Mengapa Yesus Harus Mati Disalib?




 Bahan Paskah lainnya dapat diakses di:live.sabda.org

Penyaliban muncul dalam film-film berikut ini yang menggambarkan tentang Kristus atau orang-orang yang mengalami kematian mengerikan pada zaman Kristus: "The Robe", "King of Kings", "Quo Vadis?", "Spartacus", dan "Ben Hur". Film-film ini tidak pernah cukup dekat menggambarkan ngerinya penyaliban. Penggambaran modern terhadap hukuman mati tersebut tampak manusiawi, bahkan nyaris lembut, jika dibandingkan dengan yang sebenarnya.

Produsen film biasanya menggambarkan "salib" sebagai implemen berbentuk huruf T. Selama bertahun-tahun, Gereja Tuhan telah sering menulis tentang "Salib", sering kali untuk mendebat apakah Yesus mati di atas salib tradisional atau di atas pancang atau tiang tegak di tanah. Beberapa orang di gereja Tuhan bahkan tidak mau mengucapkan kata "salib", tetapi menggantinya dengan kata "pancang" (Ing. "stake") atau "tiang" (Ing. "tree"). Barangkali kita terlalu berfokus pada data karena berusaha memberi jarak antara Juru Selamat kita dengan simbol atau bentuk pagan apa pun. Mungkin kita mulai kehilangan pandangan terhadap gambaran yang lebih besar: bahwa Juru Selamat kita harus mati bagi kita.

Gambar: Kristus disalib

Alkitab kita dalam terjemahan bahasa Indonesia mengatakan bahwa Dia mati di atas "salib". Kata asli dalam bahasa Yunani yang digunakan di sini adalah stauros. Ketika menyelidiki topik ini, kami mendapati bahwa beberapa ahli mencatat bahwa sebuah stauros hanyalah sebuah pasak, tiang, atau tonggak tempat korbannya dipakukan, diikat, atau ditusukkan. Konkordansi Strong (#4716) mengartikan kata itu sebagai "sebuah pasak atau tonggak ... sebuah tiang atau salib." Vine's Expository Dictionary mengambil pendapat yang lebih kuat bahwa "salib" tempat orang Romawi menyalibkan Yesus tidaklah seperti salib pada masa kini, melainkan sekadar tiang yang lurus. Beberapa kamus Alkitab mengambil kedua sisi tersebut -- bahwa "salib" aslinya merupakan sebuah tiang lurus, dan batang kayu melintang ditambahkan kemudian, lalu mereka memberikan bukti-bukti yang mendukungnya. Bentuk persisnya tidakkah penting. Sebuah tiang dengan atau tanpa batang kayu melintang digunakan dalam simbolisme pagan. Apakah menara gereja akan sedikit lebih tidak pagan karena tidak memiliki batang kayu melintang padanya? Itu tetaplah simbol falus.

Tidak diragukan lagi, "salib" yang kita ketahui pada masa kini tampak sangat mirip dengan simbol yang dahulu digunakan oleh para penyembah Tammuz. Merupakan hal yang sama pastinya bahwa kita tidak seharusnya menggunakan "salib" sebagai bagian dari ibadah. (Lihat artikel cetakan ulang kami, "The Cross: Christian Banner or Pagan Relic" ("Salib: Panji Kristen atau Relik Pagan" -- Red.), Mei, 1996; lihat juga artikel tulisan Vine berjudul "cross, crucify" ("salib, menyalibkan" -- Red.).)

Masalah yang Lebih Besar

Akan tetapi, kita tidak boleh melupakan masalah yang lebih besar: Juru Selamat kita menjalani kematian yang mengerikan di atas stauros atau "salib". Bagi saya. Bagi Anda.

Bangsa Romawi menciptakan bentuk seni penyaliban sebagai alat untuk hukuman mati setelah meminjam idenya dari Bangsa Yunani dan Fenisia. Bangsa Babel, Persia, dan Asyur juga menggunakan berbagai bentuk penyaliban, termasuk penusukan. Orang Yahudi menganggapnya sebagai bentuk kematian paling hina. Kematian dengan cara itu penuh darah dan sangat menyakitkan, sering kali berlangsung hingga berhari-hari. Warga Romawi biasanya dibebaskan dari penyaliban; mereka dipenggal untuk pelanggaran-pelanggaran yang layak dijatuhi hukuman mati.

