Plass.....Aku Tak Bisa Memegang Kartu Lagi

 Bahan Paskah lainnya dapat diakses di:live.sabda.org

Gambar: AYT__1Tim_4_ay16

Ia pulang duduk seorang diri dengan suasana hening dan damai sedamai hatinya. Tadi ketika seorang hamba Tuhan berbicara dengan penuh kuasa Ilahi, hatinya dikuasai penyesalan yang sangat dalam teringat kehidupannya yang penuh dosa. Dia melihat bagaimana hari-harinya dilewati dengan berjudi, sampai tubuhnya payah dan tidak pernah sedikitpun terpikir akan anak
dan istrinya.

Bila dia kalah, anaknya yang datang untuk meminta uang belanja selalu diumpatnya "Karena tadi aku kamu ganggu, maka aku jadi kalah!" Tidak pernah diperhatikannya istri dan anaknya yang semakin kurus menahan derita batin dan jasmani. Bila kebetulan menang, uang yang didapatnya dibelanjakan berbagai barang kebutuhan keluarga, karena pikirnya dengan begitu keluarganya akan senang dan merasa terhibur. Dia berpikir seolah-olah dengan memborong barang-barang (baik yang dibutuhkan ataupun tidak) dia dapat mengurangi seluruh beban keluarganya.

Saat semua disadarinya, pintu hatinya telah terbuka. Ketika hamba Injil
itu mengajak orang-orang untuk bertobat dan menerima Juru Selamat, dia adalah salah seorang diantara mereka. "Mulai saat ini, segala dosa saudara telah dihapus oleh darah pengorbanan Kristus di kayu salib," berkata hamba Injil itu, "damai sejahteralah saudara sekarang, dan tinggalkan perbuatan dosa yang dahulu."

Pertobatan itu telah mengubah dirinya, dia bertekad untuk meninggalkan segala perbuatan dosa yang terdahulu. Namun, setan tidak pernah tinggal diam, tidak henti-hentinya teman-teman berjudinya datang ke rumah mengajak kembali mencari keuntungan yang tidak dihalalkan Tuhan. Bila dia berkata bahwa telah bertobat serta menerima Kristus, mereka tertawa terbahak- bahak dan berkata. "Kami ingin melihat berapa lama kau bisa bertahan sebagai orang Kristen!" dia mulai gelisah, akankah ia dapat bertahan dalam imannya?

Tiba-tiba dia teringat bagaimana Kristus mencurahkan darah-Nya sebagai penebus dosa manusia, dosa dirinya, si pejudi. Maka dari dalam hatinya yang baru disucikan timbul suatu tekad. Tuhan, demi menunjukkan kasih setiaku pada-Mu, aku rela berkorban sekalipun dengan mencurahkahn darahku. Dia memanggil istrinya, "Ambilkan aku golok" katanya dengan tenang. Istrinya tidak berprasanga dan menuruti permintaan itu. Dipegangnya golok itu, kemudian tangannya yang lain diletakkan di atas meja. Golok diangkat dan istrinya memperhatikan perbuatannya dengan perasaan ngeri. Apakah yang hendak dilakukan suaminya itu?

Damai sejahteralah saudara sekarang, dan tinggalkan perbuatan dosa yang dahulu.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Darah mengalir deras, telunjuk terkapar diatas meja dan terpisah dari tangannya. Dengan wajah pucat menahan sakit, dia memerintahkan istrinya mengambil pembalut. "Selesai sudah," gumamnya karena baru saja memotong jari telunjuknya. Keesokan harinya ketika teman-temannya datang, dia mengangkat tangannya yang sudah tak berjari tinggi-tinggi "Aku sudah tidak bisa memegang kartu lagi," katanya dengan tegas. Teman-temannya pergi setelah mendengar apa yang terjadi, dan mereka mengaku kalah karena iman mampu mengalahkan segala-galanya dan mampu memberi kesaksian
.

Di kota kecil Jepara, hidup seorang kakek 80 tahun. Jalan dan gerak- geriknya masih gagah, bicaranya jujur dan tegas. Selama 40 tahun dia telah bersaksi dan tanpa didikan teologis telah mempertobatkan beratus-ratus orang di kota itu. Bila secara kebetulan kita bertemu dengan dia dan melirik ketangannya, akan melihat bahwa tangannya tidak berjari telunjuk....

Kata Bijak:

"Kami memberitakan bahwa dengan perantaraan Kristus, Allah membuat manusia berbaik kembali dengan diri-Nya. Allah melakukan itu tanpa menuntut kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan manusia terhadap diri-Nya. Dan kami sudah ditugaskan Allah untuk memberitakan kabar itu." (2 Korintus 5:19 BIS)

Untaian Mutiara
Judul buku : Untaian Mutiara
Judul kisah/kesaksian : Plass....Aku Tak Bisa Memegang Kartu Lagi
Penulis : Betsy.T
Penerbit : Gandum Mas Malang
Halaman : 59-61