Kurban Sejati Atau Manipulasi

Penjangkauan sesama membuat hidup kita menjadi berarti. Kenyataan membuktikan bahwa semakin kita banyak memberi dan berbagi, semakin kita banyak menerima dan mendapat balasannya. Ketika kita mengasihi dan melayani dengan berbuat baik kepada sesama, segala kebajikan dan hal-hal yang baik akan mendatangi kita. Tetapi, kita mungkin akan berpikir sejenak, bagaimana dalam kondisi sulit seperti sekarang kita masih bisa bermurah hati dan rela berkurban?

Rasanya sikap rela berkurban sudah semakin langka saat ini. Nilai pengurbanan juga terasa semakin luntur ketika hidup makin diwarnai prinsip "berikan dan terimalah", "tidak ada makan siang yang gratis", atau prinsip "elu elu -- gua gua". Jika ada [yang mencoba tanpa pamrih], itu pun dilakukan dengan berbagai pertimbangan "apakah imbalan yang akan kuterima?" atau "apa manfaatnya bagiku?" Tampaknya, kita perlu merenungkan kembali, masih adakah kurban yang sejati [tanpa pamrih]? Pengurbanan sebagai suatu tindakan nyata tanpa pamrih, tidak dimotivasi keinginan mendapat balasan atau menghitung-hitung manfaat yang kita akan terima secara langsung. Manfaat semacam itu baru akan dipetik dalam jangka waktu panjang, dalam bentuk kita memperoleh kasih, penghormatan, dan kemurahan dari orang lain. Kita mungkin menerima pertolongan orang lain pada saat yang tidak terduga, tepat ketika kita membutuhkannya.

Mengapa Berkurban Itu Penting?

  1. Karena kehidupan memiliki siklus tabur dan tuai. Secara kodrati, Tuhan telah menetapkan prinsip umum hukum alam bahwa segala sesuatu yang ditanam pasti akan bertumbuh dan menghasilkan buah. Demikian pula dengan setiap tindakan yang kita lakukan pasti akan menghasilkan balasan entah kapan waktunya.

  2. Jika tidak ada kerelaan berkurban, bumi penuh dengan kefasikan. Bayangkan jika semua orang ingin menang dan berhasil, termasuk dengan menghalalkan segala cara! Setiap kejatuhan dan kesusahan dianggap sebagai peluang untuk memenangkan persaingan, kegagalan orang lain disambut sebagai seleksi alami [siapa] yang kuat -- si pandai pemenangnya -- dan sukses. Tanpa hati nurani, dunia serasa hanya dipenuhi dengan semak berduri.

  3. Pengurbanan membuat hidup itu bernilai. Mandat untuk hidup diwujudkan dengan berkarya dan mengusahakan bumi ini secara penuh tanggung jawab. Bukti dari keberhasilan setiap jerih lelah dan prestasi ditandai dengan berbagai bentuk pengurbanan dan kerelaan melakukan sesuatu yang terbaik.

  4. Penghargaan muncul dari setiap pengurbanan. Kita tidak dapat membeli penghargaan dan tidak bisa memaksa orang lain untuk menaruh hormat kepada kita, sebab penghargaan itu hanya berasal dari sikap dan tindakan rela berkurban. Ini pasti menginspirasi pemikiran dan memotivasi banyak orang untuk melakukan perbuatan positif yang sama.

Manipulatif -- Berkurban dengan Suatu Pamrih

Ketika perhatian kita hanya terpusat pada diri sendiri, kita sulit memerhatikan keadaan dan kebutuhan orang lain. Setiap pertimbangan hanya diukur semata-mata dari keuntungan dan kesenangan pribadi. Motivasi di balik setiap tindakan perlu diterawang lebih jauh agar kita tidak keliru dan menyimpang dari setiap pemikiran dan perbuatan yang dianggap sebagai sikap berkurban dan bajik. Pengurbanan yang berpamrih sebenarnya adalah sikap manipulatif terhadap orang lain bahkan terhadap diri sendiri, dan justru kenyataannya sering sangat tersamar, lazim, dan tidak disadari dalam kehidupan sehari-hari. Perhatian dan kurban yang sejati itu tidak bersyarat. Tidak menuntut balasan. Tidak menghitung untung rugi. Dilakukan dengan tulus, tanpa keluh kesah, spontan, yakin, dan tidak mengkhawatirkan penolakan karena berfokus pada kepentingan dan kebaikan orang lain.

