Anak Allah Harus Bangkit

Apa yang Menjadikan Paskah Tak Terelakkan

"Mereka telah mengambil Tuhan dari kubur ...." Perkataan yang diucapkan Maria Magdalena yang terengah-engah ini adalah berita pertama yang pecah pada Minggu pagi. "... dan kami tidak tahu di mana mereka meletakkan-Nya" (Yoh. 20:2, AYT).

Seperti Maria Magdalena yang sudah berlari untuk memberi tahu Petrus dan "murid lain yang dikasihi Yesus", mereka kemudian berlari bersama-sama untuk melihatnya sendiri. Sekarang mereka percaya bahwa jasad Yesus sudah tidak ada. Namun entah bagaimana, meski dalam banyak kesempatan mereka sudah mendengar perkataan Yesus tentang kematian dan kebangkitan-Nya yang akan terjadi (Mrk. 8:31; 9:31; 10:33-34), mereka, seperti juga Maria, "tidak memahami" (Mrk. 9:32) hal itu.

Pada hari Minggu yang mengubah dunia itu, murid-murid terdekat Yesus beranggapan bahwa jasad-Nya telah diambil dan diletakkan di tempat lain. "Sebab, sebelum kejadian itu, mereka belum mengerti Kitab Suci, bahwa Yesus harus bangkit kembali dari kematian." (Yoh. 20:9) Harus bangkit. Dalam benak Yesus, dan di pelataran surga, dan di lembar-lembar Kitab Suci, penderitaan dan kebangkitan Mesias bukanlah sekadar prediksi atau kemungkinan. Hal ini bukanlah pilihan. Hal ini adalah suatu keharusan. Yesus sudah mengatakannya sebelumnya, dan kemudian pada hari itu Dia menjelaskannya sekali lagi -- bahwa hal itu diperlukan, dan bahwa itu harus terjadi dengan cara demikian.

Oh, betapa bodohnya kamu dan lamban hati untuk memercayai segala sesuatu yang telah dikatakan oleh para nabi. Bukankah Kristus harus mengalami penderitaan ini dan masuk ke dalam kemuliaan-Nya. (Luk. 24:25-26, AYT)

Segala sesuatu yang tertulis tentang Aku dalam hukum Taurat Musa, kitab para nabi, dan Mazmur harus digenapi ... bahwa Kristus harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga. (Luk. 24:44-46, AYT)

Jika tidak ada Kristus yang hidup, tidak akan ada kekekalan yang memuaskan.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Namun, saat Petrus dan Yohanes pertama kali melihat ke dalam kubur yang kosong itu, keharusan itu belum mereka pahami. Masih diliputi duka yang mendalam dari dua hari sebelumnya -- yang tanpa diragukan lagi merupakan dua hari terburuk dalam hidup mereka -- mereka masih berusaha menerima kematian-Nya. Dan seperti Maria, mereka juga beranggapan bahwa Dia masih mati dan "mereka" -- sekelompok orang yang tidak dijelaskan -- sudah memindahkan jasad-Nya. Melihat kubur yang kosong itu, Yohanes mencatat, "kedua murid itu pulang ke rumah" (Yoh. 20:10, AYT).

Hanya Maria yang tetap tinggal, dan tidak lama setelahnya mendapati bahwa Yesus hidup. Kemudian, sesuai perintah-Nya, Maria "pergi dan memberi tahu murid-murid, 'Aku telah melihat Tuhan'" (Yoh. 20:18, AYT).

Kristus Harus Bangkit

Betapa pun lambatnya murid-murid-Nya memahami keharusan penderitaan dan kebangkitan-Nya, mereka segara diyakinkan -- bukan hanya bahwa Dia benar-benar telah bangkit (fakta itu tidak terbantahkan), tetapi juga bahwa Dia harus bangkit. Itu adalah suatu keharusan. Itu harus terjadi dengan cara yang demikian.

Lima puluh hari kemudian, saat hari Pentakosta tiba, Petrus mengkhotbahkan hal ini di depan publik -- bukan hanya tentang peristiwa kebangkitan, tetapi juga keharusannya. Di puncak khotbahnya, Petrus menyatakan tentang Tuhannya -- "Yesus ini," yang "kamu bunuh dengan menyalibkan-Nya melalui tangan orang-orang durhaka" -- "Allah membangkitkan-Nya, dan melepaskan-Nya dari penderitaan maut karena tidak mungkin bagi-Nya dikuasai oleh kematian" (Kis. 2:23-24). Kematian tidak dapat menguasai-Nya, mengekang-Nya, ataupun menahan-Nya. Itu tidak mungkin. Kristus, Sang Anak, harus bangkit.

