Perayaan Paskah

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Menjelang akhir tahun, biasanya gereja-gereja sudah mulai sibuk dan ramai merencanakan berbagai acara untuk merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Bahkan panitia sudah terbentuk sejak berbulan-bulan sebelumnya dan sudah mulai rutin mengadakan rapat-rapat untuk mempersiapkan perayaan hari Natal. Menjelang bulan Desember inilah mulai banyak acara digelar, seperti konser Natal, Natal Sekolah Minggu, Natal Pemuda, Natal bersama, drama musikal Natal, dan lain sebagainya. Sepertinya orang-orang Kristen begitu sibuk melayani di dalam acara-acara yang diselenggarakan untuk merayakan Natal, dan tidak hanya di dalam gereja, di rumah pun turut sibuk menghias pohon Natal, membeli kado Natal, mengirim kartu Natal, dan lain-lain.

Memang Natal merupakan hari yang sangat besar untuk setiap umat Kristiani, karena pada hari itulah Tuhan Yesus lahir ke dunia. Tetapi di tengah-tengah semua acara, aktivitas, dan pelayanan orang-orang Kristen di hari Natal, perlu kita renungkan apakah benar kita merayakan kelahiran Kristus di dunia atau kita hanya merayakan sebuah pesta besar untuk menyenangkan diri atau menjustifikasi diri sebagai orang Kristen? Pernahkah kita benar-benar merenungkan apa tujuan kelahiran Kristus yang kita rayakan di hari Natal itu?

Tujuan kelahiran Kristus ke dunia bukanlah untuk bersenang-senang, dan bukan juga untuk menjadi raja atas dunia (walaupun dunia dan segala isinya adalah milik-Nya). Dia datang ke dunia untuk mati mencucurkan darah di atas kayu salib demi menyelamatkan umat-Nya. Sesungguhnya puncak penggenapan rencana Allah jatuh pada perayaan hari Jumat Agung dan Paskah, bukan pada hari Natal. Tetapi anehnya, pernahkah kita melihat orang-orang Kristen begitu sibuk dalam bulan-bulan menjelang Paskah? Kalau ada pun, apakah dalam mempersiapkan acara-acara untuk Jumat Agung dan Paskah kita akan se-antusias saat mempersiapkan acara-acara Natal? Jadi, mengapakah kita tidak merayakan hari ini se-meriah Natal? Mari kita coba pikirkan arti perayaan Paskah itu melalui perenungan kematian Kristus.

Ketika J. I. Packer (1926-sekarang) menulis kata pengantar untuk buku karangan John Owen (1616-1683), “The Death of Death in the Death of Christ”, ia dengan tegas mengatakan bahwa pemberitaan Injil di dalam gereja pada zaman sekarang lebih menekankan pada keselamatan yang “membantu” manusia mencapai damai, kenyamanan, sukacita, dan kepuasan daripada menekankan kemuliaan Allah. Artinya, Injil yang diberitakan di gereja-gereja saat ini hanyalah demi memuaskan keinginan dan kebutuhan manusia untuk mendapatkan kedamaian jiwa (self-justification because they’re reluctant to bear the cross), tetapi Injil yang menceritakan tentang pengorbanan Kristus di kayu salib, karya keselamatan, dan penebusan dosa dengan harga yang begitu mahal tidak terlalu ditekankan. Sehingga kematian Kristus telah turun derajat menjadi salah satu alat manusia untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan diri. J. I. Packer di dalam bukunya juga menunjukkan bahwa di masa lampau, Injil lebih menekankan kemuliaan Allah dan karya keselamatan, sehingga orang lebih dapat melihat pentingnya makna Paskah dalam kemuliaan-Nya.

Pada abad ke-17 ada sekelompok orang yang kini kita sering dengar dengan sebutan kaum Arminian. Mereka percaya bahwa:

  1. Manusia tidak sepenuhnya terkorupsi dosa, sehingga masih ada kemampuan untuk percaya Injil.
  2. Manusia tidak sepenuhnya dikontrol Allah sehingga ada kemungkinan menolak keselamatan.
  3. Kaum pilihan Allah ditentukan karena Allah telah melihat pada akhirnya kaum pilihan-Nya tersebut mempunyai kemampuan untuk percaya.
  4. Kematian Kristus menciptakan kemungkinan keselamatan manusia bila manusia mau percaya.
  5. Kaum percaya harus terus berusaha menjaga anugerah itu dengan memelihara iman mereka.

Kelima pokok yang dipercaya oleh kaum Arminian tersebut oleh J. I. Packer dikontraskan dengan lima pokok Calvinisme yang mengatakan sebagai berikut:

  1. Allah berdaulat memilih manusia berdosa untuk diselamatkan melalui Kristus dan berdaulat memberi iman demi kemuliaan-Nya.
  2. Karya keselamatan Kristus mempunyai tujuan akhir keselamatan umat pilihan-Nya.
  3. Pekerjaan Roh Kudus untuk membawa manusia dalam iman yang tidak pernah gagal.
  4. Iman dan anugerah keselamatan kaum percaya terus dipelihara melalui kuasa Allah sampai pada kemenangan.

Kesimpulan dari persepsi J .I. Packer di atas adalah, bahwa kaum Arminian menunjuk pada manusia yang dapat ikut andil dalam mencapai usaha keselamatan itu, sedang Calvinisme berpandangan bahwa Allah yang memampukan manusia untuk selamat dan tidak ada sedikit pun jasa manusia di dalam karya keselamatan. Arminianisme melihat Allah mengambil langkah pasif dalam karya keselamatan, sedang Calvinisme melihat langkah aktif Allah dalam karya keselamatan.

Lebih lanjut Calvinisme menekankan bahwa karya keselamatan Allah tidak universal diberikan kepada semua orang. Keselamatan ini hanya diberikan Allah kepada manusia sesuai kehendak-Nya. Lantas, apakah Allah tidak adil? Tidak juga, karena yang adil adalah semua manusia berdosa di mata Allah sehingga semua manusia harus dihukum. Justru karena kemurahan hati Allah di dalam kedaulatan-Nya, ada manusia yang diberi anugerah keselamatan melalui darah Kristus. Hal ini adalah yang dimaksud dalam lima pokok Calvinisme, point-nya yang ketiga.

Di dalam bukunya John Owen memaparkan secara lengkap bahwa Alkitab mencatat kematian Yesus Kristus adalah benar-benar untuk menyelamatkan kaum pilihan-Nya, dan bukan untuk semua manusia. Owen menegaskan kematian Kristus adalah karya keselamatan yang sempurna untuk merekonsiliasi hubungan manusia dengan Allah. Melalui kematian Yesus sebagai korban yang suci, manusia dibenarkan di hadapan Allah karena Allah menerima darah pengorbanan Kristus untuk menggantikan dosa manusia dan menyucikan manusia di hadapan Allah. Dengan demikian manusia diadopsi kembali masuk ke dalam kerajaan Allah dan Allah menganggap kini manusia layak untuk memuliakan Allah di hadapan tahta-Nya.

Owen mengupas bagaimana Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus bekerja secara aktif di dalam karya keselamatan ini. Allah Bapa mengutus Allah Anak dan memberikan segala kuasa untuk menggenapkan rencana ini, Allah Anak dalam ketaatan-Nya menjalankan karya ini, dan Allah Roh Kudus bekerja berdampingan dengan Allah Anak dalam penggenapan rencana keselamatan.

John Owen juga memaparkan argumen-argumen bahwa karya keselamatan tidaklah universal. Di antara argumennya disebutkan bahwa semasa Yesus hidup bersama dengan murid-murid-Nya, berita Injil tidak dikabarkan kepada semua orang, melainkan hanya kepada orang-orang yang Yesus berkehendak memberitakan-Nya. Argumen lainnya mengatakan bahwa di dalam Alkitab tidak pernah disebut bahwa Kristus mati untuk semua orang. Kurang lebih ada 16 argumen yang menyatakan keselamatan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang dipilih-Nya.

Namun di luar argumen-argumen itu, yang terpenting bagi kita adalah arti kematian dan kebangkitan Kristus yang berpusat pada pengembalian kemuliaan Allah. Amat sangat penting bagi kita untuk mawas diri dan sadar apakah Injil yang kita kabarkan pada orang sekitar kita benar-benar mengembalikan kemuliaan kepada Allah. Misalnya waktu kita mengabarkan Yesus yang menjadi Juru Selamat pribadi, apakah kita menyodorkan berita bahwa itu adalah pilihan manusia untuk boleh percaya atau tidak pada pesan Injil, sehingga menjadikan manusia sebagai penentu keselamatan dirinya sendiri? Jika ya, kita telah menjadikan karya keselamatan tergantung pada diri saya yang menjadi penentu untuk memutuskan menerima atau menolak karya keselamatan.

Jika memang kita ingin memuliakan Allah, kita perlu juga menyodorkan berita bahwa kondisi keberdosaan manusia tidak memungkinkan mereka untuk percaya isi Injil jika bukan karena anugerah Allah semata. Ini berarti arti kematian Kristus di kayu salib menjadi sangat mahal karena hanya kepada orang-orang yang Allah berkenan akan dinyatakan dan diberikan karya keselamatan itu. Bila benar isi berita Injil itu untuk semua orang, maka nilai darah Kristus menjadi murah adanya.

Ini pula yang mengakibatkan perayaan Natal lebih meriah dari perayaan Paskah. Seperti persepsi kaum Arminian, kita menyambut kelahiran Kristus sebagai sarana yang memampukan kita untuk memperoleh “sorga” kebahagiaan kita. Kita lupa bahwa makna kedatangan Kristus mencapai puncaknya sewaktu Yesus mati di kayu salib dan bangkit pada hari yang ketiga. Kita lupa konsep Kerajaan Allah bukanlah untuk kemuliaan manusia, melainkan kemuliaan Allah.

Bila kita mengerti akan karya keselamatan yang demikian berharga, bagaikan seorang pedagang mencari mutiara-mutiara yang berharga, ketika ia menemukan sebutir mutiara yang luar biasa indahnya, segera ia pergi dan menjual semua miliknya, lalu membeli mutiara yang satu itu (Matius 13:45-46). Selanjutnya apakah tindakan kita? Tidak saja kita harus menyambut Paskah dengan serius, kita juga harus selalu sadar bahwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib adalah kunci dari keselamatan kita dan Tuhan memberikan pengorbanan-Nya dengan gratis tetapi tidak murah.

Bila selama ini kita telah menyatakan Yesus adalah Juru Selamat pribadi saya, marilah kita sama-sama merenungkan sejauh mana kita sebagai orang Kristen telah bersikap dalam menyambut hari Paskah sebagai puncak karya keselamatan yang Allah anugerahkan pada kita. Marilah kita lebih mawas diri dalam menyatakan keagungan harga darah Kristus di kayu salib melalui seluruh aspek kehidupan kita.

Diambil dari:

Nama situs : www.buletinpillar.org
Alamat URL : http://www.buletinpillar.org/artikel/perayaan-paskah#hal-1
Penulis artikel : Mitra Kumara
Tanggal akses : 08 Maret 2016