Minggu Palma

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Gambar: minggu palma

Minggu Palma pertama! Ketika itu seluruh penduduk kota tumplak memadati tepi-tepi jalan raya. Dengan ranting daun palma, mereka melambaikan tangan mereka. Jubah-jubah bertebaran di jalan-jalan bagaikan permadani berwarna-warni. Mereka melompat. Mereka menari. Mereka berteriak. Hosana!

Itulah ketika Yesus memasuki kota. Menunggang keledai. Bukan kuda putih atau kereta kencana. Hosana!

Ada satu ketika, untuk waktu yang lama, saya melihat peristiwa di Minggu Palma pertama itu sebagai ironi semata. Tentang kemunafikan manusia, plintat-plintutnya massa, yang hari ini berteriak "Hosana!", lalu esok harinya berteriak "Salibkan Dia!" dengan semangat dan gairah yang sama. Tentang harapan-harapan mesiani yang melambung tinggi tetapi, ah, amat dangkalnya; harapan bahwa Yesus akan muncul sebagai panglima perang mandrasakti yang akan membebaskan seluruh bangsa dari cengkeraman penjajah Roma dengan kekuatan senjata dan bahasa kuasa.

Sebab itu, saya selalu memahami Minggu Palma yang pertama itu sekadar sebagai keramaian massa yang murahan, seperti pawai-pawai yang sering saya saksikan. Yang hari ini hiruk-pikuk dan ramai setengah mati, seolah-olah seluruh kota sesak bertabur bunga. Namun, keesokan harinya senyap dan mati, cuma menyisakan timbunan sampah di sudut- sudutnya.

Namun, kesan saya tentang Minggu Palma pertama itu kini tak lagi begitu. Saya tahu, saya tidak boleh menilai sebuah peristiwa di masa lalu dengan kacamata saya sekarang ini. Saya harus belajar menghargai makna sebuah peristiwa dalam konteksnya, bukan dalam konteks saya saja.

Dan apakah yang saya peroleh? Membayangkan apa yang terjadi di Minggu Palma pertama itu, mengingatkan saya kepada Emily Dickinson yang pernah berteriak, "Ambillah semuanya yang ada padaku, namun berikanlah kepadaku ekstase, rasa gembira yang meluap-luap!" Saya juga lalu teringat pada sebuah kalimat dalam Jesus Christ, Superstar, bagian dari nyanyian massa ketika Minggu Palma itu, yang begini bunyinya, "Wahai Kristusku, Kautahu betapa aku mencintai-Mu. Adakah Kau lihat lambaian tanganku?" ("Christ, You know I love you. Did You see I waved?")

Minggu Palma adalah ketika mereka menyatakan cinta mereka kepada Yesus, dengan lambaian daun palma.

FacebookTwitterWhatsAppTelegram

Minggu Palma adalah ketika mereka dalam ekstase, menyambut Yesus. Minggu Palma adalah ketika mereka menyatakan cinta mereka kepada Yesus, dengan lambaian daun palma.

Namun, kalau begitu, apakah pentingnya hal itu bagi Anda dan saya?

***

Jawab saya begini, Saudara. Bolehkah saya bertanya: kapankah terakhir kali Anda mengalami ekstase, rasa gembira yang meluap-luap, ketika Anda mengalami perjumpaan dengan Dia?

Atau, kapan terakhir kali Anda menyatakan cinta Anda kepada-Nya secara nyata, walaupun tidak harus hanya dengan lambaian daun palma?

Bukankah mesti kita akui, bahwa penghayatan agamaniah kita selama ini terasa begitu formal, begitu verbal, dan begitu rasional? Begitu resmi, sehingga terasa mati. Cuma sarat dengan kata-kata, tetapi tanpa rasa dan tanpa makna. Penuh dengan konsep-konsep yang masuk akal, namun tidak menggugah dan tidak menyentuh hati.

Paling sedikit di Minggu Palma pertama itu, mereka merasa bebas dari berbagai kekangan formalitas, dan menyatakan kesukacitaan mereka dengan spontan, dan oleh karena itu dengan autentik.