Mungkin kita bertanya-tanya pada Minggu Kebangkitan, mengapa itu perlu? Mengapa Yesus harus bangkit? Kisah Para Rasul 2 dan teks-teks Perjanjian Baru lainnya, memberi kita setidaknya lima alasan mengapa Sang Anak harus bangkit kembali.

1. Untuk Menggenapi Firman Allah

Pertama-tama, firman dari Allah yang hidup dipertaruhkan. Melalui para nabi-Nya, Allah sudah lama menjanjikan untuk mengutus kepada umat-Nya Dia Yang Diurapi, Sang Mesias, Pewaris takhta Daud dan harapan bagi bangsa Israel. Dan, unsur penting dalam janji Mesianik tersebut adalah pemerintahan kekal (2Sam. 7:13, 16). Tidak hanya keturunan Daud akan berlanjut dari generasi ke generasi, tetapi satu pewaris yang agung akan datang dan memerintah tanpa akhir (Mzm. 45:6-7; 102; 25-27; 110:1-4).

Bahkan, dalam masa hidupnya, Daud sendiri telah berbicara bahwa Allah tidak akan meninggalkan jiwanya di Sheol (dunia orang mati - Red.) -- dan tidak akan membiarkan "orang kudus-[Nya] melihat kebinasaan" (Mzm. 16:10, AYT). Hal ini yang akhirnya dipandang oleh orang Kristen, termasuk Petrus, sebagai salah satu dari banyaknya pengharapan dalam Perjanjian Lama akan kebangkitan Mesias. Itulah cara Petrus berargumen dalam khotbah pertama yang diurapi oleh Roh Kudus itu (Kis. 2:29-32).

Raja yang diurapi Allah akan menggenapi janji dari Firman Allah. Yesus adalah Kristus itu. Maka dari itu, tidak mungkin bagi-Nya untuk dipisahkan dari pemerintahan kekal itu. Musuh terakhir pun tidak dapat menahan-Nya. Walaupun kuasa kematian tampaknya sangat kuat, kuasa itu tidak akan pernah dapat menandingi karya Allah yang Mahakuasa bagi Mesias-Nya.

2. Untuk Membuktikan Kebenaran tentang Kehidupan-Nya yang Tidak Berdosa

Kehidupan Yesus adalah tanpa dosa. Dia sepenuhnya tidak bersalah, dan kebangkitan-Nya membuktikan kehidupan manusiawi-Nya yang sempurna. Kematian dan setan tidak dapat menuntut Dia karena Yesus tidak memiliki "surat utang dan aturan-aturan tuntutannya yang menghalangi hubungan antara Allah dan [Dia]" (Kol. 2:14, AYT). Berkenaan dengan Yesus, setan dan antek-anteknya tidak pernah memiliki senjata; mereka tidak punya pengaruh terhadap-Nya karena Dia tidak berdosa ataupun bersalah. Sebaliknya, dengan kematian-Nya, Yesus memberikan diri-Nya, memakukan surat utang kita di atas kayu salib, yang diperoleh karena pelanggaran-pelanggaran kita, dan melucuti para iblis yang menentang kita (Kol. 2:13, 15).

Lukas terus-menerus menyuarakan tentang ketidakbersalahan Kristus -- tiga kali dari mulut Pilatus, kemudian sekali lagi oleh seorang penjahat yang disalibkan di samping-Nya, dan terakhir oleh seorang perwira yang melihat-Nya mengembuskan napas terakhir (Luk. 23:4, 14-15, 22, 41, 47). Ketidakbersalahan Yesus -- bahwa Dia tidak melakukan "kesalahan yang layak mendapat hukuman mati," baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah -- seperti yang ditegaskan oleh Paulus, "dibenarkan oleh Roh" (1Tim. 3:16, AYT) dalam kebangkitan Kristus.

