Puisi Paskah

JALAN SALIB

Langkah-Mu tertatih menuju salib Golgota
Dengan badan penuh luka sayatan aniaya
Darah mengalir tercecer di mana-mana
Demi untuk keselamatan manusia

Karena Salib, Karena Darah

2000 tahun yang lalu
bila Kau menebusku
dengan keringat bercucuran
tentu hari ini aku
dengan mudah membalas budi

Via Dolorosa

Ketika sedang kutapaki jalan mendaki
Dengan langkah tertatih-tatih, duh Gusti
Dan badai menerpa tanpa henti
Serta dalam sunyi kuangkat beban derita
Seorang diri

Oh, betapa ingin kubelajar dari-Mu,
Duh Yesusku, Gusti junjunganku,
Tentang bagaimana memikul salib
Tanpa mengeluh,
Tentang bagaimana menghirup cawan beracun
Tanpa gerutu
Kecuali "Jadilah kehendak-Mu"

Ketika perjamuan malam itu berakhir
Dan Kau tahu betul itulah malam-malam-Mu yang terakhir
Lalu Kau ajak murid-murid-Mu khidmat berdoa:
"Ki le-olam hasdo" - "Ki le-olam hasdo"

Siapa Dia?

Saat itu menjelang Paskah
Aku tinggal di Afrika Utara
Artinya, aku harus memulai perjalanan jauhku ke Yerusalem
Untuk merayakan Paskah di Synagoge Yerusalem

Hari itu Paskah
Aku sudah tiba di Yerusalem
Tidak seperti Paskah biasanya
Saat itu banyak orang berkumpul di sisi jalan

Yesus, Aku Bersyukur

"Bersyukur" pada Tuhan bukanlah hal yang berat
dibanding dengan kayu salib yang harus dipikul hingga terjatuh berulang kali

Jika tidak ada penyaliban Yesus,
apakah kita bisa bersukacita karena Kristus yang menjamin keselamatan kita?
Jika tanpa darah bercucuran dan sakit cambukan yang ditahan,
siapakah yang bisa kita harapkan sekarang?

Tidak ada kekuatan yang bisa mengalahkan kekuatan-Nya
Semua ditanggung-Nya ...
Dosa, penyakit, kejahatan ... Ia yang menanggungnya

Apa alasan kita untuk tidak bersyukur pada-Nya?
Tidak ada...

Terima kasih, Tuhan atas salib-Mu

DI ATAS KAYU SALIB

Di atas kayu salib Kau tebus dosaku
Di atas kayu salib Kau s’lamatkanku
Di atas kayu salib Kau ubah hidupku
Di atas kayu salib Kau buka surga bagiku
Di atas kayu salib Kau muliakan aku
Di atas kayu salib Kau jadikanku baru

Kiranya Terjadi Seturut Kehendak-Mu

Jangan takut,
tetapi jangan beritahu seorang pun.

Kamu kini adalah
seorang pembawa kekudusan.

Duduklah, renungkan
Misteri.

Tak ada bayangan
dalam Cahaya-Ku,
melayang
di atas wajah
air rahimmu.

Sarang.
Siapkan tempat
untuk-Ku.

Aku berada di lingkaran
meregangkan dagingmu.
letakkan tanganmu
pada-Ku.

Hangatkan ruang
antara kita.

Ada keajaiban
yang menuntut untuk diberitahu,
dan keajaiban
itu memohon kepadamu

jangan beritahu seorang pun.

Peter’s Diary (Series 1)

Mengkhianati teman adalah hal yang sangat buruk
Mengkhianati Guru apalagi
Aku melakukan hal yang lebih buruk…
Aku mengkhianati Tuhan…
Tuhanku…yang sudah bersama-sama denganku tiga tahun belakangan

Tuhan yang sudah mengubahkan kehidupanku
Sebelumnya aku hanya nelayan…

Tuhan yang memberiku harga diri
Bahkan Dia memberiku nama yang baru

Sayap Kenangan Bukit Kematian

Hari ini, dan pada hari yang sama setiap tahun
aku terjaga dari tidur lelap yang panjang.

Dari balik kerudung kematian
aku memandang dengan mata duka ke arah Golgota
Hari ini, dan pada hari yang sama setiap tahun,
Jiwaku naik di atas sayap-sayap kenangan
Terbang menuju ke Yerusalem.

Di sanalah insan berdiri bergerombol,
Berselimut lupa dan kebodohan masa silam.
Memukul dada sendiri,
seraya memandang Yesus bermahkota duri.

Hari ini, di tengah prahara bukit Golgota
di antara gerombolan insan yang yang lupa
Ku lihat berjajar wajah-wajah dosa
Wajah tetangga-tetanggaku.

Sajak Si Pendosa untuk Sang Penebus Dosa

Sajak Si Pendosa untuk Sang Penebus Dosa

Aku adalah si pendosa.
Tanganku berlumuran dosa.
Hatiku berlumuran dosa.
Pikiranku berlumuran dosa.
Kakiku pun berlumuran dosa.

Tidak secuilpun dari aku yang bersih dari dosa.
Sejak lahirpun aku telah berlumuran dosa.
Hatiku ingin bebas dari dosa, nuraniku menjerit ingin bebas dari dosa.
Segala upaya kucoba untuk membebaskan diriku dari jerat dan belenggu dosa.
Tapi semuanya sia-sia.

