Tiga Alasan Pentingnya Kebangkitan

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Kebangkitan Yesus (serta penyaliban-Nya) adalah peristiwa historis yang menjadi sentral iman Kristen. Tanpa kebangkitan, tidak akan ada kekristenan. "Andaikata Kristus tidak dibangkitkan," tulis Rasul Paulus, "maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu." (1 Korintus 15:14)

Saya adalah orang Kristen karena saya percaya pada kebangkitan. Saya yakin bahwa setelah mati dengan cara yang brutal di atas salib Romawi pada suatu Jumat siang tahun 30 M, Yesus dari Nazaret hidup kembali dan keluar dari kubur pada hari Minggu pagi.

Hal ini tidak mudah dipercaya. Namun, jika itu benar adanya, maka hal tersebut adalah peristiwa terpenting dalam sejarah umat manusia. Banyak tulisan telah dibuat untuk membela kebenaran tentang kebangkitan Yesus, karya yang paling teliti dan meyakinkan adalah tulisan panjang N.T. Wright sebanyak 800 halaman, berjudul The Resurrection of the Son of God. Bila Anda belum yakin, saya harap Anda mempertimbangkan buktinya sendiri.

Yang tidak diragukan ialah para pengikut Yesus generasi pertama sungguh percaya bahwa Ia telah bangkit, dan yakin bahwa dampak kebangkitan telah mengubah segala sesuatu.

Pikirkanlah tiga saja dari cara Perjanjian Baru menekankan signifikansi kebangkitan.

1. Kebangkitan Yesus berarti pengorbanannya di kayu salib telah cukup, dan karena itu dosa-dosa kita dapat diampuni.

Paulus menekankan hal ini dalam 1 Korintus 15, mengingatkan kita bahwa "Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikkuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci" (ay 3-4). Kemudian, pada ayat 17, ia menegaskan bahwa "jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu."

Dengan kata lain, Paulus melihat kaitan langsung antara kebangkitan Yesus dengan cukupnya pengorbanan-Nya untuk menebus dosa kita. Ketika Yesus bangkit kembali pada hari ketiga, itu menjadi pemberitaan terbuka bahwa Allah menerima sepenuhnya pengorbanan Anak-Nya. Dalam kebangkitan-Nya, Yesus dinyatakan tidak bersalah (1 Timotius 3:16). Namun, dalam pembenaran-Nya, kita juga dibenarkan. Itu sebabnya Paulus berkata dalam Roma 4 bahwa Yesus "telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan untuk pembenaran kita" (Roma 4:25).

2. Kebangkitan Yesus berarti maut telah dikalahkan sekali untuk selamanya.

Seperti diberitakan oleh Petrus pada hari Pentakosta, "Allah membangkitkan-Nya, dan melepaskan-Nya dari penderitaan maut karena tidak mungkin bagi-Nya dikuasai oleh kematian" (Kisah Rasul 2:24, AYT). Maut kehilangan kuasanya atas Yesus!

Akan tetapi, kebangkitan tidak berarti bahwa Yesus mengalahkan maut bagi diri-Nya sendiri, melainkan bagi kita. Ia mati dan bangkit sebagai wakil yang baru untuk umat manusia, yaitu Adam Kedua. "Namun sekarang, Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati," tulis Paulus, "sebagai yang buah sulung dari semua orang percaya yang telah mati. Sebab, sama seperti kematian terjadi melalui satu orang, maka melalui satu orang jugalah kebangkitan dari antara orang mati terjadi. Karena dalam Adam semuanya mati, demikian juga dalam Kristus semuanya akan dihidupkan." (1 Korintus 15:20-22, AYT). Kebangkitan-Nya menjamin kebangkitan kita.

Mungkin, tidak seorang pun mendeskripsikan hal ini sebaik C.S. Lewis. Dalam bukunya Miracles, tahun 1947, Lewis menulis:

"Para penulis Perjanjian Baru mengungkapkan seolah pencapaian Kristus yakni bangkit dari antara orang mati adalah peristiwa kebangkitan pertama dalam seluruh sejarah alam semesta. Dia adalah 'buah sulung', 'perintis kehidupan.' Ia telah mendobrak pintu yang telah dikunci sejak kematian manusia pertama. Ia telah bertemu, bertarung, dan mengalahkan sang raja maut. Segala sesuatu berubah karena Ia telah menyelesaikannya. Inilah permulaan ciptaan baru: sebuah babak baru dalam sejarah kosmik telah dibuka."(3)

Kubur kosong meyakinkan kita bahwa kesakitan dan penderitaan, kematian dan penyakit bukanlah akhir dari segalanya.

Ini adalah suatu pemberian harapan yang personal dan penuh kuasa bagi saya. Saya memiliki pandangan yang kabur karena penyakit mata turunan bernama karetoconus. Anak saya mengidap diabetes tipe 1, yang membuatnya harus mengonsumsi minimal 4 teguk insulin per hari. Dan, ibu saya, yang baru berumur 64 tahun telah menderita Alzheimer dan tidak mengenali saya selama beberapa tahun. Namun, kebangkitan Yesus berarti suatu hari nanti saya akan memiliki penglihatan sempurna, anak saya tidak akan memerlukan insulin lagi selamanya, dan ibu saya akan kembali mengenali saya.

3. Kebangkitan Yesus artinya dunia materi adalah sesuatu yang penting.

Untuk berjaga-jaga kalau ada kesalahpahaman, (saya hendak menegaskan bahwa) ketika para rasul mengatakan bahwa Yesus bangkit, yang mereka maksud iala tubuh jasmani-Nya hidup kembali. Yesus yang bangkit bukanlah penampakan atau hantu, melainkan manusia sungguhan yang makan sarapan serta memiliki daging dan tulang. (lihat Lukas 24:36-43 dan Yohanes 21:10-14).

Sebagaimana dikatakan John Updike, novelis yang memenangkan penghargaan Pulitzer,

Jangan salah: jika Dia benar-benar bangkit
tubuh-Nya lah itu;

jika sel yang melebur tidak bersatu kembali,

molekul *reknit*, asam amino menghidupkan,

maka Gereja akan runtuh.

Ketika Yesus keluar dari kubur dengan tubuh jasmani, itulah cap persetujuan Allah yang mutlak atas proyek penciptaan dengan seluruh unsur materinya. Kebangkitan menyatakan pada kita bahwa materi itu penting. Dan, inilah alasan mengapa orang Kristen mula-mula memandang masa depan dengan penuh harapan bahwa tatanan yang telah diciptakan juga akan ditebus (lihat Roma 8:18-25).

Meskipun kita menunggu konsumasi ciptaan baru yang sepenuhnya, Kitab Suci juga mengajarkan bahwa kuasa yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati sudah bekerja di dalam kita saat ini (Efesus 1:19-20). Anda bisa melihat, kebangkitan tidak hanya menjamin pengampunan Allah dan menghibur kita dalam penderitaan selagi menantikan kekalahan terakhir maut, penyakit, dan kecacatan; kebangkitan juga mendorong serta memampukan kita untuk melawan gelombang penderitaan dan kejahatan dalam dunia saat ini, melalui perkataan dan perbuatan dalam belas kasihan dan keadilan, semuanya di dalam nama Yesus. (t/Joy)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Christianity.com
URL : http://www.christianity.com/god/jesus-christ/3-reasons-the-resurrection-...
Judul asli artikel : 3 Reasons the Resurrection Matters
Penulis artikel : Brian G. Hedges
Tanggal akses : 21 September 2017