3. Untuk Menegaskan Karya Kematian-Nya

Kebangkitan juga menegaskan bahwa kematian Yesus di atas salib benar-benar terjadi. Itu telah diperhitungkan. Pernyataan-Nya menjelang kematian-Nya, "Sudah selesai" (Yoh. 19:30), dipastikan benar oleh kebangkitan-Nya. Seandainya Dia tetap mati, keyakinan apakah yang dapat kita miliki bahwa pengorbanan-Nya berhasil, dan bahwa pengorbanan itu cukup bagi kita dan semua orang percaya? Harapan teguh apa yang dapat kita miliki bahwa Dia memang benar bukan hanya tidak bersalah atas dosa-Nya sendiri, tetapi bahwa kematian-Nya dapat membayar dosa kita, menggantikan kita?

Paulus mencatat dalam Roma 4:25 bahwa Yesus "diserahkan" untuk mati "karena pelanggaran-pelanggaran kita, dan yang dibangkitkan demi pembenaran kita." Kebangkitan menunjukkan bahwa karya-Nya berhasil -- tidak hanya untuk menutupi dosa kita dengan kematian-Nya, tetapi juga untuk bangkit menjadi kebenaran kita -- pembenaran kita -- di hadapan Allah yang kudus. Poin ini mengarah ke alasan yang berbeda, tetapi tidak terpisahkan.

4. Untuk Memberi Kita Akses terhadap Karya-Nya

Gambar:Yesus Bangkit

Tidak hanya dosa kita yang perlu dibayar -- oleh Kristus, di luar kita -- tetapi kita juga perlu memiliki akses terhadap karya-Nya agar keselamatan itu dapat berlaku bagi kita. Kemungkinan untuk diselamatkan saja tidaklah cukup. Kita memerlukan penyelamatan yang sebenarnya, yang datang melalui instrumen yang disebut iman, yang menyatukan kita dengan Tuhan yang telah bangkit dan hidup.

Betapa pun cukupnya pengorbanan diri-Nya untuk menutupi dosa-dosa kita, kita tidak akan memiliki akses terhadap karya keselamatan itu jika Dia tidak hidup supaya kita dapat dipersatukan dengan-Nya. Namun, Dia hidup. Seperti yang Dia katakan, "Akulah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, tetapi lihatlah Aku hidup sampai selama-lamanya, dan Aku memegang kunci maut dan kunci Hades" (Why. 1:17-18, AYT). Tidak ada keselamatan besar bagi kita jika kita tidak disatukan dengan Tuhan yang hidup oleh iman untuk mendapat bagian dari karya-Nya yang berlaku bagi kita.

5. Untuk Menjadi Tuhan yang Hidup dan Harta Karun bagi Kita

Satu keharusan yang terakhir adalah keharusan yang tertinggi: Yesus hidup agar kita dapat mengenal dan menikmati hidup bersama Dia selamanya.

Tidak akan ada kabar baik yang tertinggi jika Harta Karun dan Mutiara Berharga kita mati. Bahkan jika dosa-dosa kita dapat dibayar, kebenaran disediakan dan berlaku bagi kita, dan surga dijamin, tetapi jika Yesus masih mati, maka tidak akan ada keselamatan besar pada akhirnya -- tidak akan ada jika Juru Selamat dan Pengantin Laki-Laki kita tetap mati. Yang menjadi pusat dari kemenangan Paskah bukanlah dari apa Dia telah menyelamatkan kita, melainkan untuk apa Dia menyelamatkan kita -- bahkan lebih baik lagi, untuk siapa Dia menyelamatkan kita: diri-Nya.

Jiwa kita yang gelisah tidak akan menemukan peristirahatan dan sukacita kekal yang terus bertambah dalam bumi baru yang tidak memiliki Kristus, betapa pun memesonanya bumi itu. Jalanan emas, pertemuan kembali dengan orang-orang yang kita kasihi, dan kehidupan tanpa dosa mungkin akan menggetarkan hati kita pada awalnya -- tetapi hal-hal itu pada akhirnya tidak akan memuaskan kita, tidak untuk selamanya, dan tidak dengan sendirinya. Kita diciptakan untuk Yesus. Dia berada di pusat kehidupan yang sejati saat ini, dan Dia akan demikian selamanya. Jika tidak ada Kristus yang hidup, tidak akan ada kekekalan yang memuaskan. Namun, Dia benar-benar hidup -- untuk kita kenal dan nikmati selamanya. (t/Odysius)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://desiringgod.org/articles/the-son-must-rise
Judul asli artikel : The Son Must Rise
Penulis artikel : David Mathis