Bahkan Jika Itu Berarti Salib

 Bahan Paskah lainnya dapat diakses di:live.sabda.org

Yesus berkata kepada mereka semua, “Jika seseorang ingin mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya sendiri, dan memikul salibnya setiap hari, dan mengikuti Aku. Sebab, siapa pun yang berusaha menyelamatkan nyawanya, akan kehilangan nyawanya. Akan tetapi, barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apakah untungnya jika seseorang mendapatkan seluruh dunia, tetapi mati atau kehilangan nyawanya sendiri? (Lukas 9:23-25, AYT)

Kita ingin memiliki "Yesus Tinkerbell" -- Yesus yang dapat menyelesaikan semua masalah dalam kehidupan pribadi kita, kemudian ketika kita mati pada usia lanjut dalam tidur kita, (Ia) dapat menaburi debu peri pada diri kita sehingga kita dapat terbang pulang kepada Allah dan menerima upah kekal kita

Kita benar-benar tidak suka mengakui kebenaran ini, tentu saja, setidaknya tidak pada istilah yang mentah dan apa adanya itu. Namun, jika kita benar-benar jujur dengan harapan kita, itulah apa yang benar-benar kita inginkan. Kita tidak mau harus bertumbuh dan menemukan iman yang menopang kita melalui masa-masa sulit karena kita hidup dalam dunia yang rusak di mana dosa dan hal-hal buruk terjadi pada orang yang sangat baik. Kita senang bahwa Yesus adalah Juru Selamat, Penebus, dan Teman kita -- dan Ia berperan dalam hal-hal tersebut dan banyak lagi! Kita hanya memiliki masalah dengan bagian "Yesus adalah Tuhan" itu, ketika Salib menjadi tujuan-Nya dan bisa saja itu menjadi tujuan dari diri kita sendiri!

Kita tidak sendirian. Bahkan pengikut terdekat Yesus pun pada hari-hari pelayanan-Nya di bumi, tidak akan mendengar pesannya tentang salib sebelum hal itu terjadi. Meskipun Yesus memperingatkan mereka tiga kali dalam bahasa yang jelas, kebanyakan dari mereka tidak memahaminya. Tentu, ada yang merasa takut pada apa yang akan terjadi di Yerusalem dalam perjalanan terakhir itu. Beberapa bahkan menyadari bahwa terdapat bahaya dan kematian yang mungkin bersembunyi. Bagaimana pun, sesuatu mengatakan kepada kita bahwa mereka benar-benar tidak percaya bahwa Yesus akan membiarkan hal itu terjadi.

Saat Yesus berpindah semakin dekat untuk memasuki Kota Suci itu untuk terakhir kalinya, mereka malah berebut posisi. Beberapa ingin berada di sebelah kanan dan sebelah kiri-Nya saat Ia merebut kekuasaan. Kerumunan orang, yang menyambutnya dengan daun palem dan sorakan kemenangan, mengharapkan Kerajaan Allah untuk menghancurkan musuh setiap saat. Yesus bahkan tampaknya telah menyulut api antisipasi dan konflik ketika Ia memasuki Bait Suci, mengusir keluar para penukar uang, menantang para ulama agama, dan membuat kehadirannya dikenal jelas.

Salib memanggil kita kepada kehidupan Yesus.

Tak satu pun dari pengikut Yesus menduga bahwa sorakan kemenangan dari massa akan berubah menjadi seruan untuk menyalibkan-Nya pada akhir minggu. Tak satu pun yang menduga bahwa salah satu pengikut terdekat Yesus akan mengkhianati-Nya atau bahwa pengikut-Nya yang paling vokal akan menyangkal, dengan mengutuk, bahwa ia pernah mengenal Yesus. Tak satu pun yang menduga bahwa pengikut-pengikut-Nya yang lain akan lari dan bersembunyi di dalam ruangan di mana mereka baru saja melakukan Perjamuan Terakhir bersama Tuhan mereka yang mereka percaya sebagai Mesias Israel.