Pada zaman Yesus, penyaliban dianggap begitu mengerikan sehingga hukuman itu diperuntukkan bagi hamba dan para penjahat terburuk atau musuh negara. Kematian biasanya terjadi setelah berhari-hari, kecuali korbannya sudah dipukuli atau dicambuk dengan parah terlebih dahulu, yang sering kali memang demikian. Untuk memaksimalkan dampaknya, penyaliban sering kali dilakukan di sepanjang jalan raya umum atau wilayah-wilayah yang sangat terlihat, sebagai pelajaran bagi semua orang yang menjadi musuh negara atau orang-orang yang sulit diperbaiki.

Bangsa Romawi biasanya meninggalkan jasad orang yang disalibkan untuk membusuk atau dimakan oleh pemakan bangkai. Sudah dipastikan bahwa Yesus pernah melihat mayat-mayat bekas banyak penyaliban saat Dia bepergian di sekitar Galilea dan Yudea. Dia tahu bahwa kelak Dia akan mengalaminya sendiri.

Mengapa Yesus harus mati dengan cara demikian? Tidak adakah cara yang lebih manusiawi bagi-Nya untuk mati untuk menebus dosa kita? Seandainya Dia adalah manusia biasa, pertanyaan semacam itu mungkin relevan, tetapi untuk menjadi Juru Selamat kita, Dia harus mati dengan cara semacam itu. Bapa telah merencanakan secara khusus untuk hukuman mati jenis ini, karena itu dengan sempurna menggambarkan begitu banyak hal yang perlu bagi pemahaman penuh atas dosa dan kengeriannya.

Kematian oleh Penjatuhan Hukuman Mati

Pada masa kini, kita menghukum mati penjahat dengan berbagai cara: suntikan mematikan, gas, baris penembak, penggantungan, atau kursi listrik. Pada zaman Yesus, orang Romawi lebih memilih penyaliban.

Faktor utama dalam kematian Yesus adalah bahwa kematian itu bersifat menggantikan. Untuk setiap dosa yang kita perbuat, kita memperoleh hukuman mati. Hukuman ini tidak dapat dilunasi dengan mati alami karena usia senja, karena kecelakaan, atau karena penyakit, sebab inilah cara setiap orang mati sebagaimana mestinya. Ibrani 9:27 (AYT) berkata, "Seperti manusia, yang ditentukan untuk mati satu kali saja ...." Jika "sekadar" mati dengan cara biasa dapat menjadi pelunasan untuk dosa, para penyembah berhala, pembunuh, pemerkosa, pencuri, pembohong, pezina, dan para pendosa lainnya akan sepenuhnya dibebaskan dari dosa mereka saat mereka mati. Dengan dibebaskan dari segala rasa bersalah melalui kematian, mereka secara legal memenuhi kualifikasi untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Akan tetapi, kita harus mengingat ayat 27 selebihnya: "... dan sesudah itu menghadap penghakiman." Ini berarti bahwa hukuman untuk dosa itu lebih dari "sekadar" kematian. Ayat 22 menolong untuk mengklarifikasi hal ini: "... tanpa adanya penumpahan darah, tidak akan ada pengampunan." Dosa tidak dapat diampuni sebelum seseorang mencurahkan darahnya untuk menutupi pelanggaran tersebut. Maka dari itu, hukuman atas dosa adalah kematian oleh penjatuhan hukuman mati.

Jadi, sebagai kurban pengganti, Yesus harus mati dengan cara sebagaimana seharusnya kita alami, yaitu dengan penjatuhan hukuman mati. Dia tidak dapat melunasi hukuman atas dosa-dosa kita dengan mengalami kematian dengan cara lain selain itu. Dia tidak dapat mati dengan bunuh diri ataupun dengan "euthanasia", sebab bentuk-bentuk kematian semacam ini merupakan dosa sehingga mendiskualifikasi-Nya sebagai Juru Selamat. Jika demikian, Dia akan perlu mati bagi dosa-Nya sendiri.

Ingat juga bahwa kematian Yesus merupakan akibat dari pernyataan Pilatus, saat dia menyerahkan Yesus "untuk disalibkan" (Yohanes 19:13-16; Matius 27:26). Meski Pilatus secara literal mencuci tangan dari seluruh perkara tersebut dengan berkata, "Aku tidak bersalah atas darah Orang ini. Itu urusanmu sendiri!" (Matius 27:24, AYT), dialah yang mengambil keputusan dan menjatuhi-Nya hukuman mati.

