6 Hal yang Bukan Merupakan Tujuan dari Kematian Yesus

Hentikan kesalahpahaman tujuan Penyaliban.

Di Yudea lebih dari 2.000 tahun yang lalu, dunia menjadi saksi dari satu tindakan paling mengerikan dalam sejarah manusia dan keajaiban paling luar biasa dalam 72 jam. Pria dan wanita di Yerusalem menyaksikan, bahkan jika mereka tidak mengetahuinya, ketika manusia menyakiti Allah sendiri dan memakukan Dia di kayu salib. Tiga hari kemudian, para wanita melihat bahwa Dia telah bangkit kembali. Dengan melakukannya, Dia menyelamatkan kita semua dari dosa dan Setan. Dia menghadapi salah satu kematian paling menyiksa yang pernah ada bagi kita, bagi orang berdosa, bagi mereka yang membunuh Dia. Ketika Dia disalibkan, kematian Yesus membuat Kerajaan Allah tersedia lagi bagi anak-anak-Nya. Untuk sekali lagi memulihkan bagi mereka kehidupan bersama Allah yang telah hilang, Kristus disalibkan dan mati dengan sukarela. Akan tetapi, orang Kristen terkadang lupa persisnya mengapa Yesus mati. Mukjizat itu mencakup segalanya sehingga kita percaya itu mencakup hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan penyaliban Yesus, tetapi kami kita tidak dapat memaksakan keinginan yang sering kali sangat mementingkan diri sendiri sebagai pengganti tujuan dan rencana Allah. Berikut adalah enam hal yang dapat dipastikan oleh orang Kristen yang bukan merupakan tujuan Yesus saat menjalani penyaliban.

"Ambisi egois."

Gambar: Salib Kristus

Keegoisan harus menjadi kutukan bagi orang Kristen. Ini harus menjadi hal menakutkan yang kita temui dalam diri kita dan hidup kita. Itu harus menjadi sesuatu yang kita benci dan coba mati-matian untuk menghilangkannya dari hidup kita. Bagaimanapun, orang Kristen dipanggil untuk tidak mementingkan diri sendiri. Orang Kristen diperbolehkan untuk menjadi ambisius dan harus merayakan kesuksesan yang diperoleh dengan adil, tetapi mereka tidak boleh membiarkan diri mereka menjadi egois. Mereka tentu tidak boleh berpikir bahwa Kristus mati untuk memungkinkan mereka mengejar agenda pribadi mereka sendiri. Baik dalam bisnis, pelayanan atau pengejaran pribadi, Yesus tidak mati untuk motif yang mementingkan diri. Bukan dosa bagi orang Kristen untuk menjadi sukses, tetapi ketika kekuatan pendorong di belakangnya adalah keegoisan dan tidak memuliakan Allah, ini adalah anti-Kerajaan.

"Supaya kita dapat hidup nyaman dan menyenangkan."

Ketika pencobaan, penderitaan, atau kesulitan apa pun menghantam kehidupan Kristen kita yang sempurna, secara otomatis kita mengira itu tidak mungkin berasal dari Allah. Itu pasti dari Setan! Kebenarannya, bagaimanapun, adalah Allah menggunakan penganiayaan untuk menguji iman kita dan membangun kerohanian kita. Dalam pencobaan dan kesengsaraan itulah kita diingatkan betapa kecilnya kita tanpa Allah. Kita dipaksa untuk memeriksa hidup kita, harapan kita, impian kita dan kematian kita. Saat penderitaan dari penganiayaan meningkat, kita tidak memiliki apa-apa untuk diharapkan, kecuali Allah. Selama pencobaan, beberapa orang menjadi murtad dan meninggalkan iman mereka. Ini bukan jawaban yang benar. Sebaliknya, peganglah Kristus. Berpegang teguhlah pada-Nya dan ketahuilah bahwa ada alasan untuk penderitaan Anda. Ada beberapa pelajaran yang harus Anda pelajari di mana Allah tidak dapat mengajar Anda dengan cara lainnya. Jadi berfokuslah pada-Nya, dan ambil pelajarannya.

"Untuk mewujudkan Impian Amerika bagi kita."

Impian Amerika (memiliki kecukupan materi dan kehidupan yang sesuai dengan standar impian orang-orang Amerika - Red.) adalah hal yang indah, dan yang lebih luar biasa adalah kenyataan bahwa hal itu dapat dicapai. Ini membutuhkan waktu, tetapi orang-orang dapat meningkatkan kualitas sosial mereka. Uang, mobil, anak-anak, rumah dan anjing, ini dipenuhi dalam banyak hal. Namun, itu seharusnya tidak menjadi jumlah keseluruhan keberadaan kita. Semua itu seharusnya bukan segalanya untuk semua yang kita jalani di bumi ini, terutama sebagai pengikut Kristus. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk mempengaruhi budaya bagi Kerajaan Surga dan menjalani hidup kita sebagai saksi bagi Kristus, tidak hanya berfokus pada keuntungan materi dan duniawi. Alkitab menyatakan agar kita mencari dulu Kerajaan Allah, bukannya kekayaan. Saat Anda melakukan ini, hal-hal itu dengan sendirinya Anda miliki pada waktu Tuhan.

