Kemenangan Melalui Darah

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

"Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut." (Wahyu 12:11)

Selama ribuan tahun telah terjadi pertarungan hebat di antara "ular tua" yang menyesatkan manusia, dan "keturunan perempuan" untuk memperebutkan umat manusia.

Sering kali kerajaan Allah sepertinya sudah berkuasa, kemudian pada masa-masa yang lain kuasa jahat seakan-akan begitu unggul hingga pertempuran itu tampak tidak berpengharapan lagi.

Seperti itu jugalah kehidupan Tuhan Yesus. Melalui kedatangan, perkataan, dan pekerjaan-Nya yang ajaib itu, pengharapan akan penebusan yang sudah hampir tiba, dibangunkan. Betapa besarnya kekecewaan semua orang yang percaya kepada-Nya oleh kematian Yesus yang mengerikan itu! Sepertinya kuasa kegelapan memang telah menang dan menegakkan kerajaan mereka untuk selamanya.

Tetapi lihatlah! Yesus telah bangkit dari antara orang mati! Hal yang tampak seperti kemenangan itu ternyata telah berubah menjadi kejatuhan mengerikan bagi penguasa kegelapan. Dengan menyebabkan kematian "Tuhan kehidupan", Iblis membiarkan Dia, satu-satunya yang mampu mendobrak pintu-pintu maut itu, masuk ke dalam kerajaannya. "Oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut." Di saat-saat kudus ketika Tuhan kita mencurahkan darah-Nya sampai mati dan Iblis seakan-akan menang, wewenang yang selama ini dimiliki musuh itu telah dirampas.

Ayat kita memberikan gambaran yang sangat dahsyat perihal peristiwa-peristiwa yang tak terlupakan ini. Para penafsir terbaik, meskipun agak berbeda dalam memberikan uraian, memunyai pendapat sama tentang apa yang kita lihat di sini, yaitu pengusiran Iblis dari surga sebagai akibat kenaikan Kristus.

Dalam Wahyu 12:5-9 dikatakan bahwa ia [perempuan] "melahirkan seorang Anak laki-laki yang... dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan takhta-Nya. ... Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga. Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya."

Kemudian menyusullah nyanyian dari mana ayat tadi dikutip: "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut. Karena itu bersukacitalah, hai sorga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya."

Pokok yang sangat perlu kita perhatikan adalah, sementara penaklukan Iblis dan pengusiran atas dirinya dari surga digambarkan terlebih dulu sebagai akibat kenaikan Yesus dan peperangan yang setelah itu pecah di surga, di dalam nyanyian kemenangan yang terdengar di surga, kemenangan itu dikatakan terutama berkat darah Anak Domba. Inilah kuasa yang menghasilkan kemenangan itu.

Di dalam seluruh Kitab Wahyu, kita melihat Anak Domba itu duduk di atas takhta. Sebagai Anak Domba yang disembelih itulah Ia memperoleh kedudukan itu. Kemenangan atas Iblis termasuk seluruh wewenangnya diperoleh dengan darah Anak Domba itu.

Kita telah membicarakan darah dengan berbagai pengaruh gandanya. Sudah selayaknya kita juga ingin mengerti bagaimana kemenangan itu selalu dianggap terutama karena darah Anak Domba.

Kita akan merenungkan kemenangan:

  1. Sebagai sesuatu yang diperoleh satu kali dan untuk selamanya.
  2. Sebagai sesuatu yang berkelanjutan.
  3. Sebagai hal yang dapat kita peroleh juga.
  1. Kemenangan yang Telah Diperoleh Satu Kali dan Untuk Selamanya

  2. Di dalam gambaran mulia yang diberikan dalam Mazmur 12:1-9, bisa dilihat betapa tinggi kedudukan yang pernah ditempati Iblis, musuh umat manusia itu. Ia diizinkan masuk surga dan muncul di sana sebagai pendakwa saudara-saudara kita, dan sebagai lawan terhadap apa pun yang dilakukan demi kepentingan umat Allah.

