Kesaksian Paskah

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Paskah Terindah

Oleh: Eddie Ogan

Aku tidak akan pernah melupakan PASKAH tahun 1946. Saat itu, aku masih berumur 14 tahun, adikku Ocy berumur 12 tahun dan kakakku Darlene 16 tahun. Kami tinggal bersama Mama. Meskipun hidup kami pas- pasan, kami berempat tahu apa yang kami lakukan. Papaku meninggal 5 tahun sebelumnya, meninggalkan Mama seorang diri dengan 7 anak yang masih sekolah. Pada tahun 1946 itu, kakak-kakakku perempuan telah menikah dan kakak-kakakku yang laki- laki sudah meninggalkan rumah.

Siksaan yang Tak Terkatakan

Seorang Pendeta bernama Felix (nama samaran) disiksa dengan besi yang panas membara dan pisau-pisau. Ia dipukuli dengan hebat. Tikus-tikus kelaparan dihalau masuk melalui pipa ke dalam selnya. Ia tak dapat tidur karena harus memertahankan dirinya setiap saat. Bila ia beristirahat, tikus-tikus akan menyerangnya.

Kepuasan terhadap Salib

Sejak kecil, saya selalu rindu agar diterima oleh Allah. Orang-orang di rumah kami sangat religius. Nenek tidak perlu memaksa saya untuk pergi ke gereja, baik setiap hari Minggu maupun hari besar kristiani lainnya. Sepulang sekolah, saya sering berhenti di sebuah katedral yang memancarkan cahaya temaram di dekat rumah kami, dan bertelut di salah satu bangkunya yang kosong. Saya benar-benar tersiksa saat itu. Saya sangat merindukan pengampunan Allah, tetapi Dia terasa begitu jauh.

Plass.....Aku Tak Bisa Memegang Kartu Lagi

Ia pulang duduk seorang diri dengan suasana hening dan damai sedamai hatinya. Tadi ketika seorang hamba Tuhan berbicara dengan penuh kuasa Ilahi, hatinya dikuasai penyesalan yang sangat dalam teringat kehidupannya yang penuh dosa. Ia melihat bagaimana hari-harinya dilewati dengan berjudi, sampai tubuhnya payah dan tidak pernah sedikitpun terpikir akan anak dan istrinya.