Kasih Sejati

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Oleh: Peserta Kelas Diskusi Paskah Maret 2011 - Fransiskus

Filipi 2:8
"Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."

Yesus yang adalah manusia 100% dan juga Allah 100%, pada keadaan-Nya sebagai manusia dia sangat menderita sekali namun ia tetap setia agar setiap kita yang berdosa lepas dari segala kuasa dosa dan masuk kehadirat-Nya. Saya teringat sebelum siksa sengsara-Nya Dia berdoa dengan berkeringat darah di dahi-Nya (Luk 22:44b). Berdasarkan beberapa referensi yang saya pernah ketahui ketika orang berkeringat sampai berdarah kemungkinan besar orang tersebut dalam keadaan tekanan yang luar biasa, karena ketika orang sedang dalam tekanan biasanya akan keluar keringat namun kalau sampai keluar keringat darah tekanan tersebut sangat besar sehingga pembulu-pembulu darah ada yang pecah.

Dalam hal ini Yesus sebagai manusia sedang dalam keadaan yang amat sangat tertekan dan ketakutan yang luar biasa (Mat 26:37), bahkan dijelaskan dalam terjemahan Yunani "lupeistai" dan "adhmonein" dimana kalau diterjemahkan dalam bahasa inggris "to be sorrowful dan deeply distressed." Dalam keadaan seperti ini sangat tidak mungkin bagi kita untuk mengalami hal ini dan bertahan. Apakah kita pernah dalam tekanan seperti ini? Saya rasa belum pernah ada.

Bahkan ketika Yesus dalam siksaan-Nya sempat diludahi, ketika kita diludahi berarti harga diri kita sudah rendah dimata orang namun apakah kita bisa menerima hal itu? Sangat sulit sekali. Dan hingga Ia di salibkan sempat diolok-olok itu saja seandainya kita yang mengalami akan sangat sulit sekali menerimanya. Belum berbagai siksaan lain yang dihadapi-Nya kita pun akan sulit menerimanya sebagai manusia karena hukuman salib adalah hukuman yang paling tidak manusiawi dari hukuman yang pernah ada di muka bumi ini.

Jadi, pengorbanan Dia yang menderita karena kita yang berdosa dimana upah dosa adalah maut. Dan maut sudah dikalahkan dengan kematian-Nya dengan proses yang sangat berat sekali untuk ukuran manusia hingga bangkit dari maut sehingga kita dapat terbebas dari upah dosa tersebut, maka sudah seharusnya kita yang sudah terselamatkan hendaknya mengucap syukur dan memberikan kabar sukacita ini kepada orang lain yang belum terselamatkan oleh karena pengorbanan-Nya yang besar dan luar biasa.