Tuhan Yesus Diserahkan bagi Orang Berdosa

Berpikir tentang Anak Allah yang tidak disayangkan oleh Bapa-Nya, sungguh menggerakkan hati. Akan tetapi, pada pengertian tertentu, hal ini hanya merupakan permukaan dari apa yang ingin Paulus katakan di dalam Roma 8. Ini menggambarkan pengalaman Yesus dalam bentuk negatif. Dan, sekarang Paulus melengkapinya dengan suatu kebenaran penting yang lain, yaitu saat ia mengatakan bahwa Yesus telah diserahkan bagi orang berdosa sampai mati di atas kayu salib. Apa yang sebenarnya Paulus maksudkan?

Kata yang Paulus pakai di sini hampir merupakan istilah teknis, dan kata yang sama juga dipakai di dalam bagian Perjanjian Baru lain yang menuliskan tentang kematian Yesus Kristus. Hal ini jelas tampak pada penjelasan Matius tentang kesengsaraan, yang telah diterjemahkan dalam beberapa versi:

  • Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.

  • Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.

  • Ketika hari mulai siang, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus. Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu.

  • Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?" Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.

  • Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas." Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!"

  • Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

  • (Mat. 20:18-19; 26:14-15; dan 27:1-2, 17-18, 21-22, 26)

Apakah arti kata "menyerahkan" yang dipakai berulang kali ini? Perjanjian Baru melihat bahwa kata ini menunjukkan tiga hal penting dari kematian Kristus yang membawa keselamatan.

Pertama, kata ini menunjukkan bahwa kematian Kristus terkait dengan pengadilan. Tidak satu kali pun Perjanjian Baru menggambarkan kematian Kristus sebagai suatu tragedi. Kematian Kristus digambar melalui proses hukum yang di dalam Kristus ditahan, didakwa, diperiksa di pengadilan sebelum akhirnya dijatuhi hukuman mati. Kita bahkan dapat mengetahui tuduhan apa yang dikenakan -- hujat, karena dengan menyebut diri-Nya sebagai Anak Allah, Ia menyetarakan diri-Nya dengan Allah. Dia dituduh berkhianat karena dengan menyebut diri sebagai Raja, Ia memberontak terhadap kuasa Roma dan kepada kaisar. Ia dituduh, baik oleh orang Yahudi maupun oleh orang yang bukan Yahudi; ditahan oleh pengawal Bait Allah; dan disalib oleh tentara Romawi.

Namun, bagian Alkitab yang sama juga berkata bahwa semua dakwaan yang diajukan kepada Yesus Kristus, tak ada satu pun yang dapat dibuktikan kebenarannya. Bahkan, setelah penyelidikan demi penyelidikan, Yesus dinyatakan tidak bersalah. Kita mungkin sudah terlalu akrab dengan peristiwa ini sehingga melewatkan adanya suatu kontradiksi dan kejanggalan yang muncul di dalamnya. Akan tetapi, seorang yang dengan teliti membaca Injil untuk pertama kalinya, tidak dapat tidak meneriakkan protes, "Tunggu, orang Yahudi dan orang Romawi, tidakkah Anda melihat adanya kejanggalan dalam kasus ini?" Anda mengajukan seseorang untuk dihukum mati padahal Anda tidak dapat membuktikan bahwa Dia bersalah. Engkau mempunyai bukti bahwa Ia sama sekali tidak bersalah, akan tetapi Engkau mengabaikannya! Hentikan! Hentikan semua ini!" Inilah kejanggalan yang terdapat di dalam peristiwa penyaliban Tuhan Yesus: Yesus terbukti tidak bersalah! Dia berulang kali dinyatakan tidak bersalah (lihat Luk. 23). Akan tetapi, Yesus tetap dijatuhi hukuman dan harus menjalani eksekusi. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Jawaban kita terletak pada arti kedua yang terkandung dalam kata "diserahkan": Kematian Kristus merupakan penetapan Ilahi. Pada saat kita melacak pemakaian kata "diserahkan" di dalam Injil, kita akan menemukan bahwa Yudas "menyerahkan" Yesus, sehingga ia berperan di dalam peristiwa penyaliban. Kita juga menemukan bahwa para ahli Taurat "menyerahkan" Yesus, sehingga mereka juga harus turut bertanggung jawab. Kita juga membawa bahwa Pilatus "menyerahkan" Yesus. Selain itu, ada juga orang banyak yang turut "mengantar" Yesus. Selain itu, ada juga orang banyak yang turut "mengantar" Yesus di sepanjang Jalan Salib. Gereja mula-mula melihat hal ini sebagai penggenapan dari Mazmur 2, "Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan Tuhan dan yang diurapi-Nya." Sebab sesungguhnya Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi (Kis. 4:26-27).

Namun, ada satu tangan lain yang lebih "tinggi," yang juga tampak dalam peristiwa penyaliban Tuhan Yesus. Paulus mengatakan bahwa Bapa menyerahkan Yesus! Pernyataan ini tak berdiri sendiri dan bukannya tidak mempunyai hubungan dengan Injil, atau merupakan suatu penyimpangan yang Paulus perbuat. Lihatlah doa Yohanes dan Petrus di dalam Kisah Para Rasul 4. Setelah mendengar komplotan di dalam peristiwa penyaliban Yesus, mereka berkata, "Untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu" (Kis. 4:28). Sebelum itu pada peristiwa Pentakosta, Petrus berkata kepada orang-orang Yahudi di Yerusalem, "Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka" (Kis. 2:23).

Tangan Bapa ada di belakang peristiwa penyaliban Yesus. Kita takkan pernah sungguh-sungguh menyadari apa yang terjadi di atas salib kecuali jika kita mengerti kebenaran ini. Semua ayat penting Alkitab yang menjelaskan arti dari kematian Kristus menyinggung hal ini. Ketika Yesus menjelaskan kepada para murid dalam Markus 14:27, tentang arti penting dari apa yang bakal terjadi atas-Nya, Ia mengutip perkataan yang terdapat di dalam Zakharia, "Hai pedang, bangkitlah terhadap gembala-ku, terhadap orang yang paling karib kepada-Ku! ... Bunuhlah gembala, sehingga domba tercerai-berai! ..." (Za. 13:7). Paulus mengatakan bahwa Kristus berada di bawah kutukan Allah (Gal. 3:13). Paulus dengan berani mengatakan bahwa Allah telah membuat Yesus menjadi dosa (2 Kor. 5:21)! Semua ini telah terlebih dahulu dapat dilihat di dalam nubuat Yesaya mengenai Hamba yang menderita: "Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan" (Yes. 53:10).

Bagaimanakah mungkin Allah menghendaki kematian Anak-Nya sendiri? Kita perlu menuju langkah terakhir untuk dapat mengerti, dan langkah itu terdapat pada elemen ketiga yang terkandung di dalam kata "diserahkan." Ini melengkapi arti penting dari maksud dan tujuan di balik rencana penyaliban: Kematian Kristus adalah sebagai pengganti. Bagaimana mungkin Dia yang tidak bersalah patut untuk diutus ke dunia sampai meninggal di atas salib oleh Bapa-Nya? Hanya ada satu jawaban yang sesuai dengan Alkitab, Paulus menyediakan jawaban ini di dalam surat Roma 8:32, yaitu dalam hukuman dan kematian-Nya, Yesus telah menggantikan tempat kita. Inilah alasan mengapa tuduhan yang dikenakan kepada-Nya adalah penghujatan dan pengkhianatan, karena kedua tuduhan inilah yang terlebih dahulu dikenakan kepada kita di hadapan kursi pengadilan Allah. Kita telah meninggikan diri, ingin menjadi "Allah" dan oleh karenanya, menghujat nama Allah yang Kudus; kita memberontak terhadap ketetapan-Nya atas kita sehingga kita dinyatakan bersalah di dalam pengkhianatan kita terhadap kebesaran dan belas kasihan-Nya.

Itu sebabnya, selain Paulus mengatakan bahwa tangan dan maksud Tuhan yang membawa Yesus ke atas kayu salib, ia juga mengatakan bahwa Ia mati bagi kita. Ia telah dibuat dosa menggantikan kita meski Ia adalah manusia yang tak pernah mengenal dosa. Ia telah dikutuk menggantikan kita, tertikam oleh karena pemberontakan kita, diremukkan oleh karena kejahatan kita, dihukum untuk pendamaian kita, dan terluka untuk kesembuhan kita, "Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian" (Yes. 53:6, bdk. 2 Kor. 5:21; Gal. 3:13).

Tokoh-tokoh Reformasi melihat bahwa Yesus mengadakan suatu "Pertukaran yang mengagumkan." Ia mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita, sehingga kita dapat menerima apa yang menjadi milik-Nya. Ia mengambil kesalahan kita dan menanggung hukumannya sehingga di dalam iman kita kepada-Nya, kita beroleh persekutuan-Nya dengan Allah dan segala anugerah yang menyertai anggota keluarga Allah. Tidak heran jika saat Yesus disalib, Ia berteriak bagaikan orang yang ditinggalkan sebatang kara: "Allah-ku, Allah-ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Inilah jawaban yang diberikan oleh Alkitab: Ia telah ditinggalkan oleh Bapa-Nya supaya kita tidak perlu ditinggalkan oleh Bapa kita. Inilah yang kita maksudkan ketika kita bernyanyi, "Ia berdiri di tempat aku dinyatakan bersalah, dan menanggung pengampunanku dengan darah-nya! Haleluya! Juru Selamatku!"

Yesus tidak disayangkan oleh Bapa-Nya. Ia diserahkan untuk menggantikan kita, orang berdosa. Ini adalah dua bukti pertama dari kemurahan dan karya penyelamatan Allah yang ditulis oleh Paulus dalam Roma 8:32. Tetapi Paulus tidak berhenti sampai di situ. Pernyataannya, "Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya, tetapi yang menyerahkannya bagi kita semua" sungguh-sungguh merupakan gambaran tentang Allah yang dimaksudkan untuk memberi tahu kita seperti apakah Allah Juru Selamat kita itu. Kita dapat menarik kesimpulan dari apa yang Paulus ingin kita ketahui, yaitu karena Ia telah menyerahkan Yesus bagiku, "bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?" Semua yang Paulus maksudkan di dalam menegakkan pengertian dari kematian Kristus yang menyelamatkan ialah untuk mengatakan kepada kita seperti apakah Allah itu sehingga kita dapat memercayai-Nya secara mutlak.

Diambil dari:

Judul asli buku : A Heart for God
Judul buku terjemahan : Hati yang Dipersembahkan kepada Allah
Judul bab : Sang Juruselamat
Judul asli artikel : Yesus Diserahkan bagi Orang Berdosa
Penulis : Sinclair B. Ferguson
Penerjemah : Hendry Ongkowidjojo
Penerbit : Penerbit Momentum, Surabaya 2010
Halaman : 79 -- 84