Tentu saja, Yesus tidak bersalah atas kejahatan atau dosa apa pun. Dosa kita yang membawa hukuman mati atas diri kita. Saat memikul hukuman tersebut pada diri-Nya, Yesus harus mati dengan dijatuhi hukuman mati, dan penyaliban merupakan cara yang lebih dipilih oleh bangsa Romawi.

Rasa Malu Akibat Penyaliban

Allah juga mengizinkan Anak-Nya menderita penyaliban karena itu merupakan cara mati yang sangat memalukan. Itu adalah kematian para penjahat dan orang yang tidak dapat diperbaiki, yaitu bagi mereka yang dianggap "sampah dunia". Tidak seorang pun pada zaman Yesus yang akan berbangga bahwa pamannya telah disalibkan, seperti halnya kita tidak akan berbangga terhadap seorang kerabat yang dijatuhi hukuman mati dengan kursi listrik. Lebih buruknya lagi, Yesus disalibkan di antara dua penjahat (Matius 27:38). Orang-orang biasa yang sekadar lewat akan menghakimi bahwa Yesus bersalah karena asosiasi tersebut.

Mengapa dan bagaimana rasa malu terlibat? Mengapa Yesus harus mengalami kematian yang memalukan? Dosa itu memalukan. Yesus mengalami kematian yang memalukan untuk menggambarkan rasa malu yang dibawa oleh dosa-dosa kita. Adalah memalukan untuk dikenal sebagai pencuri, seorang cabul, pezina, pembohong, atau pembunuh. Pastilah memalukan dikenal sebagai pezina atau seorang yang menyia-nyiakan nama Tuhan, melanggar hari Sabat atau tidak menghormati orang tua. Dosa tidak membuat kita terlihat baik ataupun membuat keluarga kita bangga terhadap kita. Dosa itu memalukan. Seharusnya kita malu terhadap dosa!

Penyaliban itu memalukan bukan hanya sebagai hukuman mati, tetapi juga sebagai suatu proses. Dalam banyak kasus, korban penyaliban dibuat telanjang bulat -- hanya diizinkan memakai sedikit kain atau tidak sama sekali. Alkitab dalam banyak bagian mendiskusikan rasa malu dari ketelanjangan (Yesaya 47:3; Wahyu 3:18; 16:15). Bayangkan menjadi seorang yang tidak berdosa, yang tidak melakukan kejahatan atau dosa apa pun, tetapi dipertontonkan dengan telanjang kepada semua orang yang lewat. Sebagai pribadi yang rendah hati, Yesus merasa malu dipertontonkan kepada ibu-Nya dan para wanita lainnya, Rasul Yohanes, dan banyak penonton lainnya, baik laki-laki maupun perempuan. Betapa besarnya penghinaan yang ditanggung oleh Juru Selamat kita bagi kita!

Tema "rasa malu karena salib" didiskusikan dalam Kitab Suci. Perhatikan dua ayat dalam kitab Ibrani berikut.

... tertuju pada Yesus, Sang Pencipta dan Penyempurna iman kita, yang demi sukacita yang telah ditetapkan bagi-Nya, rela menanggung salib dan mengabaikan kehinaan salib itu. Dan, sekarang, Ia duduk di sebelah kanan takhta Allah. (12:2, AYT)

Jika mereka meninggalkan jalan Kristus, maka mustahil untuk memperbarui kembali pertobatan mereka karena mereka sedang menyalibkan Anak Allah untuk yang kedua kalinya dan mempermalukan-Nya secara terbuka. (6:6, AYT)

Kesakitan Akibat Penyaliban

Gambar: Kristus disalib

Yesus juga harus mengalami kematian yang luar biasa menyakitkan. Mengapa? Untuk menggambarkan rasa sakit mengerikan yang disebabkan oleh dosa. Jika Yesus mengalami kematian yang tidak menyakitkan, itu tidak akan selaras dengan tujuan Allah. Penggambarannya akan menjadi tidak lengkap.

Penjahat mana pun pada zaman itu akan putus harapan saat tahu bahwa dia akan disalibkan. Penyaliban bukan hanya penjatuhan hukuman mati, tetapi juga suatu metode penyiksaan. Bangsa Romawi biasanya menyiksa berat korbannya terlebih dahulu. Yesus tidak terkecuali. Sebelum Dia menyentuh salib-Nya, Dia disiksa, dipukuli, dan dihina.

