Yesus Kristus sudah mau mati bagiku

Oleh: Peserta Kelas Diskusi Paskah Maret 2010 - Tony Adiel

Filipi 2:1-11

Yesus Kristus sudah mau mati bagiku, untuk itu aku sangat menyadari bahwa Dia sangat mengasihiku dan mengasihi kita semua. Untuk itu saya ingin selalu merasakan Kasih Tuhan dalam setiap hidupku. Melalui tema renungan ini saya ingin menuliskan hal yang sangat memberkati saya.

Semua karena Kasih-Nya kepada kita semua, jadi saya merasakan ada berkat-berkat yang saya rasakan. Ada berkat-berkat yang Tuhan Yesus berikan dalam hidup kita selain keselamatan yang Tuhan Yesus janjikan dalam hidup kita. Mari kita lihat dalam perikop ini. Mari kita juga menyadari ada berkat-berkat lain yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita, dan pastikan kita menerima berkat ini. Dan karena kita menerima anugerah ini, baiklah kita juga belajar tentang hal-hal yang harus kita lakukan juga kepada sesama kita, seperti yang sudah Tuhan Yesus lakukan kepada kita. Mari kita sama-sama renungkan.

  1. Di dalam Kristus ada buah-buah kasih-mengasihi (ayat 1-4).
  2. Mengenai Kasih Yesus sudah sangat jelas, dan biarlah mari kita sama- sama diingatkan lagi. Di dalam Kristus dikatakan dalam ayat 1, bahwa di dalam Kristus ada nasehat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan. Semua hal ini didasari dengan kasih. Tanpa ada kasih-Nya, karya pengorbanan-Nya sia-sia. Dan apa yang Yesus lakukan untuk kita, menunjukkan ada kasih yang sejati, yaitu kasih Yesus. Dan kita menerima kasih-Nya.

    Melalui anugerah Kasih-Nya, sempurnalah sukacita kita (ayat 2). Untuk itu kita harus senantiasa bersukacita apapun keadaan kita. Belajarlah untuk bersukacita senantiasa. Dapatkan sukacita ini melalui kasih-Nya. Bagaimana mendapatkannya? Karena Yesus mengasihi kita, untuk itu kita harus sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.

    Maksudnya adalah kita harus sehati, sepikir dalam satu kasih dengan Bapa kita, yaitu kita juga harus mengasihi-Nya. Mengasihi Tuhan kita adalah hal yang terutama dan paling utama. Ketika kita benar-benar mengasihi Bapa, maka berkat sukacita itu pasti kita dapatkan dalam diri kita. Jika kita benar-benar mengasihi Tuhan kita, maka kita juga akan senantiasa melakukan perintah-Nya untuk menyenangkan hati Tuhan (1Yoh 5:3). Dan apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita tetap percaya tidak ada yang dapat memisahkan diri kita dari kasih-Nya. Boleh bersedih karena sesuatu hal yang buruk terjadi dalam hidup kita, tetapi sukacita itu tidak akan hilang karena ada kasih Bapa dalam hidup kita. Dan sukacita itu akan mengikis kesedihan kita.

    Kita juga harus sehati, sepikir dalam satu tujuan dengan Bapa kita, yaitu mengasihi manusia. Karena Bapa kita sangat mengasihi umat manusia. Kita pun juga harus mengasihi sesama kita. Itulah hukum yang kedua mengasihi sesama kita seperti mengasihi dirimu sendiri. Belajarlah dari Tuhan kita Yesus Kristus, bagaimana dia punya belas kasihan yang sangat luar biasa. Kita pun harus belajar untuk saling mengasihi, kepada keluarga kita, kepada saudara kita, kepada teman- teman kita, terlebih kepada orang yang mengecewakan kita. Mungkin secara manusia sulit untuk mengasihi orang yang kita benci, atau mengecewakan kita. Tapi ingatlah, Kristus telah mengasihi kita apa adanya, maka kita pun harus mengasihi dan mau mengampuni sesama kita termasuk orang yang kita benci.

    Bagaimana kita bisa mengasihi dan mengampuni orang yang kita benci? Semuanya sumbernya dari kasih Kristus, jika kita benar-benar mengasihi-Nya maka kita juga akan berkorban perasaan, dan berjuang sekuat tenaga untuk melakukan perintah Bapa. Selain itu, seperti di dalam Firman dalam ayat 3-4, mempunyai kerendahan hati, tidak mementingkan kepentingan sendiri. Lewat hal itu, maka Tuhan sendiri yang akan memampukan kita untuk mengampuni orang-orang yang mengecewakan kita. Bila dalam kehidupan Saudara masih ada orang-orang yang dibenci, segera bereskan hubungan itu. Berikan pengampunan kepada mereka dengan kasih Bapa.

    Perhatikan pula hal penting ini (1 Yoh 4: 20-21). Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya".

    Saya sendiri pun terus belajar untuk mengasihi sesama. Pernah 2 tahun yang lalu saya pernah sangat membenci seseorang dan merasa tidak perlu mengampuni orang seperti dia, tetapi kebencian itu pun membuat hidup kita tidak bisa bersukacita, lalu saya menyadari arti kita mengampuni, mengasihi orang yang kita benci. Ketika saya mempraktekkan kasih Tuhan, saya mendapat kekuatan untuk mengampuni orang itu. Dan sampai sekarang hubungan saya dengan orang itu menjadi sangat baik. Dan sukacita dari Allah terus saya dapatkan karena saya tidak punya orang- orang yang saya benci lagi.

  3. Ketika Allah ditinggikan, maka kitapun akan ditinggikan Dia (ayat 5- 11).
  4. Seperti apa yang telah Tuhan lakukan untuk kita, bahwa Dia mau mengambil rupa seorang hamba, dan mau menjadi sama seperti kita yaitu manusia. Dia mau merendahkan diri-Nya dan taat melakukan segala ketetapan Bapa. Dikatakan bahwa: taat sampai mati di kayu salib. Oleh sebab itu Allah sangat meninggikan Anak. Dan inilah ketetapan-Nya supaya semua lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Jadi Yesus Kristus sangat ditinggikan, dan kita semua harus mengakui-Nya.

    Kita harus belajar dari sikap Yesus Kristus. Dia tidak pernah membalas orang-orang yang pernah menganiaya Dia dengan kebencian, tetapi membalasnya dengan kasih. Dan apa yang kita lakukan itu semua akan tercatat dan Tuhan akan memeperhitungkan semuanya. Kita mengasihi sesama kita itu juga sebagai bukti kita mengasihi Tuhan. Mungkin kita berkorban perasaan dan bisa juga harga diri karena kita harus mengampuni orang yang kita benci, atau sebaliknya orang yang membenci kita. Tapi perbuatan apa yang kita telah tabur itu membuat Allah dengan senang hati meninggikan kita.

    Kita bisa lihat contoh kisah Yusuf. Dibalik kesuksesan Yusuf, selain ketaatannya kepada Tuhan, Yusuf punya hati yang tidak mau membenci. Padahal lihat kisah awalnya, Yusuf dibenci saudara-saudaranya, sampai dibuang dan dianggap sudah mati. Tapi lihat, meskipun Yusuf telah sukses sikap Yusuf tidak pernah berubah tinggi hati, Yusuf tetap rendah hati dan mau mengampuni saudara-saudaranya. Tidak heran Yusuf semakin ditinggikan oleh Tuhan dan hidupnya terus diberkati.

    Ingin hidup kita semakin diberkati, ingin hidup kita berlimpah dengan kasih karunia? (2 Korintus 9:6-8). Ingatlah hal ini, "orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit, tetapi orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga". Demikian juga jika kita menabur sedikit kasih kita pun akan menuai sedikit, tetapi jika kita menabur banyak kasih kita pun juga akan menuai banyak kasih. Taburlah dengan sukacita bukan dengan paksaan. Sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan inilah Janji Allah kepada kita bagi yang melakukan perintah Bapa.

    "Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan".

    Lewat hal ini, Allah ditinggikan, Allah dipermuliakan. Dan kita pun juga akan ditinggikan menjadi anak-anak Allah yang dikasihi-Nya. Dan Allah akan melimpahkan dengan segala kasih karunia, dan berkat melimpah untuk kita yang melakukan perintah ini dengan sukacita.

    Mari kita sama-sama mempraktekkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Menabur kasih kepada sesama kita, mau mengampuni dan memaafkan.