'Mereka Tidak Mematahkan Kaki-Nya'

Berani Berharap pada Sabtu Suci

Itu hanya 24 jam, seperti hari-hari lainnya. Setelah malam yang panjang, matahari terbit, dengan stabil bergerak melintasi langit, dan menghilang. Malam datang lagi. Tetapi bagi para murid dan teman dekat Yesus, ketika mereka memutar ulang trauma dan kengerian hari sebelumnya berkali-kali, itu pasti terasa seperti hari yang terpanjang dalam sejarah dunia.

Gambar: Yesus mati untuk semua?

Pada hari Sabtu yang sangat panjang itu, momen-momen khusus apa yang mungkin paling mereka sesali? Apakah mereka ingat cambuk, mahkota duri, kesedihan di wajah setiap saksi mata yang simpatik? Apakah mereka mengingat kata-kata yang diucapkan-Nya, dalam siksaan, memberikan belas kasih kepada ibu-Nya, belas kasih kepada seorang penjahat, belas kasih kepada orang-orang yang mencela-Nya, belas kasih kepada musuh-musuh-Nya? Apakah mereka merenungkan tombak yang menusuk lambung-Nya, yang menegaskan sekali dan untuk semua bahwa Mesias mereka telah mati?

Akan tetapi, dalam kehancuran total mereka, ketika serangan hebat kesedihan terus datang, apakah mereka pernah bertanya-tanya tentang cara yang mengejutkan, hampir menghebohkan, bagaimana mayat-Nya diturunkan dari salib? Mungkinkah mereka berani memegang secercah harapan kecil yang hampir tak terlihat yang tersembunyi dalam empat kata yang mengejutkan? Seperti yang ditulis Rasul Yohanes, "Mereka tidak mematahkan kaki-Nya" (Yohanes 19:33, AYT).

Memukul Kaki

Kitab Injil Yohanes memberi tahu kita tentang keadaan yang tidak biasa seputar penurunan mayat dari salib pada hari Jumat itu. Sabat Paskah adalah hari berikutnya ("Sabat adalah hari besar," Yohanes 19:31, AYT). Ini menghadirkan masalah. Seperti yang dijelaskan oleh D. A. Carson,

Praktik Romawi yang normal adalah membiarkan pria dan wanita yang disalibkan di kayu salib sampai mereka mati -- dan ini bisa memakan waktu berhari-hari -- dan kemudian membiarkan tubuh mereka yang membusuk tergantung di sana untuk dimakan oleh burung nasar. Jika ada alasan untuk mempercepat kematian mereka, para prajurit akan memukul kaki korban dengan palu besi (praktik yang disebut, dalam bahasa Latin, crurifragium). Terlepas dari syok dan kehilangan darah lebih banyak, langkah ini mencegah korban mendorong dengan kakinya agar rongga dadanya tetap terbuka. Lengan kemudian segera menjadi tidak kuat, dan terjadilah asfiksia (kondisi ketika oksigen dalam tubuh berkurang yang bisa mengakibatkan penurunan kesadaran dan bahkan kematian, Red.) (Kitab Injil Menurut Yohanes, 622)

Jadi, para pemimpin Yahudilah, Yohanes mencatat, yang meminta Pilatus agar kaki mereka dipatahkan sehingga orang-orang yang mati dapat dibawa pergi sebelum hari raya (Yohanes 19:31). Para prajurit itu meremukkan kaki kedua penjahat itu, tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus, dan "melihat, bahwa Ia sudah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya" (Yohanes 19:33).

Mereka tidak mematahkan kaki-Nya. Sebaliknya, mereka menusuk lambung-Nya dengan tombak, untuk memastikan Dia sudah mati. Dan, Rasul Yohanes melihat sekilas harapan, dan kemuliaan yang luar biasa, dalam keanehan peristiwa yang mengejutkan ini. Apakah dia berani memercayai sebuah harapan, bahkan pada hari Sabtu Suci itu, atau hanya kemudian mengingat kembali pada keanehan ini, Yohanes melihat makna dalam providensia yang benar-benar tak terduga itu.

Dapatkah Anda mendengar nyanyian di kejauhan? Dalam menjaga tulang-Nya tetap utuh dan tidak patah, mungkinkah Allah sendiri yang menyenandungkan nyanyian kuno Mazmur 34, bahkan pada hari-hari tergelap ini?

