Yesus mati bagiku

Oleh: Peserta Kelas Diskusi Paskah Maret 2010 - Naomi Harmini

Yohanes 3:16-18.

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada- Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah."

Untuk mengerti Firman Tuhan, harus diperlukan iman percaya. Tanpa itu, niscaya Firman Tuhan tidak akan berpengaruh apa-apa. Membaca firman di atas, sudah sangat jelas bahwa Allah menginginkan setiap orang yang percaya selamat. Dan itu mutlak. Percaya atau tidak percaya, berarti selamat atau tidak selamat.

Pengalaman pribadi, saya selalu fanatik dengan firman Tuhan. Meskipun dulunya membaca tetapi tidak mengerti. Belum mengerti kuasa Roh Kudus yang mengajar dan sebagainya. Jika ada yang tidak mengerti, saya akan menyimpannya sebagai kebodohan saya, dan percaya pada satu saat Tuhan akan menjelaskan, sehingga saya bisa mengerti. akhirnya saya bisa mengerti.

Yesus mati bagiku adalah perenungan yang sangat dalam. Sejauh mana kematian Yesus tersebut mengefek bagi kita? Ataukah seperti slogan penambah semangat saja? Tentu tidak demikian. Lalu, apa hubungannya dengan kasih?

Kita biasa menerima kebaikan dari orang lain dan kita mengusahakan untuk sebisanya membalas. Seperti paham yang berlaku di masyarakat, hutang budi. Kebaikan yang harus dibalas, supaya kehidupan lancar. Kebaikan orang tua yang tidak ternilai dan harus diperhitungkan, sehingga kita tidak durhaka. Bagaimana dengan Allah? Apakah kita berhutang kepada Allah? Yesus mati bukan untuk memberikan beban piutang kepada kita orang percaya. Kalaupun itu kita hargai sebagai piutang, berapa besar hutang kita kepada-Nya? Dan kalau boleh dihitung nilainya, maka hutang kita adalah nyawa. Bisakah kita membalasnya?

Yesus sudah mati bagi kita, karena kasih-Nya. Dia ingin kita menerima kasih-Nya, yang sebenarnya mengandung janji kehidupan kekal. Dan itulah kebenaran yang sesungguhnya.

"Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: "Mengapakah engkau membentuk aku demikian?" (Roma 9:20)