Selama bertahun-tahun, kita mendengar sedikit tentang para liktor Romawi, yaitu prajurit yang ditugaskan untuk melaksanakan hukuman yang ditakuti ini. Dia menggunakan cambuk, sering kali dengan potongan logam, tulang, ataupun objek tajam lainnya tertanam pada cambuk tersebut. Bangsa Romawi tidak membatasi para liktor mereka dengan praktik "Empat puluh kali harus orang itu dipukuli, jangan lebih" dari bangsa Israel dan tidak pula hanya mencambuk punggung seseorang. Dia akan membiarkan cambuknya menyerang dan melilit setiap inci tubuh seseorang sampai dia sekarat.

Nabi Yesaya menubuatkan tentang bagaimana penampilan Yesus setelah disiksa: "Sama seperti banyak orang takjub kepadamu, penampilannya begitu rusak sehingga tidak seperti manusia lagi dan sosoknya tidak seperti anak manusia lagi" (Yesaya 52:14, AYT). Dia lebih lanjut mengatakan bahwa Yesus "ditikam karena pelanggaran-pelanggaran kita. Dia diremukkan karena kejahatan-kejahatan kita" (53:5, AYT). Tidak heran jika Rasul Paulus menulis dalam Filipi 2:8 (AYT), "Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia merendahkan diri-Nya dengan taat sampai mati, bahkan mati di atas kayu salib."

Bayangkan jika Anda berada di posisi Kristus, dengan kulit Anda terkelupas sehingga Anda dapat menghitung semua tulang Anda. Tambahkan itu dengan rasa sakit yang membakar dari paku besar yang ditancapkan pada tangan dan pergelangan kaki saat para prajurit memakukan Anda pada tiang salib. Sekarang, tambahkan lagi dengan rasa sakit emosional karena disangkal dan ditinggalkan oleh semua teman Anda. Bersyukur kepada Allah untuk banyak perempuan yang berdiri di dekat Yesus pada momen mengerikan tersebut -- Maria, ibu-Nya, Maria Magdalena, dan para perempuan lainnya (Matius 27:55-56). Lebih dari semuanya itu, Dia harus menanggung ejekan dan cemooh dari orang-orang yang untuk merekalah Dia mati.

Kemudian, Yesus mengalami kengerian lain untuk pertama kalinya: ditinggalkan oleh Allah di Surga. Allah melimpahkan seluruh dosa dunia yang menjijikkan kepada Yesus dan harus memalingkan muka terhadap Dia yang telah menjadi dosa bagi kita (Yesaya 53:6, 10-12; 1 Petrus 2:24). Betapa menyedihkannya mendengar Yesus berseru, "'Eli, Eli, lama sabakhtani?' Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46-47). Pada titik ini, Yesus tahu seperti apa rasanya terpisah dari Allah karena dosa.

Rasa sakitnya menjadi begitu hebat sehingga saat Yesus mengatakan bahwa Dia haus, para prajurit Romawi di kaki salib-Nya menawarkan "anggur asam" atau anggur asam bercampur mur sebagai penawar nyeri (Yohanes 19:28-29; Markus 15:23). Yesus menolaknya karena tahu bahwa Dia harus menderita rasa sakit itu sebagai bagian dari gambaran tentang dampak dosa bagi kehidupan kita: ia menyebabkan banyak rasa sakit yang mengerikan!

Setelah beberapa waktu di atas salib, orang yang dihukum akan sulit bernapas. Dia dapat sedikit menolong dirinya sendiri dengan menyokong tubuhnya ke depan dengan kaki dan lututnya, tetapi saat dia tidak dapat melakukannya lagi, dia akan mati perlahan karena sesak napas. Untuk mempercepat kematian, para algojo Romawi terkadang akan mematahkan kaki korban dengan sebuah gada -- yang mereka lakukan terhadap kedua penjahat di samping Yesus (Yohanes 19:31-32). Saat mereka tiba pada Yesus, mereka mendapati bahwa Dia sudah mati sehingga mereka tidak mematahkan satu pun dari tulang-Nya (ayat 33; Mazmur 34:20).

Yesus tidak mati karena gagal jantung, seperti yang diyakini oleh orang Protestan. Dia mati karena mengalami pendarahan dari begitu banyaknya luka karena penyiksaan, paku yang menembus tubuhnya, dan luka menganga akibat tusukan tombak di lambung-Nya, yang darinya mengalir air dan darah. Dia benar-benar mencurahkan darah-Nya bagaikan air untuk menutupi dosa-dosa kita (Mazmur 22:14; Efesus 1:7; 1 Yohanes 1:7).