Tidak ada dalam liturgi resmi, bahwa mereka mesti menggelar jubah-jubah mereka. Tidak ada dalam skenario, bahwa mereka mesti membawa dan melambai-lambaikan daun palma. Tidak ada dalam peraturan, bahwa mereka mesti berteriak "Hosana!" Tidak ada rapat panitia atau seminar sehari untuk memperdebatkan bagaimana cara dan bentuk yang terbaik untuk menyambut Yesus yang besok akan memasuki kota. Tidak ada!

Yang ada hanyalah hati yang meluap-luap dengan sukacita. Dan, kemudian tindakan-tindakan yang sekadar menuruti getaran hati dan dorongan hati nurani, bahkan naluri!

Yang ada hanyalah teriakan yang amat spontan, "Wahai Kristusku, Kautahu betapa aku mencintai-Mu. Adakah Kaulihat lambaian tanganku?" Tanpa rekayasa.

***

Menurut hemat saya, segi-segi inilah yang telah hilang dalam spiritualitas dan religiositas kita. Autentisitas dan spontanitas.

Kita telah terjebak dalam sikap yang terlalu mengagungkan rasio. Tanpa sadar, kita telah menjadi murid-murid Descartes. Cogito ergo sum. Aku berpikir, karena itu aku ada.

Saya tidak menyangkali pentingnya akal. Keunikan manusia dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan adalah bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir. Sebab itu, manfaatkanlah akal dan pergunakanlah rasio Anda semaksimal mungkin!

Juga dalam sikap dan tindak agamaniah kita. Saya tidak pernah beranggapan bahwa iman mesti bertentangan dengan akal. Atau, bahwa iman datang dari Tuhan, sedang akal datang dari setan. O, sama sekali tidak! Kita harus, begitu kata Yesus, mengasihi Tuhan juga dengan sepenuh akal budi kita. Omong kosong kalau ada yang mengatakan bahwa ia bisa mempercayai sesuatu yang tidak masuk akal.

Namun, yang ingin saya katakan adalah: betapa pun kita memanfaatkan rasio dan akal, keduanya bukanlah segala-galanya. Ada kenyataan- kenyataan yang melampaui akal. Yang tidak dapat dipahami dan tidak dapat dijelaskan hanya dengan akal. Bukan karena ia irasional, namun karena ia transrasional. Artinya: bukan karena ia bertentangan dengan akal, melainkan karena ia melampaui akal.

Justru itulah hal paling indah dan paling dalam pada kehidupan manusia. Komitmen manusia kepada sesuatu, sehingga ia rela berkorban apa saja bahkan sampai melepas nyawa, tidak pernah terbina jika ia hanya memahaminya secara akaliah. Komitmen hanya terbentuk apabila secara emosional ia benar-benar meyakininya sebagai soal hidup dan mati.

Dan kemudian, alangkah hambar dan dangkalnya cinta, bila orang cuma mengikuti logika akal, dan tak bersedia mendengarkan getaran hati.

Iman juga begitu. Bila ia sekadar menyapa kepala, tapi tidak pernah meresap ke hati, ia akan seperti benih yang terjatuh di tanah yang tipis dan berbatu-batu. Tumbuh sebentar, kemudian kering lalu luruh.

***

Di pihak lain, tentu juga sama salahnya mengatakan bahwa iman hanyalah emosional belaka. Yang membuat orang menjadi sentimentil, lalu sama sekali kehilangan rasionalitas dan objektivitasnya. Iman yang seperti ini adalah ibarat balon. Semarak dan meriah di luarnya, tapi di dalamnya kosong. Atau sebentar mengembang, kemudian segera mengempis.

Jadi persoalan kita adalah bagaimana memadukan antara keduanya. Bukan memilih salah satu.

Minggu Palma pertama ternyata tidak dapat bertahan lama. Sebabnya telah saya katakan di atas. Ia cuma berhenti pada ekstase. Pada emosi.

Mungkin kalimat terakhir ini dapat membantu kita dalam memadukan antara "rasio" dan "rasa": sungguh amat mungkin menanggapi dan menghayati Injil (atau apa saja) dengan serius, tanpa membuat kita bersikap terlalu serius.

Bukalah pintu bagi getaran hati! Toh serius tidak mesti membuat kita tidak lagi bisa tertawa, bercanda, atau mencinta.

Diambil dari:
Judul buku : Mengapa Harus Salib
Penulis : Pdt. Eka Darmaputera, Ph.D.
Penerbit : Gloria Graffa
Halaman : 11 -- 17