    Kita tahu bagaimana hal ini diajarkan dalam Perjanjian Lama. Di dalam Kitab Ayub, kita melihat Iblis datang bersama anak-anak Allah dan menghadap TUHAN untuk memperoleh izin dari-Nya supaya boleh mencobai Ayub, hamba-Nya (Ayub 1). Di dalam Kitab Zakharia 3:1-2, kita membaca bahwa sang nabi melihat "imam besar Yosua berdiri di hadapan Malaikat TUHAN, sedang Iblis berdiri di sebelah kanannya untuk mendakwa dia." Kemudian, terdapat juga pernyataan Tuhan yang dicatat di dalam Lukas 10:18: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit." Lalu, dalam penderitaan jiwa yang teramat sangat ketika ia merasakan terlebih dulu penderitaan-penderitaan yang akan dialami-Nya, Yesus berkata, "Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar." (Yohanes 12:31)

    Awalnya, bila dipikirkan, terasa aneh bahwa Alkitab menggambarkan Iblis berada di dalam surga. Untuk dapat memahami hal ini dengan benar, perlu diingat bahwa surga bukanlah tempat kediaman sempit yang dibatasi, di mana Allah dan Iblis dapat berbincang-bincang dengan akrab bagaikan tetangga. Tidak, surga adalah ruang lingkup tak terbatas dengan berbagai divisi, penuh dengan sejumlah besar malaikat yang mengerjakan kehendak Allah di alam semesta. Di antara mereka, Iblis juga masih memunyai tempat. Ingatlah bahwa di dalam Alkitab ia tidak digambarkan sebagai makhluk dengan penampilan hitam menjijikkan seperti yang biasa digambarkan orang, tetapi sebagai "malaikat Terang." Ia seorang penguasa yang memiliki puluhan ribu pelayan.

    Ketika ia berhasil menyebabkan kejatuhan manusia sehingga dengan demikian menjadikan dunia miliknya dan dia menjadi penguasanya, Iblis benar-benar memiliki wewenang atas segala sesuatu yang ada di dalamnya. Manusia telah ditakdirkan untuk menjadi raja dunia ini, karena Allah sudah berkata, "Berkuasalah..." Ketika Iblis mengalahkan raja itu, ia juga merampas seluruh kerajaannya di bawah wewenangnya sendiri -- dan wewenang ini diakui oleh Allah. Allah, dalam kehendak-Nya yang kudus, telah menetapkan bahwa jika manusia mendengarkan Iblis, ia harus menanggung akibatnya dan tunduk kepada penguasanya. Dalam hal ini Allah tidak pernah memanfaatkan kuasa-Nya atau memaksa, tetapi senantiasa menggunakan cara hukum dan hak, maka Iblis pun mempertahankan wewenangnya sampai hal ini diambil darinya dengan cara yang sah.

    Inilah alasan mengapa ia dapat muncul di hadapan Allah di surga sebagai pendakwa atas saudara-saudara kita dan melawan mereka selama 4.000 tahun di bawah Perjanjian Lama.

    Iblis telah memperoleh kuasa atas semua manusia daging, dan hanya setelah ia dikalahkan dalam daging, sebagai ruang lingkup wewenangnya, ia dapat dilempar keluar selamanya, sebagai pendakwa, dari hadapan Takhta Surga.

    Itulah sebabnya Anak Allah telah datang dalam bentuk manusia, supaya dapat melawan dan mengalahkan Iblis di wilayahnya sendiri.

    Untuk alasan ini jugalah, di awal kehidupan bermasyarakat-Nya, setelah diurapi dan diakui secara terbuka sebagai Anak Allah, Tuhan kita "dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis." Kemenangan atas Iblis hanya dapat dicapai sesudah Ia sendiri menanggung dan melawan pencobaan.

    Namun, bahkan kemenangan ini pun masih belum mencukupi. Kristus datang supaya "oleh kematian-Nya ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut." Iblis memiliki kuasa atas maut karena hukum Allah. Hukum itu telah menempatkannya sebagai sipir penjara para tawanannya. Alkitab berkata, "Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat." Kemenangan dan pengusiran atas Iblis tidak dapat terjadi sampai tuntutan-tuntutan adil Hukum Taurat digenapi dengan sempurna. Orang berdosa harus diselamatkan dari kuasa Hukum Taurat itu sebelum ia dapat dibebaskan dari wewenang Iblis.