Yesus berkata, "Sudah selesai" (Yohanes 19:30), lalu akhirnya kepada Bapa, yang memberikan-Nya kepada kita karena Dia sangat mengasihi kita, Juru Selamat kita berdoa, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Lukas 23:46, AYT). Jadi, Yesus mati dengan cukup percaya diri bahwa Dia telah menyelesaikan tugas yang ditugaskan oleh Bapa-Nya saat Bapa-Nya mengutus Dia.

Menghargai Penyaliban

Jadi, Yesus mati, tetapi kematian-Nya bukan kematian biasa. Dia mengalami kematian seorang penjahat yang dihukum, dibunuh oleh penjatuhan hukuman mati dalam cara yang paling menyakitkan sekaligus paling memalukan yang dapat dirancangkan oleh manusia. Dia harus mati dengan cara ini untuk mengingatkan kita bahwa dosa tidaklah tanpa rasa sakit. Dosa tidaklah tanpa rasa malu. Dosa tidaklah terus tersembunyi di suatu sudut.

Penyaliban menunjukkan kengerian, keburukan dan rasa malu yang menjijikkan, beratnya, dan penderitaan yang disebabkan oleh dosa. Segala dosa. Setiap dosa. Bahkan dosa "kecil" sekalipun. Bahkan dosa "rahasia" sekalipun. Dosa Anda. Dosa saya. Semuanya.

Mudah untuk berbuat dosa dan berpikir, "Saya dapat bertobat nanti." Ini hampir seperti menyepelekan penyaliban sambil menempatkan Yesus pada rasa malu, rasa sakit, dan kematian yang perlahan dan mengerikan. Mari lebih lagi memahami dan menghargai apa yang telah Dia lakukan bagi kita. Barangkali itu akan menolong kita lebih waspada terhadap dosa dan makin bertekad untuk menolaknya!

Pada saat ujung tombak Romawi yang tajam menembus lambung Yesus hingga terbuka, tirai dalam Bait Allah terbelah dua (Matius 27:50-51). Yesus, Imam Besar kita, membuka jalan bagi kita semua -- kapan pun kita mau -- untuk masuk ke dalam Ruang Mahakudus, hadirat Bapa itu sendiri. Panglima keselamatan kita telah memberi kita akses ini dengan tubuh-Nya yang terkoyak dan darah-Nya yang tertumpah untuk membersihkan kita dari segala dosa (Ibrani 10:19-22). Salib menjadi simbol dari apa yang telah Dia lakukan bagi kita: mati menggantikan kita supaya kita dapat diampuni dari segala dosa.

Penyaliban menunjukkan kengerian, keburukan dan rasa malu yang menjijikkan, beratnya, dan penderitaan yang disebabkan oleh dosa.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Setelah kebangkitan-Nya, saat Maria Magdalena hampir memeluk-Nya (Yohanes 20:17), Yesus mengatakan perkataan yang sangat bermakna: "Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." Wah! Karena apa yang sudah Dia lakukan, pernyataan ini menjadi mungkin. Sekarang kita memiliki Bapa yang sama yang dimiliki Yesus! Dan, kita mendapatkan seorang Saudara yang hebat -- Yesus Kristus!

Saat kita minum anggur dan makan roti yang sudah dipecah-pecahkan pada Paskah ini, mari memuji Allah dengan bersyukur karena telah memberikan Anak-Nya kepada kita, dan bersyukurlah kepada Yesus yang telah bersedia untuk taat memberikan diri-Nya menggantikan kita. Sekarang kita dapat lebih menghargai lagi perihal mengapa Dia harus disalibkan.

Apakah Yesus Ditikam Sebelum atau Setelah Dia Mati?

Studi yang tekun tentang penangkapan, pengadilan, dan penyaliban Yesus Kristus dapat mengarah ke sederet pertanyaan, khususnya tentang kapan terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut. Salah satu pertanyaan yang pasti akan muncul berkaitan dengan prajurit Romawi yang "menusukkan tombaknya ke lambung Yesus" (Yohanes 19:34). Apakah ini terjadi sebelum atau setelah kematian-Nya? Pembacaan sederhana terhadap catatan-catatan Injil tampaknya menjawab pertanyaan ini secara meyakinkan. Ketiga Injil sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) tidak menyinggung peristiwa ini, sementara Yesus menyebutkan bahwa itu terjadi setelah Yesus "menyerahkan nyawa-Nya" (Yohanes 19:30). Di manakah kontroversinya?

