Mengapa Yesus dibunuh

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Oleh: Peserta Kelas Diskusi Paskah Maret 2010 - Johny Sinaga

"Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya (Lukas 23:46).

Mengapa Yesus dibunuh? Jawaban atas pertanyaan itu cukup jelas. Kejahatan-Nya diumumkan pada sebuah papan kecil di kayu salib, "Raja orang Yahudi" (Markus 15:26). Pontius Pilatus satu-satunya orang yang berkuasa untuk menghukum Yesus hanya memberi perhatian pada identitas politik Yesus saja. Pertanyaan yang diajukan oleh Pontius Pilatus dalam keempat Injil adalah, "Apakah Engkau raja orang Yahudi? Pontius Pilatus menegakkan kekuasaan religius dan duniawi kaisar yang didewakan, sehingga ditingkat dasar ini bahwa agamalah yang membunuh Dia. Pada saat itu Yesus menjawab Pontius Pilatus, "Engkau sendirilah yang mengatakannya" (Mat 27:11, Mark 15:2, Luk 23:3). Itulah gelar Yesus yang dengannya Ia telah memprakarsai pemerintahan surgawi.

Yesus menjawab "Engkau mengatakan bahwa Aku adalah Raja dan untuk itulah Aku lahir dan datang kedalam dunia."

Fakta bahwa Yesus dibunuh karena menjadi raja bangsa Yahudi, sehingga prajurit Romawi bersandiwara menobatkan Dia sebagai raja dan memakaikan jubah berwarna ungu, memberinya mahkota duri, penyiksaan hingga penyaliban yang sangat keji. Penyaliban adalah penderitaan selama tergantung di kayu salib. Penyaliban membuat Yesus mengalami hal sangat ngeri dan Ia tidak pernah menganggap orang lain najis tetapi Dia menjadi yang ternajis.

Dibalik semua rasa kengerian tersebut ada sebuah pertanyaan mengapa Yesus harus mati? Yesus harus menjelma (inkarnasi) menjadi manusia untuk membayar utang manusia kepada Allah karena manusia tidak dapat/mampu untuk membayarnya sendiri.

Pelanggaran dosa asal dan dosa semua sesudahnya bersifat kekal. Manusia hanya bisa diwakili oleh perantara yang kekal untuk melunasi utang itu dengan harga yang mahal yaitu nyawa-Nya. Yesus pemersatu segala ciptaan sesuai dengan tujuan-Nya yang mulia seperti Paulus mengatakan dalam suratnya ke Efesus 1:8-10.

Bagi Paulus Allah itu sebagai seorang bapak dari anak yang hilang maka Ia yang lebih terdahulu yang menyongsong dan memeluk anaknya lebih dahulu atau seperti gembala yang baik yang berusaha mencari dombanya yang sering hilang jadi Allah selalu bertindak: (2Kor 5:18- 19).

Yesus sendiri menyatakan bahwa misi-Nya adalah menyangkut umat manusia kedalam hubunganNya yang akrab dengan Sang Bapa (Yoh 17:22-24).

Sang Pencipta turun untuk melindungi ciptaanNya dari diri mereka sendiri dan dari semua akibat yang ditimbulkan adalah kesalahan dan dosa mereka jadi seperti apapun kita memahami korban di Kayu Salib suatu hal yang pasti. Yoh 3:16 "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Yesus diutus untuk menyatakan, membuktikan dan menyebarkan kasih Sang Bapa. Itu sebabnya penggenapan tindakan penyelamatan oleh Yesus kedalam sejarah manusia.

Kebangkitan sudah terjadi, kebangkitan dan maut sudah terjadi di dalam diri Yesus yang disebut Kristus. Kebangkitan sedang terjadi dalam diri kita manusia berdosa yang berpegang pada pengharapanNya. Kebangkitan terjadi manakala kita menganggap orang lain tidak sebagai musuh namun ketika dapat bersatu dan bergandengan tangan membangun persaudaraan yang sejati. Kebangkitan terjadi jika yang menjadi musuh bersama bukanlah pribadi seseorang melainkan ketidakadilan.