    Hanya melalui kematian dan penumpahan darah-Nya saja, Tuhan Yesus menggenapi tuntutan-tuntutan Hukum Taurat. Tiada henti-hentinya Hukum Taurat itu menyatakan bahwa "upah dosa ialah maut", "Orang yang berdosa akan mati." Menurut pelayanan khas bait suci, oleh persembahan korban dengan penumpahan dan pemercikan darah, hukum Taurat dengan upacaranya itu telah memberitahukan sebelumnya bahwa penebusan dan penghapusan dosa hanya dapat terjadi melalui penumpahan darah. Sebagai Penjamin kita, Anak Allah lahir di bawah Hukum Taurat. Ia menaatinya dengan sempurna. Ia melawan pencobaan-pencobaan Iblis untuk menarik diri-Nya dari bawah wewenang Hukum Taurat itu. Dengan suka rela Ia mengorbankan diri untuk menanggung hukuman dosa. Ia tidak mau mendengarkan pencobaan Iblis untuk menolak cawan penderitaan itu. Waktu Ia menumpahkan darah-Nya, ia telah mengabdikan seluruh hidup-Nya sampai akhir guna menggenapi Hukum Taurat. Ketika Hukum Taurat telah digenapi dengan sempurna seperti itu, kuasa dosa dan Iblis telah diakhiri. Itulah sebabnya maut tidak mampu menahan-Nya. "Oleh darah perjanjian yang kekal" Allah telah membangkitkanNya "dari antara orang mati." Demikian jugalah Ia "masuk ke surga dengan darah-Nya sendiri" untuk memperdamaikan kita.

    Ayat itu memberi kita gambaran yang menakjubkan perihal akibat luar biasa karena pemunculan Tuhan kita di surga. Kita membaca perihal perempuan yang penuh rahasia itu: "ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. ... Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan: mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga. Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya." Kemudian menyusullah nyanyian kemenangan dan di dalamnya terdapat kata-kata yang ada dalam ayat kita: "Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba."

    Di dalam Kitab Daniel kita membaca perihal pertempuran yang terjadi di antara Mikhael yang berpihak kepada Israel, umat Allah, dan penguasa-penguasa dunia. Kekuatannya sangat besar. Tetapi baru sekaranglah Iblis berhasil dilempar keluar oleh karena darah Anak Domba. Pendamaian bagi dosa dan penggenapan Hukum Taurat telah merampas semua wewenang dan hak Iblis. Seperti yang telah kita lihat, darah yang telah melaksanakan hal-hal yang begitu luar biasa di surga bersama Allah, dengan menghapuskan dosa dan melenyapkannya, memiliki kuasa serupa atas Iblis. Sekarang ia tidak berhak lagi untuk mendakwa. "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang telah diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita. ... Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba."

  3. Terdapat Kemenangan yang Berkelanjutan yang Menyusul Sesudah Kemenangan Pertama Ini. Karena Iblis Telah Dilemparkan ke Bumi, Sekarang Kemenangan Surgawi Itu Harus Dilaksanakan di Sini.

  4. Hal ini dinyatakan dalam kata-kata nyanyian kemenangan tadi, "Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba." Hal ini terutama dikatakan dalam kaitan dengan "saudara-saudara" yang disebut dalam nyanyian itu, namun juga merujuk pada kemenangan para malaikat. Kemenangan di surga dan di dunia berlangsung bersama-sama, dan berdiri di atas dasar yang sama. Kita mengetahui ini dari bacaan di Kitab Daniel 10:12-13 mengenai persekutuan yang ada di antara surga dan bumi dalam melaksanakan pekerjaan Allah. Segera setelah Daniel berdoa, malaikat itu pun bertindak, dan perjuangan selama tiga minggu di surga bertepatan dengan puasa yang dijalankan selama tiga minggu di bumi. Pertempuran di bumi adalah akibat dari pertempuran di kawasan tak terlihat di surga. Mikhael dan para malaikatnya, termasuk saudara-saudaranya di bumi, meraih kemenangan "oleh darah Anak Domba."

    Di dalam Wahyu 12, kita diajar dengan jelas perihal bagaimana pertempuran dipindahkan dari surga ke bumi. "Celakalah kamu, hai bumi dan laut!" seru suara dari surga itu. "Karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat." Kemudian kita membaca: "Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu."