Jadi, tidak mengejutkan bagi saya sekarang ini jika orang ingin mendengar suara dari para pengkhotbah "Yesus Tinkerbell" yang menjanjikan segala sesuatu yang baik, tanpa ada yang buruk. Itu adalah kekristenan dengan standar yang menurun tanpa salib, Paskah yang kosong tanpa penderitaan, dan janji Juru Selamat tanpa kebutuhan untuk mengikut Tuhan.

Kata-kata pengingatan Dietrich Bonhoeffer tentang firman Yesus dan teladan Yesus untuk pengorbanan tampak seolah tenggelam sekarang ini sama seperti dahulu ketika pada zamannya sendiri -- ketika derap Nazi turun ke Jerman dan banyak pemimpin agama yang menyerah terhadap rencana Hitler. Bonhoeffer mengatakan, "Ketika Yesus memanggil seseorang, ia memanggilnya untuk datang dan mati." Ah! Bukan pesan yang populer di era apapun. Kata-kata Bonhoeffer lebih dari sekedar kata-kata: ia membuktikan bahwa ia mendengar panggilan Salib dalam banyak cara, termasuk kematian syahidnya sendiri di tangan Nazi.

Salib, dalam masa Yesus, adalah tongkat penyiksaan yang mengerikan yang digunakan oleh orang Romawi kuno untuk mempermalukan, melukai, dan membunuh melalui penghinaan, semuanya demi nama keadilan preventif. Salib Yesus, salib yang nyata dan mengerikan -- bukan perlambang yang menjadi bagian dari perhiasan atau simbol yang baik -- memperluas bayangannya selama minggu ini dan dalam kehidupan kita karena Paskah yang akan berlangsung pada akhir pekan mendatang. Salib tersebut mengingatkan kita bahwa tanpa mati bersama Yesus dan berbagi penderitaan pada Salib-Nya, tidak ada kebangkitan dalam kehidupan Yesus.

Jadi sembari kita berjalan menuju sukacita, kemenangan, dan jaminan pada hari Minggu yang akan datang ini, janganlah kita melewatkan Salib yang membuat kebangkitan begitu kuat, mengejutkan, dan mengubah hidup. Seperti Mel Gibson dalam film "The Passion of the Christ" yang secara visual begitu mengingatkan kita, ada harga yang mengerikan yang dibayar oleh Allah untuk menebus kita dan membawa kita kepada harapan yang mulia. Sebagaimana kata-kata Yesus kepada para pengikut-Nya mengingatkan kita, tidak ada jalan pintas bagi kita untuk memutari Salib dan tidak ada ruang bagi orang-orang Kristen yang menolak untuk bertumbuh, yang ingin berpegang teguh pada seorang Yesus Tinkerbell dan bukannya Anak Domba yang disembelih itu yang juga merupakan Singa dari suku Yehuda.

Lebih dari apa pun, gereja-gereja Barat perlu mengingat bahwa bayangan salib memanggil kita kepada kehidupan Yesus, pengorbanan Yesus, dan integritas untuk berdiri bagi hal-hal yang diabaikan oleh orang lain... tidak peduli apa pun resikonya bagi kita secara pribadi. Hanya ketika itulah Kebangkitan Minggu dini hari akan merekah dengan harapan untuk mengubah dunia oleh kuasa kasih karunia Allah dan kasih Yesus.

Apakah Anda pikir kebanyakan orang Kristen di dunia Barat benar-benar hanya menginginkan "Yesus Tinkerbell" atau apakah itu merupakan dakwaan yang terlalu keras?
Apakah Anda berpendapat bahwa kita benar-benar "memahami" arti Salib?
Apakah Anda berpendapat bahwa kita benar-benar hanya menginginkan sisi Juru Selamat Yesus dan bukan pada sisi Yesus Tuhan yang memanggil kita untuk mengikuti-Nya berapa pun harganya? (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Heart Light
Alamat URL : http://www.heartlight.org/articles/200704/20070402_cross.html
Judul artikel : Even if It Means a Cross
Penulis artikel : Phil Ware
Tanggal akses : 14 Januari 2016