Pemahaman Mengenai Sikap dan Tindakan Manipulatif:

  1. Penipuan yang disamarkan sebagai kebenaran.

  2. Penyalahgunaan kesempatan, jabatan, hak, kewajiban, dan otoritas.

  3. Aktivitas yang tampaknya baik tetapi diselubungi motif egoisme.

  4. Sikap mental yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur dan tulus.

  5. Pemanfaatan seseorang, sesuatu, keadaan, atau kondisi dengan maksud untuk mencari keuntungan diri sendiri.

  6. Membohongi dan tidak sesuai dengan hal-hal yang sifatnya sejati.

  7. Sikap berpura-pura, tidak ikhlas, dan bertujuan untuk memanfaatkan orang.

  8. Pengendalian kehendak orang-orang melalui pengaruh, cara-cara, tekanan, atau perlakuan tertentu.

  9. Menutup-nutupi keadaan, ketidakjujuran, dan tidak memperlihatkan jati diri yang sebenarnya untuk kepentingan pribadi.

Akibat Sikap Manipulatif

Mungkin tidak disadari, namun segala sesuatu yang tidak sejati pasti tidak akan bertahan lama. Sikap yang tidak tulus, cepat atau lambat akan tersingkap dan memengaruhi hubungan kita dengan keluarga, rekan, kolega, atau mitra kerja. Konsekuensinya, kita akan kehilangan kepercayaan orang lain dan kita akan sulit memiliki rekan, mitra, atau kolega yang sejati; terperangkap dalam sikap munafik, kehilangan kebenaran dan jati diri; dikejar perasaan bersalah dan kehilangan damai sejahtera; terlibat dalam berbagai bentuk persaingan tidak sehat dan memiliki tujuan yang menghalalkan segala cara.

Kurban Sejati adalah Pernyataan Kasih yang Tertinggi

Ibu Teresa mengisi hidupnya dengan mengasihi dan melayani orang-orang yang kekurangan di negara-negara miskin. Beliau menyelamatkan hidup banyak balita dengan sentuhan dan belaian tangannya ke tubuh-tubuh kurus kecil karena kekurangan gizi. Sesungguhnya, sentuhan manusia memiliki kekuatan merespons unsur-unsur kimiawi di dalam tubuh, yang sangat membantu pertumbuhan dan daya hidup. "Saya telah menemukan paradoks bahwa jikalau saya mengasihi sampai terasa sakit, rasa sakit itu akan hilang, dan yang tertinggal hanyalah lebih banyak kasih". (Ibu Teresa)

Sikap berkurban timbul dari kesadaran akan adanya kebutuhan orang-orang di sekitar kita. Jika kita mulai menjadi pemerhati, akan tampak begitu banyak kesempatan untuk berbuat baik dan menjadi jawaban bagi orang lain. Sikap berlapang hati untuk tidak sekadar mengkritisi orang lain atau keadaan, menguasai diri berhadapan dengan rasa memiliki, bebas dari rasa khawatir dengan membangun rasa aman, semua ini akan mendorong kita untuk mengembangkan sikap berkurban yang sejati.

Dalam penerapannya, pengurbanan senantiasa berbentuk pernyataan kasih yang tertinggi, yaitu ditunjukkan dengan kepedulian sejati kepada orang lain melalui tindakan nyata. Ia tidak mementingkan diri sendiri dan rela mendahulukan kepentingan orang lain, memberi dan berbagi tanpa mengharapkan imbalan atau pamrih, bahkan ikhlas memberikan kesempatan atau peluang kepada orang lain yang membutuhkannya. Pengurbanan adalah kesediaan untuk mendengar, melayani, dan membantu orang lain. Suatu bentuk kebaikan hati yang tidak menuntut pembayaran. Bahkan mungkin sebaliknya, berani membayar harga dan menghadapi risiko.

Pengurbanan sebagai teladan terbesar telah ditunjukkan oleh Kristus, ketika Ia menanggung apa yang seharusnya tidak diterima-Nya. Kematian-Nya menggantikan kita, yang seharusnya menanggung upah dosa itu, dan Ia memberikan kehidupan kekal yang sebenarnya tidak layak kita terima. Itulah pengurbanan karena bersedia membayar harga demi keselamatan orang banyak. Kurban yang sejati bukan sekadar menabur benih kebajikan untuk menolong orang lain, tetapi kita juga akan menuai hasilnya pada saat yang kita tidak ketahui. Pengurbanan pada hari ini tidak akan pernah sia-sia pada hari esok.

Diambil dari:

Judul majalah : Bahana, Edisi Mei 2005, Volume 169
Judul artikel : Pengorbanan Sejati atau Manipulasi
Penulis : Jakoep Ezra
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta
Halaman : 60 -- 61

e-JEMMi 10/2010



Dipublikasikan di: http://misi.sabda.org/kurban_sejati_atau_manipulasi