Aku adalah si pendosa.
Pendosa yang merindukan kebebasan dari jerat dan belenggu dosa.
Hari-hari dalam hidupku ku jalani dengan terseok-seok.

Pilatus Diaries (series 1)

Dalam sejarah profesiku sebagai hakim
Belum pernah aku menghukum orang yang tak bersalah
Dan merasa begitu menyesal

Tapi apa yang harus kulakukan
Orang banyak itu bersikeras
Dan aku tak punya pilihan

Waktu itu hari masih sangat pagi
Aku baru bangun dari tidurku
Ada banyak orang berteriak-teriak di luar gedung pengadilan
Mereka tidak mau masuk, jadi aku yang keluar

Di hadapanku ada banyak sekali orang
Membawa seorang pria
Tubuh-Nya cukup besar
Entah kenapa Dia tidak melawan sama sekali

Hanya Kasih-Nya

Hanya kasih Yesus ,
yang mampu mengubah hati ini menjadi lembut

Hanya kasih Yesus,
yang mampu membuat orang tegar kuat, tunduk bersujud mengucap syukur

Hanya kasih Yesus,
yang mengangkat kita dari lembah kelam dan membawa pada keselamatan penuh pengharapan

Tidak ada yang bisa melakukan hal besar seperti ini,
yang rela mati untuk dosa-dosa yang tak pernah diperbuat-Nya
yang rela diolok-olok demi mempertahankan kita untuk tetap menjadi milik-Nya
selain Yesus ...
Tuhan dan Juru Selamat di hidupku

Pilatus Diaries (2)

Aku telah menyerahkan Dia untuk dibunuh…
Manusia yang kesalahannya tak kudapati
Aku tak tahu apakah ini merusak reputasiku
Atau malah menyelamatkan reputasiku

Aku rasa para imam itu hanya iri pada orang itu
Dia memiliki banyak pengikut
Ku dengar Dia dapat menyembuhkan orang

Telingaku…bagiNya

Pernahkah Anda merasa sangat terkejut?
Sampai-sampai Anda bingung apa yang sedang terjadi?

Aku pernah…
Suatu peristiwa yang mengubahkan hidupku…

Aku adalah seorang hamba..
Aku melayani Kayafas, Imam Besar
Aku menjadi telinga, pesuruh dan informannya
Suatu posisi yang membanggakan…setidaknya menurutku saat itu

SALIB

Berdiri di antara bumi dan langit
Membentang dalam teriakan sakit
Sebuah kepasrahan yang menjerit
Oleh kematian sebelum bangkit

V I A D O L O R O S A

Satu: Mengucur darah dan airmata yang adalah kasih
Dua: Menguak terurai sebagai luka tubuh demi penyataan Cinta Abadi
Tiga: Merasuk kalbu segala cercaan makian namun hati tiada berpaling

SAJAK PASKAH

Di hari keempat sebelum Paskah
Yeshua terkulai pasrah
rebah di tanah
di tengah Getsemani nan basah
oleh airmatanya yang resah
menitik berupa tetesan darah:
Abba, jauhkanlah cawan ini dariku,
namun bukan kehendakku yang jadi,
melainkan kehendak-Mu.

Milikku yang Terbaik

Saat-saat menjelang Paskah adalah saat yang menyenangkan
Orang-orang akan berkumpul dari seluruh penjuru kota
Aku menyukainya, dan saudariku pun menyukainya

Hari itu enam hari menjelang paskah
Seorang kerabat kami bernama Simon mengadakan perjamuan
Simon itu dulunya terkena penyakit memalukan
Penyakit yang dilihat bangsa kami sebagai kutukan, najis

SYAIR TIGA BABAK

PERTAMA : TAMAN GETSEMANI
Lalu pergilah Yesus bersama-sama murid-muridNya keluar kota menuju Bukit Zaitun, di mana terdapat Taman Getsemani, tempat yang sering dikunjungi Yesus.

Easter

Early dawn that morn when women in silence came to the tomb

And found the stone rolled away there

Stand two men in dazzling apparel and said Jesus not there to them

They remembered Jesus said He is risen in the third day

Enhancing with tremendous happiness they are going to tell that truth

Reign is the Lord and they would never be the same again

Keputusan yang Tepat

Sampai saat ini, aku merasa bersyukur
Karena waktu itu aku memutuskan untuk menemui-Nya
Jika tidak…mungkin aku akan ada di barisan orang-orang itu
Tidak mengerti apa-apa…begitu buta

Aku lahir dari keluarga imam
Ayahku pemimpin agama
Sehingga aku pun mewarisi jabatan itu

The Centurion’s Diary

Sudah waktunya…
Aku bersama prajurit-prajurit bawahanku…
Akan menangkap seseorang

Aku tak tahu apa kesalahannya
Kami diperintahkan oleh Imam Besar
Katanya orang ini berbahaya dan harus dihukum mati

Malam itu,
Aku dan rombonganku pergi ke sebuah taman
Katanya sasaran kami ada di sana
Kami mendapat informasi dari salah seorang muridnya