Banyak penderitaan orang benar,
tetapi Tuhan melepaskan mereka dari semua itu.
Dia melindungi semua tulangnya;
tidak ada satu pun darinya yang patah. (Mazmur 34:19-20, AYT)

Tulang Terkenal

Banyak pembaca hari ini hampir tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan tulang-tulang yang tidak patah ini. Kita tidak lagi menghubungkan banyak makna simbolis pada tulang, seperti yang dilakukan orang dahulu. Kita salah menafsirkan janji Allah untuk "menjaga semua tulang-Nya," seolah-olah itu adalah janji yang menghibur bagi orang yang sudah meninggal. Akan tetapi, dalam Alkitab, tulang sering mengandung arti kiasan, tergantung pada konteksnya.

Dua kitab pertama di Kitab Suci mencakup penyebutan tulang yang signifikan, yang asing bagi telinga modern kita. Pertama, mungkin tidak ada tulang dalam Kitab Suci yang lebih terkenal daripada tulang Yusuf. Kitab Kejadian berakhir dengan Yusuf yang meminta anak-anak Israel bersumpah untuk membawa tulang-tulangnya dari Mesir ke Tanah Perjanjian ketika Allah membebaskan mereka (Kejadian 50:25). Dan ketika bangsa itu keluar, janji itu terpenuhi:

"Musa membawa tulang-tulang Yusuf bersamanya sebab Yusuf telah meminta keturunan Israel untuk bersumpah, ya, bersumpah, katanya, "Allah pasti akan datang kapadamu, dan kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini bersamamu." (Keluaran 13:19, AYT)

Kitab Yosua juga diakhiri dengan tulang-tulang Yusuf, dan menutup alur ceritanya: "Tulang-tulang Yusuf, yang dibawa orang Israel keluar dari Mesir, dikuburkan di sebidang tanah yang dibeli Yakub dari anak-anak Hemor, nenek moyang Sikhem, dengan harga seratus kesita. Tanah itu menjadi milik pusaka keturunan Yusuf" (Yosua 24:32, AYT). Dalam Perjanjian Baru, Kitab Ibrani menyatakan kepedulian Yusuf terhadap tulang-tulangnya sebagai suatu tindakan iman yang besar: "Oleh iman, Yusuf, pada akhir hidupnya, menyebut tentang keluarnya bangsa Israel dari Mesir dan memberi perintah sehubungan dengan tulang-tulangnya" (Ibrani 11:22, AYT).

Tepat sebelum tulang Yusuf disebutkan dalam Keluaran 13, orang-orang menerima instruksi tentang domba Paskah, dan tulang-tulangnya, dalam Keluaran 12: "Itu harus dimakan dalam rumah, kamu tidak boleh membawa daging itu keluar dari rumah, dan satu pun tulangnya tidak boleh kamu patahkan" (Keluaran 12:46; juga Bilangan 9:12, AYT). Tampaknya ada sesuatu yang sakral tentang tulang-tulang itu. Mengapa menambahkan instruksi ini untuk tidak mematahkan tulang domba kurban? Gambarannya belum lengkap.

Tulang-tulang Kembali Hidup

Berabad-abad kemudian, kita sampai pada Yehezkiel 37 dan melihat lembah yang penuh dengan tulang kering. Ini adalah tulang manusia -- bagian terakhir dari tubuh yang pernah hidup. Tulang-tulang yang kering melambangkan ketidakberdayaan umat Allah, tetapi bukan kehancuran total. Tidak semua telah lenyap. Sesuatu tetap ada, bahkan dalam kematian: tulang belulang. Dan, Allah menyuruh Yehezkiel untuk bernubuat, dan ketika dia melakukannya, daging kembali ke tulang, dan napas kembali ke tubuh yang dipulihkan, dan pasukan umat Allah dibangkitkan dari kematian.

Dengan kata lain, tulang yang utuh, tulang yang masih ada, tulang yang tidak patah, mewakili pengharapan kebangkitan -- bahwa Allah, pada waktu-Nya yang tepat, akan menyusun kembali tulang-tulang itu, dan memulihkan dagingnya, dan memberi napas, dan menghidupkan kembali tulang-tulang yang kering dengan kuasa kebangkitan.