Perdebatan muncul dari sebagian ayat yang bahkan tidak terdapat dalam versi King James atau banyak terjemahan Alkitab lainnya. Meski terdapat dalam beberapa manuskrip tertua, beberapa kata tidak dicantumkan dalam Matius 27:49: "Seorang lain mengambil tombak, lalu menusukkannya ke lambung-Nya, dan mengalirlah air dan darah" (Ing. "And another took a spear, and thrust it into His side, and out came water and blood."). Terjemahan Moffatt dan Fenton terhitung di antara beberapa terjemahan yang menyertakan materi tambahan ini.

Yang menjadikannya kontroversial adalah tempat kata-kata ini muncul: persis sebelum Yesus "menyerahkan nyawa-Nya" (ayat 50). Manakah yang benar?

Keduanya benar! Masalahnya terdapat dalam terjemahan dari Yohanes 19:34, ayat yang muncul dalam konteks setelah kematian Yesus: "Namun, salah seorang prajurit itu menusukkan tombaknya ke lambung Yesus, dan seketika itu juga, darah dan air mengalir keluar." Jadi, kapankah penusukan tombak itu terjadi, sebelum atau setelah Yesus mati?

Yang bertanggung jawab atas perdebatan ini adalah kala (Ing. "tense") umum dalam bahasa Yunani yang disebut aoristus. Spiros Zodhiates, dalam "The Complete Word Study New Testament" ("Studi Kata Lengkap Perjanjian Baru" -- Red.), menjelaskan:

Kala Aoristus digunakan untuk tindakan yang sederhana dan tidak didefinisikan. Dalam suasana indikatif, kala aoristus dapat mengindikasikan tindakan yang tepat waktu (tindakan yang terjadi pada momen waktu spesifik) pada masa lampau .... Dengan beberapa pengecualian, kapan pun kala aoristus digunakan dalam suasana lain selain indikatif, kata kerja tersebut tidak memiliki signifikansi temporal. Dengan perkataan lain, kata kerja tersebut hanya merujuk pada realitas suatu peristiwa atau tindakan, bukan pada waktu ketika peristiwa atau tindakan itu terjadi. (Penekanan oleh kami.)

Akan tetapi, penerjemah modern sering kali membuat kala aoristus menjadi kalimat sederhana bentuk lampau dalam bahasa Inggris. Perlu diakui, sebagian besar waktu, hal ini benar, tetapi dalam Yohanes 19:34, kemungkinan itu adalah kesalahan. Rasul Yohanes sedang menjelaskan suatu peristiwa yang dia saksikan, lalu memberikannya sebagai bukti bahwa Yesus telah menggenapi nubuat dalam Mazmur 34:20 dan Zakharia 12:10. Karena lebih peduli dengan membuat poin teologis, dia tidak terlalu peduli dengan kapan peristiwa itu terjadi secara persisnya, hanya bahwa peristiwa itu benar-benar telah terjadi, menggenapi nubuat-nubuat tersebut.

Karena itu, bagian yang hilang dari Matius 27:49 memberikan keterangan waktunya: Prajurit tersebut menusukkan tombaknya ke lambung Yesus sebelum Dia mati. Maka dari itu, terjemahan yang lebih akurat terhadap Yohanes 19:34 kurang lebih, "Namun, salah seorang prajurit itu telah menusukkan tombaknya ke lambung Yesus, dan seketika itu juga, darah dan air mengalir keluar."

Mengapa menurut kami ini benar?

1. Matius 27:50 mencatat bahwa Yesus tiba-tiba, "berseru sekali lagi dengan suara keras", lalu mati. Tusukan tombak itu, yang bertindak sebagai tindakan untuk mengakhiri penderitaan, secara sederhana menjelaskan seruan-Nya yang penuh rasa sakit dan kematian-Nya yang cepat.

2. Jasad orang mati tidak dapat berdarah. Para dokter secara rumit mencoba menjelaskan bagaimana "air dan darah" dapat mengalir keluar dari jasad orang mati dengan mengatakan bahwa "dalam kasus yang langka", hal semacam itu bisa saja terjadi. Namun, jika tusukan tombak itu terjadi sebelum kematian, penjelasan semacam itu tidak diperlukan.

Yesus ditusuk sebelum Dia mati. (t/Odysius)

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Church of the Great God
Alamat situs : https://cgg.org/index.cfm/library/article/id/360/jesus-die-crucifixion.htm
Judul asli artikel : Why Did Jesus Have to Die by Crucifixion?
Penulis artikel : Tidak dicantumkan