Pada Paskah Ini, Arahkan Pandangan Anda kepada Yesus Saat Dia Berusia 20 Tahun

Minggu yang seharusnya penuh dengan sukacita yang menjadi dasar pengharapan kristiani secara mengerikan telah diganti dengan keranjang kosong, bangku gereja kosong, dan komuni yang belum terjamah. Meski begitu, kita terus merayakan peristiwa yang terjadi di Yerusalem 2.000 tahun yang lalu itu sebagai satu-satunya harapan bagi manusia berdosa untuk berdamai dengan Allah yang kudus.

Kendati demikian, kita melakukan perayaan itu dengan lebih sunyi tahun ini. Tidak dalam pertemuan besar, kebaktian dini hari, dan paduan suara yang lantang dalam kebaktian ibadah bersama. Pada tahun ini, umat Kristen di seluruh dunia akan merayakan Paskah di rumah mereka masing-masing, dengan mempersembahkan pujian yang bersahaja dan rendah hati. Mungkin, saat kita merenungkan dan merayakan kemenangan kebangkitan, kita harus melakukannya dengan merenungkan Yesus saat ia masih berusia 20 tahun.

Seperti apakah Yesus saat berusia 20 tahun?

Gambar: Salib

Kita memiliki catatan menyeluruh tentang kedatangan Yesus yang ajaib dan kepergian-Nya yang dramatis dari dunia, tetapi Alkitab tidak memberi kita banyak detail tentang permulaan masa dewasa-Nya. Kita hanya mengetahui segelintir fakta tentang Yesus saat Dia masih anak-anak, terutama bahwa pada usia 12 tahun, orang tuanya secara tidak sengaja meninggalkan-Nya di Yerusalem setelah ziarah Paskah, dan menemukan-Nya di sinagoge tiga hari kemudian, melakukan urusan Bapanya. Akan tetapi, Injil tidak mencatat banyak hal lain selama 18 tahun berikutnya sampai perjumpaan-Nya yang terkenal dengan Yohanes Pembaptis. Jadi, apa yang dilakukan-Nya saat berusia dewasa muda?

Ketaatan Sang Sabda yang Berinkarnasi

Alkitab berbicara dengan lantang tentang masa penting usia Yesus ini dalam detail kecil yang ditemukan dalam Injil. Sepanjang hidupnya Yesus telah menyembuhkan orang sakit, mengusir setan dari mereka yang kerasukan, membungkam badai, dan membangkitkan seorang gadis dari kematian ketika dia kembali ke kampung halamannya di Nazaret. Pada hari Sabat, Dia mulai mengajar di sinagoge setempat -- kemungkinan besar di sinagoge tempat dia belajar saat masih kecil. Mereka yang hadir terkejut dengan kuasa dan hikmat yang Dia tunjukkan dalam memaparkan Kitab Suci. Mereka bertanya, "Bukankah Dia seorang tukang kayu?" (Mrk. 6:3, AYT). Di kampung halaman-Nya, Anak Allah yang berinkarnasi ini terkenal bukanlah sebagai pemimpin spiritual yang penuh wawasan atau guru yang fasih mengajar. Secara sederhana, di sekitar kota itu Dia dikenal terutama karena hasil karya tangan-Nya yang terampil. Dia yang telah menciptakan segala sesuatu dengan kuasa firman-Nya, saat itu dikenal terutama karena membuat sesuatu melalui pekerjaan tangan-Nya.

Selama bertahun-tahun, Yesus mengambil alih pekerjaan Yusuf sebagai tukang kayu, mempelajari keterampilan dari ayahnya di bumi sewaktu Dia dipersiapkan bagi pekerjaan Bapa surgawi-Nya. Keheningan Kitab Suci selama 18 tahun ini berbicara dengan lantang -- Yesus bekerja enam kali lebih lama dalam melakukan pekerjaan kasar dibandingkan masa pelayanan-Nya di depan publik! Namun, tahun-tahun yang tersembunyi dan membosankan di bangku pekerja kasar ini tidak sia-sia. Karena, sementara Dia membuat potongan-potongan kayu menjadi barang yang berguna bagi orang lain, Dia sendiri tengah dipersiapkan untuk digantung pada balok kayu.

Satu petunjuk yang relevan ditemukan dalam Ibrani 5:8, "Walaupun Yesus adalah Anak, tetapi Ia belajar untuk taat melalui penderitaan yang dialami-Nya. Dengan setelah disempurnakan, Ia menjadi sumber keselamatan kekal bagi semua orang yang taat kepada-Nya." Meskipun misterius, perikop ini pasti berbicara tentang kemanusiaan Kristus, karena penekanannya adalah pada proses pembelajaran. Putra Ilahi Yang Maha Tahu tidak perlu belajar apa pun, tetapi sebagai manusia Yesus belajar untuk menaati dan memercayai Bapa-Nya, dan ketika Dia dicobai tanpa menyerah pada dosa, Dia menjadi manusia tanpa dosa yang sempurna (juga diterjemahkan "lengkap"). Dan, sebagai manusia tanpa dosa, Dia menjadi satu-satunya pengganti yang pantas bagi kita, Ia sumber keselamatan kekal kita. Bagian ini menunjukkan bahwa Firman Tuhan yang berinkarnasi ini belajar untuk taat di sepanjang hidup-Nya di bumi, tidak hanya dalam satu tindakan penderitaan saja.