Allah yang melindungi tulang orang benar dalam Mazmur 34:20 adalah janji kebangkitan. Seperti yang ditulis Derek Kidner tentang klaim menakjubkan dari ayat 19 -- bahwa Allah akan membebaskan orang benar dari semua penderitaannya -- "penegasan yang luas ini . . . mendorong pikiran untuk melihat melampaui kematian" (Mazmur 1-73, 141). Allah melindungi tulang-tulang umat-Nya, dalam kematian, untuk memulihkan mereka ke kehidupan yang baru.

Perhatikan baik-baik, janji kebangkitan bukan berarti janji tidak adanya kematian. Bahkan, janji kebangkitan mengasumsikan kematian. Anda harus mati terlebih dahulu untuk dihidupkan kembali. Mazmur 34:20 tidak menjanjikan orang benar tidak akan menderita secara jasmani, dan bahkan menderita sampai mati. Namun, itu memang menjanjikan bahwa Allah akan membangkitkan dia. Allah akan menyatukannya kembali dan memberinya daging dan napas lagi. Dan, kesengsaraan, bahkan jika itu membunuhnya, tidak akan mengalahkan orang benar pada akhirnya. Yang tidak hanya benar secara kiasan untuk Yesus, tetapi secara harfiah. Dan, sinar pengharapan kebangkitan yang pertama itu.

Tidak Satu pun Tulang yang Patah

Alasan Yusuf peduli dengan tulang-tulangnya adalah karena dia percaya Allah akan membangkitkannya kembali secara fisik suatu hari nanti. Dan, alasan Allah memerintahkan umat-Nya untuk tidak mematahkan tulang anak domba Paskah adalah karena suatu hari Allah akan membangkitkan kembali Anak Domba Paskah yang sejati setelah Ia menyerahkan diri-Nya untuk disembelih bagi umat-Nya. Demikianlah Yohanes 19:36 (AYT) mencatat,

Hal-hal ini terjadi agar Kitab Suci dapat digenapi: "Tidak satu pun dari tulang-Nya yang akan dipatahkan."

Allah melindungi tulang-tulang umat-Nya, dalam kematian, untuk memulihkan mereka ke kehidupan yang baru.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Ketika kita melihat makna yang dalam ini dalam tulang yang tidak patah, kita datang bersama Yohanes ke saat-saat tergelap dan paling mengerikan itu, dengan tubuh Mesias yang tak bernyawa dipaku di kayu salib, dan kita menemukan secercah pengharapan pertama yang tak terduga. Mereka tidak mematahkan kaki-Nya. Prajurit dengan palu besi berhenti, melihat Dia sudah mati. Dia yang dengan tombak menusuk lambung-Nya dan mengkonfirmasi kematian-Nya -- dan tulang-tulang Kristus tetap tidak patah, utuh, dilindungi dalam pemeliharaan Bapa-Nya, yang akan menyatukannya kembali dan membangkitkan Dia. Itu hanyalah masalah waktu.

Yesus akan bangkit. Dia tidak akan tetap mati. Selama Sabtu Suci mungkin, tulang-tulang yang tidak patah ini adalah titik baliknya. Inilah ajakan kepada murid-murid-Nya untuk berani berharap, bahkan saat mereka menyeka air mata dari mata mereka. Allah mengawasi orang benar ini, dan kematian yang tidak pantas dia terima. Dan, Allah telah melindungi tulang-tulang-Nya. Dia akan membangkitkan mereka. Dan, di dalam Kristus, Dia akan membangkitkan tulang-tulang kita juga (Efesus 2:5-6).

Hari Tergelap, Terang Terbesar

Sebagai umat perjanjian Allah di dalam Kristus, kita tidak berpura-pura menjadi kebal terhadap ketakutan, masalah, penderitaan, dan bahkan kematian. Namun, pada saat-saat yang paling sulit, dan bahkan dalam kematian itu sendiri, Allah kita menjaga pengharapan tetap hidup. Di dalam Kristus, Dia menjanjikan kebangkitan di sisi lain. Dan, Dia akan membebaskan umat-Nya, bukan pada waktu yang kita pilih, tetapi pada waktu-Nya. Terkadang, itu hanya satu hari lagi.

Jika saja kita tahu jauh di lubuk hati kita -- di tengah-tengah penderitaan kita, betapa pun beratnya -- betapa besar penyelamatan yang kita peroleh, betapa lebih siapnya kita untuk menanggung pencobaan sesaat kita, termasuk hari-hari yang tergelap dan terlama. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/they-did-not-break-his-legs
Judul asli artikel : "They Did Not Break His Legs" -- Daring to Hope on Holy Saturday
Penulis artikel : David Mathis