    Perempuan itu menggambarkan umat dari siapa Yesus telah lahir. Ketika Iblis tidak mampu mencelakakan Dia lagi, ia lalu menganiaya orang-orang yang merupakan umat-Nya. Para murid Tuhan dan gereja pada tiga abad pertama telah mengalaminya. Di dalam penganiayaan berdarah yang menyebabkan ratusan ribu orang Kristen mati syahid, Iblis berusaha sekeras-kerasnya untuk membawa gereja kepada kemurtadan atau bahkan membasminya sama sekali. Jadi, dalam pengertian sesungguhnya, pernyataan bahwa "mereka mengalahkan dia oleh darah Anah Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut," berkaitan dengan orang-orang yang mati syahid itu.

    Sesudah abad-abad penuh aniaya, gereja mengalami berabad-abad ketenangan dan kemakmuran duniawi. Iblis telah mencoba menggunakan paksaan, tetapi sia-sia saja. Dengan menggunakan kesenangan dunia, ia justru lebih berhasil. Ketika gereja menyesuaikan diri dengan dunia, segala sesuatu menjadi bertambah gelap, hingga pada Abad Pertengahan, kemurtadan orang Katolik Roma pun mencapai puncaknya. Bagaimanapun, selama abad-abad ini, ada banyak orang yang di tengah kesengsaraan yang mengelilingi mereka, justru berjuang mempertahankan iman, dan melalui kesalehan hidup dan kesaksian mereka bagi Tuhan, pernyataan tadi sering kali diteguhkan: "Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut."

    Ini tak lain tak bukan merupakan kuasa rahasia yang melalui Reformasi telah mematahkan kuasa dahsyat yang diraih Iblis dalam gereja. "Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba." Oleh sebab penemuan dan penerapan pribadi serta pemberitaan kebenaran mulia itulah kita "oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus, yang telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya," dan yang telah memberi para tokoh Reformasi kuasa yang begitu dahsyat serta kemenangan yang begitu luar biasa.

    Sejak zaman Reformasi, masih tampak bahwa seimbang dengan kemuliaan yang diberikan kepada darah Anak Domba, gereja senantiasa diilhami kehidupan baru guna meraih kemenangan atas suasana yang mati dan penuh kekeliruan, selain untuk memberitakan Injil kepada dunia! Ya, di tengah orang-orang liar yang sama sekali tidak mengenal Tuhan, di mana takhta Iblis tak terganggu selama ribuan tahun, darah itu jelas merupakan senjata ampuh untuk menghancurkan kuasanya. Pemberitaan "darah di atas salib" sebagai pendamaian bagi dosa-dosa dunia dan dasar kasih Allah yang cuma-cuma dan penuh pengampunan, merupakan kuasa yang mampu membuka dan melembutkan hati yang paling gelap sekalipun hingga diubah dari tempat kediaman Iblis menjadi bait suci Allah yang Mahatinggi.

    Apa yang berlaku bagi gereja, juga berlaku bagi setiap orang Kristen. Di dalam "darah Anak Domba" itu, ia akan selalu menang. Hanya pada waktu seseorang diyakinkan perihal kuasa yang ada di dalam darah itu bersama Allah di surga -- kuasa untuk menghasilkan pemulihan hubungan melalui penghapusan dosa, kuasa yang merampas kuasa Iblis atas kita dengan sempurna untuk selamanya, kuasa untuk mengerjakan keyakinan teguh di dalam hati kita perihal perkenan Allah, kuasa untuk menghancurkan kuasa dosa -- atau pada waktu seseorang hidup di dalam kuasa darah itu, pencobaan yang dilancarkan Iblis tidak mampu menjeratnya lagi.

    Di mana pun darah kudus Anak Domba itu dipercikkan, di situlah Allah berdiam dan Iblis melarikan diri. Baik di surga maupun di bumi -- dan di dalam hati kita -- pernyataan perihal kemenangan yang berlanjut itu berlaku: "Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba."

  5. Kita Juga Turut Mengambil Bagian dalam Kemenangan Ini -- Jika Kita Diperhitungkan di Antara Orang-orang yang Telah Disucikan dalam Darah Anak Domba.

