"Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut." (Wahyu 12:11)
Selama ribuan tahun telah terjadi pertarungan hebat di antara "ular tua" yang menyesatkan manusia, dan "keturunan perempuan" untuk memperebutkan umat manusia.
Sering kali kerajaan Allah sepertinya sudah berkuasa, kemudian pada masa-masa yang lain kuasa jahat seakan-akan begitu unggul hingga pertempuran itu tampak tidak berpengharapan lagi.
Seperti itu jugalah kehidupan Tuhan Yesus. Melalui kedatangan, perkataan, dan pekerjaan-Nya yang ajaib itu, pengharapan akan penebusan yang sudah hampir tiba, dibangunkan. Betapa besarnya kekecewaan semua orang yang percaya kepada-Nya oleh kematian Yesus yang mengerikan itu! Sepertinya kuasa kegelapan memang telah menang dan menegakkan kerajaan mereka untuk selamanya.
Tetapi lihatlah! Yesus telah bangkit dari antara orang mati! Hal yang tampak seperti kemenangan itu ternyata telah berubah menjadi kejatuhan mengerikan bagi penguasa kegelapan. Dengan menyebabkan kematian "Tuhan kehidupan", Iblis membiarkan Dia, satu-satunya yang mampu mendobrak pintu-pintu maut itu, masuk ke dalam kerajaannya. "Oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut." Di saat-saat kudus ketika Tuhan kita mencurahkan darah-Nya sampai mati dan Iblis seakan-akan menang, wewenang yang selama ini dimiliki musuh itu telah dirampas.
Ayat kita memberikan gambaran yang sangat dahsyat perihal peristiwa-peristiwa yang tak terlupakan ini. Para penafsir terbaik, meskipun agak berbeda dalam memberikan uraian, memunyai pendapat sama tentang apa yang kita lihat di sini, yaitu pengusiran Iblis dari surga sebagai akibat kenaikan Kristus.
Dalam Wahyu 12:5-9 dikatakan bahwa ia [perempuan] "melahirkan seorang Anak laki-laki yang... dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan takhta-Nya. ... Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga. Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya."
Kemudian menyusullah nyanyian dari mana ayat tadi dikutip: "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut. Karena itu bersukacitalah, hai sorga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya."
Pokok yang sangat perlu kita perhatikan adalah, sementara penaklukan Iblis dan pengusiran atas dirinya dari surga digambarkan terlebih dulu sebagai akibat kenaikan Yesus dan peperangan yang setelah itu pecah di surga, di dalam nyanyian kemenangan yang terdengar di surga, kemenangan itu dikatakan terutama berkat darah Anak Domba. Inilah kuasa yang menghasilkan kemenangan itu.
Di dalam seluruh Kitab Wahyu, kita melihat Anak Domba itu duduk di atas takhta. Sebagai Anak Domba yang disembelih itulah Ia memperoleh kedudukan itu. Kemenangan atas Iblis termasuk seluruh wewenangnya diperoleh dengan darah Anak Domba itu.
Kita telah membicarakan darah dengan berbagai pengaruh gandanya. Sudah selayaknya kita juga ingin mengerti bagaimana kemenangan itu selalu dianggap terutama karena darah Anak Domba.
Kita akan merenungkan kemenangan:
- Sebagai sesuatu yang diperoleh satu kali dan untuk selamanya.
- Sebagai sesuatu yang berkelanjutan.
- Sebagai hal yang dapat kita peroleh juga.
-
Kemenangan yang Telah Diperoleh Satu Kali dan Untuk Selamanya
-
Terdapat Kemenangan yang Berkelanjutan yang Menyusul Sesudah Kemenangan Pertama Ini. Karena Iblis Telah Dilemparkan ke Bumi, Sekarang Kemenangan Surgawi Itu Harus Dilaksanakan di Sini.
Di dalam gambaran mulia yang diberikan dalam Mazmur 12:1-9, bisa dilihat betapa tinggi kedudukan yang pernah ditempati Iblis, musuh umat manusia itu. Ia diizinkan masuk surga dan muncul di sana sebagai pendakwa saudara-saudara kita, dan sebagai lawan terhadap apa pun yang dilakukan demi kepentingan umat Allah.
Kita tahu bagaimana hal ini diajarkan dalam Perjanjian Lama. Di dalam Kitab Ayub, kita melihat Iblis datang bersama anak-anak Allah dan menghadap TUHAN untuk memperoleh izin dari-Nya supaya boleh mencobai Ayub, hamba-Nya (Ayub 1). Di dalam Kitab Zakharia 3:1-2, kita membaca bahwa sang nabi melihat "imam besar Yosua berdiri di hadapan Malaikat TUHAN, sedang Iblis berdiri di sebelah kanannya untuk mendakwa dia." Kemudian, terdapat juga pernyataan Tuhan yang dicatat di dalam Lukas 10:18: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit." Lalu, dalam penderitaan jiwa yang teramat sangat ketika ia merasakan terlebih dulu penderitaan-penderitaan yang akan dialami-Nya, Yesus berkata, "Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar." (Yohanes 12:31)
Awalnya, bila dipikirkan, terasa aneh bahwa Alkitab menggambarkan Iblis berada di dalam surga. Untuk dapat memahami hal ini dengan benar, perlu diingat bahwa surga bukanlah tempat kediaman sempit yang dibatasi, di mana Allah dan Iblis dapat berbincang-bincang dengan akrab bagaikan tetangga. Tidak, surga adalah ruang lingkup tak terbatas dengan berbagai divisi, penuh dengan sejumlah besar malaikat yang mengerjakan kehendak Allah di alam semesta. Di antara mereka, Iblis juga masih memunyai tempat. Ingatlah bahwa di dalam Alkitab ia tidak digambarkan sebagai makhluk dengan penampilan hitam menjijikkan seperti yang biasa digambarkan orang, tetapi sebagai "malaikat Terang." Ia seorang penguasa yang memiliki puluhan ribu pelayan.