Belajar Melalui Penderitaan

Kesetiaan Anda dalam hal-hal "kecil" yang dipercayakan Tuhan kepada Anda mungkin sedang mempersiapkan Anda untuk kesetiaan dalam hal-hal yang "lebih besar".
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Melalui setiap penderitaan yang terjadi dalam hidup-Nya, melalui setiap pencobaan, Dia belajar untuk menaati Bapa. Setiap momen kecil memercayai Bapa-Nya dalam kesengsaraan, telah mempersiapkan-Nya untuk momen berikutnya yang lebih besar sampai pada akhirnya Dia mampu menaati kehendak Bapa sampai mati.

Bruce Ware membantu kita memahami realitas mendalam ini:

Ketika Sang Putra belajar untuk menaati tuntutan Bapa yang "lebih ringan" pada awal kedewasaan-Nya dengan konsekuensi penderitaan yang juga "lebih ringan" -- frasa "lebih ringan" ini mengacu pada perbandingan tuntutan dan konsekuensi pada awal kedewasaan-Nya dengan tuntutan dan konsekuensi penderitaan yang akan Dia hadapi menjelang akhir hidup-Nya, yakni menaati tuntutan Bapa untuk pergi ke kayu salib -- pengalaman-pengalaman iman dalam pemeliharaan, perlindungan, dan arahan Bapa pada awal masa hidup-Nya ini mempersiapkan Yesus untuk melakukan tindakan ketaatan yang lebih besar yang harus dilakukan-Nya ketika Dia semakin dekat dengan waktu penyaliban.

Seperti apa penderitaan yang "lebih ringan", yang harus Yesus alami dalam hidup-Nya untuk memperlengkapi Dia bagi karya salib? Ware mengacu pada "program pelatihan yang diperlukan untuk mempersiapkan Yesus memiliki ketaatan pada masa mendatang, yang jauh lebih sulit." Kita hanya bisa berspekulasi tentang penderitaan seperti apa yang dialami-Nya selama 18 tahun itu.

Tampaknya cukup masuk akal untuk menganggap bahwa penderitaan sehari-hari Yesus tidak kalah berat dengan penderitaan kita. Hidup di Palestina abad pertama adalah sesuatu yang tidak mudah, dan Yesus memiliki tugas yang sangat sulit untuk diselesaikan pada akhir hidup-Nya. Pekerjaan kasar yang selama bertahun-tahun dilakukan-Nya pasti juga membantu mempersiapkan tubuh-Nya untuk menghadapi tantangan fisik dalam pelayanan-Nya di hadapan publik. Selama tiga tahun yang diperinci dalam Injil, Yesus menghabiskan sebagian besar waktu-Nya dalam pelayanan aktif -- berkhotbah, mengajar, menyembuhkan, dan sebagainya. Dia harus bersama dengan banyak orang dan sering melakukan perjalanan dalam tahun-tahun itu. Kalau kita menghitung catatan perjalanan Yesus, total jarak yang ditempuh-Nya dengan berjalan kaki selama tiga tahun itu kira-kira sejauh 4.000 km. Untuk melakukannya, Dia membutuhkan fisik yang kuat, dan 18 tahun kerja kasar mempersiapkan-Nya untuk hal itu.

Pelatihan dalam Hal-Hal Kecil untuk Hal-Hal yang Lebih Besar

Jangan pernah meremehkan pelatihan yang diberikan Tuhan kepada Anda saat ini, entah Anda tinggal di rumah atau di garis depan dalam memerangi pandemi global. Apakah posisi yang diberikan Tuhan kepada Anda terasa kecil dan tidak berarti? Apakah masa pembatasan ini terasa seperti jeda yang tidak nyaman bagi rencana-rencana Anda?

Anda mungkin tergoda untuk berpikir bahwa hidup ini terasa stagnan atau tidak menuju ke mana-mana, ingatlah: kesetiaan Anda dalam hal-hal "kecil" yang dipercayakan Tuhan kepada Anda mungkin sedang mempersiapkan Anda untuk kesetiaan dalam hal-hal yang "lebih besar". Saat ini, Tuhan mungkin sedang memperkuat otot ketaatan dan kesetiaan Anda sebagai persiapan untuk sesuatu yang membutuhkan stamina dan kebugaran yang lebih besar.

Sama seperti Tuhan tidak menyia-nyiakan penderitaan Sang Juru Selamat, Dia juga tidak menyia-nyiakan hari-hari Anda di minggu Paskah ini. Di tangan-Nya, bahkan ketaatan terkecil dan tampaknya paling "bodoh" dapat digunakan demi tujuan yang lebih mulia daripada yang dapat Anda bayangkan. (t/Yudo)

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/article/look-20-year-old-jesus
Judul asli artikel : Look to 20-Year-Old Jesus This Easter
Penulis artikel : Jenny Manley