Untuk dapat menikmati hal ini sepenuhnya, kita harus menaruh perhatian pada fakta-fakta berikut:

  1. Tidak akan ada kemenangan tanpa pertempuran.
  2. Kita harus mengakui bahwa kita berdiam di daerah musuh. Apa yang dinyatakan kepada Rasul Yohanes dalam penglihatannya itu harus tertanam dalam kehidupan sehari-hari kita. Iblis telah dilemparkan ke bumi dan sangat geram karena waktunya sangat singkat. Sekarang ia tidak bisa lagi menjangkau Yesus, tetapi ia berusaha menjangkau-Nya dengan menyerang umat-Nya. Kita harus senantiasa hidup di bawah kesadaran kudus bahwa kita diperhatikan setiap saat oleh musuh yang tidak bosan-bosannya berusaha membawa kita seutuhnya, atau bahkan sebagian -- sesedikit apa pun -- ke bawah kuasanya. Ia adalah "penguasa dunia ini" secara harfiah. Segala sesuatu yang ada di dalam dunia siap melayaninya, dan dia tahu cara memanfaatkannya dalam upaya membawa gereja agar tidak setia lagi kepada Tuhan dan untuk mengilhaminya dengan rohnya -- yakni roh duniawi.

    Ia tidak sekadar memanfaatkan pencobaan yang biasa dikenal sebagai dosa, tetapi ia juga tahu cara untuk bisa masuk ke dalam kegiatan sehari-hari kita. Ke dalam upaya kita mencari sesuap nasi dan uang. Ke dalam politik, usaha komersial, literatur, dan ilmu pengetahuan kita. Juga ke dalam studi dan saat-saat santai kita. Ia tahu cara membuat apa pun yang sebenarnya sah menjadi sarana untuk mengajukan tipu muslihatnya.

    Orang percaya yang rindu mengambil bagian dalam kemenangan atas Iblis "oleh darah Anak Domba" harus mau berjuang. Ia harus bersusah payah memahami tabiat musuhnya. Ia harus membiarkan diri diajar oleh Roh melalui firman, perihal apa saja rahasia cerdik Iblis -- yang di dalam Alkitab disebut "seluk-beluk Iblis," yang begitu sering digunakannya untuk menipu manusia. Orang percaya harus tahu bahwa perjuangan ini bukanlah melawan darah dan daging, "tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12) Ia harus mengabdikan diri dengan segala cara dan bagaimanapun juga melanjutkan pertempuran sampai mati. Baru sesudah itulah ia akan mampu bergabung dalam nyanyian kemenangan itu: "Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut."

  3. Kemenangan diperoleh melalui iman.
  4. "Inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?" (1 Yohanes 5:4-5) "Kuatkanlah hatimu," kata Tuhan Yesus, "Aku telah mengalahkan dunia." Iblis adalah musuh yang telah dikalahkan. Dia tidak memiliki hak apa pun, sama sekali tidak berhak untuk berkata sesuatu melawan orang kepunyaan Tuhan Yesus. Hanya karena ketidakpercayaan saya, atau karena ketidaktahuan dan melepaskan fakta bahwa saya dapat turut mengambil bagian dalam kemenangan Yesus, saya dapat memberi Iblis kuasa atas diri saya, yang sebenarnya sudah tidak dimilikinya lagi. Namun, ketika saya tahu melalui iman yang hidup bahwa saya satu dengan Tuhan Yesus dan bahwa Tuhan sendiri hidup di dalam diri saya, sambil memelihara dan mengerjakan di dalam diri saya kemenangan yang telah diraih-Nya, maka Iblis tidak lagi berkuasa atas saya. Kemenangan melalui "darah Anak Domba" adalah kekuatan hidup saya.