Ketika ia berhasil menyebabkan kejatuhan manusia sehingga dengan demikian menjadikan dunia miliknya dan dia menjadi penguasanya, Iblis benar-benar memiliki wewenang atas segala sesuatu yang ada di dalamnya. Manusia telah ditakdirkan untuk menjadi raja dunia ini, karena Allah sudah berkata, "Berkuasalah..." Ketika Iblis mengalahkan raja itu, ia juga merampas seluruh kerajaannya di bawah wewenangnya sendiri -- dan wewenang ini diakui oleh Allah. Allah, dalam kehendak-Nya yang kudus, telah menetapkan bahwa jika manusia mendengarkan Iblis, ia harus menanggung akibatnya dan tunduk kepada penguasanya. Dalam hal ini Allah tidak pernah memanfaatkan kuasa-Nya atau memaksa, tetapi senantiasa menggunakan cara hukum dan hak, maka Iblis pun mempertahankan wewenangnya sampai hal ini diambil darinya dengan cara yang sah.
Inilah alasan mengapa ia dapat muncul di hadapan Allah di surga sebagai pendakwa atas saudara-saudara kita dan melawan mereka selama 4.000 tahun di bawah Perjanjian Lama.
Iblis telah memperoleh kuasa atas semua manusia daging, dan hanya setelah ia dikalahkan dalam daging, sebagai ruang lingkup wewenangnya, ia dapat dilempar keluar selamanya, sebagai pendakwa, dari hadapan Takhta Surga.
Itulah sebabnya Anak Allah telah datang dalam bentuk manusia, supaya dapat melawan dan mengalahkan Iblis di wilayahnya sendiri.
Untuk alasan ini jugalah, di awal kehidupan bermasyarakat-Nya, setelah diurapi dan diakui secara terbuka sebagai Anak Allah, Tuhan kita "dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis." Kemenangan atas Iblis hanya dapat dicapai sesudah Ia sendiri menanggung dan melawan pencobaan.
Namun, bahkan kemenangan ini pun masih belum mencukupi. Kristus datang supaya "oleh kematian-Nya ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut." Iblis memiliki kuasa atas maut karena hukum Allah. Hukum itu telah menempatkannya sebagai sipir penjara para tawanannya. Alkitab berkata, "Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat." Kemenangan dan pengusiran atas Iblis tidak dapat terjadi sampai tuntutan-tuntutan adil Hukum Taurat digenapi dengan sempurna. Orang berdosa harus diselamatkan dari kuasa Hukum Taurat itu sebelum ia dapat dibebaskan dari wewenang Iblis.
Hanya melalui kematian dan penumpahan darah-Nya saja, Tuhan Yesus menggenapi tuntutan-tuntutan Hukum Taurat. Tiada henti-hentinya Hukum Taurat itu menyatakan bahwa "upah dosa ialah maut", "Orang yang berdosa akan mati." Menurut pelayanan khas bait suci, oleh persembahan korban dengan penumpahan dan pemercikan darah, hukum Taurat dengan upacaranya itu telah memberitahukan sebelumnya bahwa penebusan dan penghapusan dosa hanya dapat terjadi melalui penumpahan darah. Sebagai Penjamin kita, Anak Allah lahir di bawah Hukum Taurat. Ia menaatinya dengan sempurna. Ia melawan pencobaan-pencobaan Iblis untuk menarik diri-Nya dari bawah wewenang Hukum Taurat itu. Dengan suka rela Ia mengorbankan diri untuk menanggung hukuman dosa. Ia tidak mau mendengarkan pencobaan Iblis untuk menolak cawan penderitaan itu. Waktu Ia menumpahkan darah-Nya, ia telah mengabdikan seluruh hidup-Nya sampai akhir guna menggenapi Hukum Taurat. Ketika Hukum Taurat telah digenapi dengan sempurna seperti itu, kuasa dosa dan Iblis telah diakhiri. Itulah sebabnya maut tidak mampu menahan-Nya. "Oleh darah perjanjian yang kekal" Allah telah membangkitkanNya "dari antara orang mati." Demikian jugalah Ia "masuk ke surga dengan darah-Nya sendiri" untuk memperdamaikan kita.
Ayat itu memberi kita gambaran yang menakjubkan perihal akibat luar biasa karena pemunculan Tuhan kita di surga. Kita membaca perihal perempuan yang penuh rahasia itu: "ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. ... Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan: mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga. Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya." Kemudian menyusullah nyanyian kemenangan dan di dalamnya terdapat kata-kata yang ada dalam ayat kita: "Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba."
Di dalam Kitab Daniel kita membaca perihal pertempuran yang terjadi di antara Mikhael yang berpihak kepada Israel, umat Allah, dan penguasa-penguasa dunia. Kekuatannya sangat besar. Tetapi baru sekaranglah Iblis berhasil dilempar keluar oleh karena darah Anak Domba. Pendamaian bagi dosa dan penggenapan Hukum Taurat telah merampas semua wewenang dan hak Iblis. Seperti yang telah kita lihat, darah yang telah melaksanakan hal-hal yang begitu luar biasa di surga bersama Allah, dengan menghapuskan dosa dan melenyapkannya, memiliki kuasa serupa atas Iblis. Sekarang ia tidak berhak lagi untuk mendakwa. "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang telah diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita. ... Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba."
Hal ini dinyatakan dalam kata-kata nyanyian kemenangan tadi, "Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba."