Keindahan Salib Bernoda Darah

Setiap tahun, saya mendedikasikan beberapa unggahan selama Pekan Suci untuk membahas salib dan kebangkitan Kristus. Saya menyadari bahwa kegiatan membuat konten media sosial dan materi renungan yang dalam sering kali tidak dapat dilakukan bersamaan, karena banyak pembaca hanya memindai deretan konten. Tetapi saya berharap bahwa selama minggu ini, Anda akan meluangkan waktu sejenak untuk membaca lima unggahan renungan ini dan bahwa Anda akan berkemenangan dalam pengorbanan Juru Selamat kita.

Keindahan Salib

Tidak ada teologi yang benar-benar Kristen yang tidak muncul dari dan berpusat pada salib. (Martin Luther)

Kami melangkah keluar di bawah cahaya lembut matahari dini hari. Udara dingin terasa. Melihat uap napas, mengingatkan kami bahwa musim panas telah berakhir. Musim gugur mendatangi kami. Tidak ada lagi kicau jangkrik. Tidak ada lagi nyanyian burung.

Anak laki-laki saya mengambil ranselnya untuk berangkat ke taman kanak-kanak dan kami menuju ke mobil. Kemarin berangin. Pepohonan telah kehilangan daunnya dalam semalam. Dedaunan sekarang menutupi tanah dalam berbagai corak warna, seperti selimut kain perca yang mencerahkan ruangan suram. Merah tua. Hijau lembut. Kuning cerah. Cokelat tua. Dan berbagai corak warna di antaranya. Dedaunan di depan garasi lembap karena hujan yang dingin, sedangkan yang terlindung di bawah pepohonan sudah tua dan kering. Tidak ada daun yang tampak persis sama.

Gambar: keindahan salib

"Apa yang terjadi dengan semua daun ini?" anak laki-laki saya bertanya kepada saya. "Mengapa mereka tidak ada di pohon lagi?"

"Daunnya sudah mati," kata saya padanya. Ekspresi bingung tampak di wajahnya. Mati? Tapi mereka sangat cantik. Bagaimana mereka bisa mati?

Saat melihat keindahan dan warna, seseorang jarang berpikir tentang kematian. Namun, daun-daun ini bukanlah tanda-tanda kehidupan. Kecantikan mereka adalah kematian mereka. Kanvas tempat Sang Pencipta memercikkan warna musim gugur-Nya ini sebenarnya adalah tampilan agung dari kematian.

Ini adalah paradoks yang teranyam dalam permadani penciptaan. Ya, kematian adalah musuh ciptaan Allah yang baik. Sebuah intrusi. Salah satu akibat dari pilihan destruktif kita ketika memberontak melawan Allah. Kita manusia terputus dari sumber kehidupan, dan kematian telah terikat erat dengan keberadaan kita sejak saat itu. Akan tetapi, ada satu kematian yang begitu indah, begitu agung, sehingga terlepas dari kengerian dan kebrutalannya, kita terpaku oleh kemegahannya.

Bagi orang luar, pasti terlihat aneh bahwa umat Kristiani memperingati dan merayakan kematian Pendiri mereka. Lagu-lagu kita menceritakan tentang darah, kematian, dan pengorbanan (sering kali dalam nada ceria dan bahagia).

Lirik yang mengerikan. Kebenaran yang indah.

Ketika orang luar menganggap salib berlumuran darah menjijikkan, orang Kristen terkagum oleh apa yang dilambangkannya. Kita merenungkan penyaliban Kristus. Kita merenungkan kematian-Nya. Kita merayakan kemuliaan-Nya. Paradoks kematian dan keindahan adalah inti dari kekristenan.

Keindahan Brutal dari Penyaliban Kristus

Penyaliban -- metode eksekusi brutal yang dirancang oleh orang Romawi -- telah menjadi simbol iman Kristen. Tentunya tidak ada yang bagus tentang kematian di kayu salib:

  • Pencambukan yang kejam. Korban berlumuran darah.
  • Paku besi yang panjang ditusukkan ke pergelangan tangan. Ditancapkan ke telapak kaki.
  • Ketelanjangan. Di tempat terbuka. Malu di depan orang-orang yang menyaksikan.
  • Kejang. Setiap gerakan kecil merobek tangan dan kaki.
  • Napas terengah-engah, seraya kehilangan oksigen dan kelelahan yang perlahan-lahan menghabisi nyawa korban.

Bangsa Romawi menjadikan penyaliban sebagai tontonan publik, suatu bentuk kebrutalan mengerikan yang mengirimkan pesan kuat kepada siapa saja yang berani menantang pemerintahan Romawi. Inilah yang bisa saja terjadi pada Anda, kata salib.

Kebanyakan orang tidak tahan dengan kebrutalan penyaliban. Warga negara Romawi dapat dipenggal, tetapi tidak pernah disalibkan. Filsuf Romawi Cicero percaya bahwa penyaliban tidak boleh disebutkan di hadapan hadirin yang sopan. Orang Yahudi mengartikan penyaliban sebagai tanda kutukan Allah.

Tanda-tanda kematian. Mengerikan. Kejam. Brutal.

Paradoks kematian dan keindahan adalah inti dari kekristenan.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Namun, ada satu penyaliban yang indah. Di tengah kematian yang kejam ini, kita dapat melihat ke dalam hati Allah. Di atas bukit batu berangin di luar kota Yerusalem ini -- dihiasi oleh tiga salib -- kita melihat Allah dalam kemuliaan-Nya yang cemerlang dan tak terduga. Seperti dedaunan musim gugur yang menghiasi bumi dengan berbagai warna, satu salib bersinar dalam keindahan.

Martin Lloyd Jones pernah berkata:

"Anda tidak akan pernah mengenal Allah sebagai Bapa kecuali melalui Yesus Kristus, dan khususnya, melalui kematian-Nya di kayu salib ... Lihatlah ke sana, tataplah, renungkan, amati salib yang menakjubkan itu. Dan kemudian Anda akan melihat sesuatu tentang Dia.

Merenungkan makna salib membawa kita ke dalam kasih Allah yang memberi diri. Salib itu sendiri tidaklah indah. Pendamaian itu indah karena memperlihatkan hati Allah yang sesungguhnya.

Apa yang Kristus selesaikan di kayu salib begitu besar, dan jendela ke dalam hati Allah begitu besar sehingga tidak ada satu pun penjelasan atau gambaran tentang penebusan yang dapat menjelaskan keseluruhan cerita. Karena penebusan adalah inti dari siapa Allah itu dan apa yang telah Dia lakukan bagi kita, maka kita tidak pernah dapat sepenuhnya menggambarkan kekayaan yang mengalir dari peristiwa ini.

Tetapi mengakui ketidakmampuan kita untuk menambang semua harta teologis yang direpresentasikan oleh salib Kristus seharusnya tidak menghalangi kita untuk merenungkan kebenaran yang indah dari peristiwa ini. Secara khusus, ada tiga aspek utama dari penebusan yang mengungkapkan keindahan Allah Pencipta dan Penebus kita. Dalam beberapa hari selanjutnya, kita akan membuka jendela dan mengintip ke dalam hati Allah. (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/blogs/trevin-wax/the-beauty-of-a-blood-stained-cross
Judul asli artikel : The Beauty of a Blood-Stained Cross
Penulis artikel : Trevin Wax