    Hanya iman seperti inilah yang dapat mengilhami keteguhan hati dan sukacita dalam perjuangan itu. Dengan berpikir tentang kuasa mengerikan dari musuh, tentang kewaspadaannya yang tidak pernah kendur, tentang cara bagaimana ia telah mengambil segala sesuatu di bumi untuk mencobai kita, tidaklah salah bila dikatakan -- seperti yang dipikirkan beberapa orang Kristen -- bahwa perjuangan ini terlampau berat, bahwa mustahil orang mampu selalu hidup di bawah tekanan seperti itu. "Hidup akan mustahil dijalani!" Hal ini memang benar sekali jika kita, dalam kelemahan kita, harus berhadapan dengan musuh atau meraih kemenangan dengan kekuatan sendiri. Namun bukan seperti inilah panggilan yang harus kita jalankan. Yesus adalah Pemenang. Kita hanya perlu mengisi jiwa kita dengan bayangan tentang Iblis yang dilemparkan keluar dari surga oleh Yesus untuk memelihara kuasa dan kemenangan darah-Nya. Kita hanya perlu diisi dengan iman pada darah yang membuat Yesus beroleh kemenangan, dan juga beriman bahwa Dia sendiri ada bersama kita. Maka kita juga "lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang mengasihi kita."

  5. Kemenangan iman ini bersekutu dengan darah Anak Domba.
  6. Iman bukanlah sekadar gagasan yang saya pertahankan, suatu pendirian yang menguasai saya -- ini adalah suatu kehidupan! Iman membawa jiwa berhubungan langsung dengan Allah dan hal-hal surgawi yang tidak tampak, tetapi di atas segalanya, dengan darah Yesus. Sungguh tidak mungkin untuk percaya pada kemenangan atas Iblis oleh darah itu tanpa berada di bawah kuasanya sepenuhnya.

    Percaya pada kuasa darah itu membangkitkan kerinduan dalam diri saya untuk mengalami sendiri hal itu sebagai suatu kuasa. Setiap pengalaman tentang hal ini membuat keyakinan terhadap kemenangan itu semakin mulia.

    Berusahalah untuk masuk lebih jauh ke dalam pemulihan hubungan sempurna dengan Allah yang menjadi milik Anda. Hiduplah dengan penuh keyakinan, senantiasa melatih iman dalam janji-Nya bahwa "darah menyucikan dari segala dosa." Serahkanlah diri Anda supaya dikuduskan dan dibawa menghadap Allah melalui darah itu: biarlah ini menjadi makanan yang menghidupkan serta kekuatan Anda. Dengan demikian, Anda akan memiliki pengalaman kemenangan yang tiada putus-putusnya atas Iblis dan semua pencobaannya. Orang yang berjalan bersama Allah sebagai imam yang ditahbiskan, akan memerintah seperti raja yang mengalahkan Iblis.

    Hai, orang percaya, oleh darah-Nya, Tuhan Yesus bukan saja telah mengangkat kita menjadi imam, tetapi juga raja bagi Allah, supaya kita dapat menghadap Allah, bukan saja dalam kesucian dan pelayanan keimaman, tetapi juga memerintah bagi Allah dalam kuasa seperti raja. Roh seperti raja haruslah mengilhami kita -- keteguhan hati seperti raja untuk memerintah atas musuh-musuh kita. Darah Anak Domba harus semakin menjadi tanda dan meterai, bukan saja untuk pengampunan atas semua kesalahan tetapi juga untuk kemenangan atas kekuatan dosa!

    Kebangkitan dan kenaikan Yesus serta pengusiran atas Iblis merupakan akibat dari penumpahan darah-Nya. Sekarang, di dalam diri Anda pemercikan darah itu akan membuka jalan menuju sukacita kebangkitan bersama Yesus, dan duduk bersama-Nya di dalam surga.

    Oleh karena itu, sekali lagi, saya berseru kepada Anda untuk membuka diri sepenuhnya supaya kuasa darah Yesus bisa masuk. Maka hidup Anda akan menjadi pengamatan yang terus-menerus terhadap kebangkitan dan kenaikan Tuhan kita, dan juga kemenangan yang tak berkesudahan atas semua kekuatan neraka. Hati Anda pun akan senantiasa bergabung dengan nyanyian surgawi: "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita." Ingatlah selalu, mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba.

Diambil dari:

Judul asli buku : The Power of the Blood of the Cross
Judul buku terjemahan : Kuasa Darah Yesus di Kayu Salib
Judul asli artikel : Kemenangan Melalui Darah
Penulis : Andrew Murray
Penerjemah : Paul A. Rajoe
Penerbit : Penerbit YAKIN, Surabaya
Halaman : 125 -- 139