"Orang Kristen yang palsu, buatan."

Yesus biasanya digambarkan dan dikenang sebagai sosok yang lemah lembut, menenangkan, dan bijaksana. Namun, ada satu masalah yang membuat-Nya begitu marah sehingga Dia mulai, secara harfiah, membalikkan meja-meja. Kemunafikan agama adalah cara paling pasti untuk menimbulkan kemarahan Kristus. Itu adalah satu hal yang benar-benar membuat Yesus kesal, dan ini terutama dilakukan oleh para pemimpin religius pada zaman-Nya. Apa yang seharusnya menjadi hubungan yang murni dengan Allah menjadi kinerja spiritualitas yang palsu. Bagi Yesus, hal ini tidak lebih disayangkan pada saat ini dibandingkan 2.000 tahun yang lalu. Yesus tidak mati agar hubungan kita dengan-Nya bisa menjadi sesuatu yang kita pakai dan lepas seperti make-up, itu harus diperbaiki secara permanen di hati kita.

"Untuk aktivitas Kristen yang berlebihan serta kesibukan."

Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk mempengaruhi budaya bagi Kerajaan Surga dan menjalani hidup kita sebagai saksi bagi Kristus, tidak hanya berfokus pada keuntungan materi dan duniawi.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Kehidupan Kristen saat ini penuh dengan program, konferensi, dan buku bagus berikutnya untuk dibaca. Ada lebih banyak hal Kristen yang harus dilakukan daripada yang bisa Anda jadikan pegangan, dan jumlahnya meningkat setiap hari. Ini semua adalah cara yang luar biasa untuk menumbuhkan iman Anda dan meningkatkan partisipasi Anda dalam persekutuan Kristen. Namun, itu bukanlah inti dari kematian Yesus di kayu salib. Yesus mati agar kita dapat memiliki lebih dari sekadar jalan masuk ke aktivitas Kristen. Dia mati agar kita bisa berinvestasi untuk memperdalam keintiman kita dengan Allah. Jangan biarkan perjalanan kekristenan Anda begitu terhambat dengan "hal-hal yang harus dilakukan" sehingga Anda lupa untuk berelasi bersama-Nya. Hubungan Anda dengan Kristus adalah lebih tentang kualitas dibandingkan kuantitas. Mengikuti satu konferensi ke konferensi lain dan tidak pernah berhenti untuk mendengar Allah berbicara tidak akan membantu jiwa Anda.

"Sehingga, kita tidak perlu melakukannya."

Yesus memang mati agar kita tidak perlu melakukannya. Dia menderita di kayu salib untuk menyelamatkan kita dari cengkeraman kematian dan kegelapan. Tanpa Dia dan kematian-Nya, kita semua pasti akan menderita karena dosa-dosa kita. Kristus menyelamatkan kita dari nasib kematian itu ketika Dia mati di kayu salib dan bangkit kembali pada hari ketiga. Kebangkitan, bagaimanapun, tidak berarti bahwa kita hanya duduk-duduk saja dan menikmati pengetahuan bahwa kita telah diselamatkan. Kristus menegaskan berulang kali dalam Kitab Suci bahwa Dia juga mengharapkan kita untuk memikul salib kita dan mengikuti Dia. Seperti yang Dia katakan di dalam Alkitab kepada murid-murid-Nya, kita harus memilih untuk mati bagi diri kita sendiri dan dunia yang berdosa. Hanya dengan demikian kehidupan Yesus dapat bertumbuh dan memiliki tempat yang lebih besar di dalam kita.

Yesus mati untuk kita semua, dan tidak ada keraguan mengenai hal itu. Fakta itu diperjelas dalam Alkitab berulang kali. Yesus mati untuk umat-Nya, untuk kita. Ini juga merupakan poin yang tertanam dalam setiap kebaktian dari tiap denominasi Kristen setiap minggu. Kita mendengar setiap minggu bahwa Dia mati untuk kita, tetapi terkadang kita percaya Dia mati untuk hal-hal yang tidak Dia lakukan/maksudkan. Berhentilah memberikan hal-hal tambahan pada penyaliban dan kebangkitan-Nya. Apa yang Kristus lakukan untuk kita sekarang cukup menakjubkan tanpa embel-embel yang liar, dan sering kali egois. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Beliefnet.com
URL : https://www.beliefnet.com/faiths/christianity/galleries/6-things-jesus-didnt-die-for.aspx
Judul asli artikel : 6 Things Jesus Didn't Die For
Penulis artikel : Jana Duckett