jesus
Judul asli artikel : Five Truths About the Death of Jesus
Penulis artikel : Joseph Scheumann