Siksaan yang Tak Terkatakan

Seorang Pendeta bernama Felix (nama samaran) disiksa dengan besi yang panas membara dan pisau-pisau. Ia dipukuli dengan hebat. Tikus-tikus kelaparan dihalau masuk melalui pipa ke dalam selnya. Ia tak dapat tidur karena harus memertahankan dirinya setiap saat. Bila ia beristirahat, tikus-tikus akan menyerangnya.

Ia terpaksa berdiri selama dua minggu, siang dan malam. Orang komunis ingin memaksanya mengkhianati saudara-saudara seimannya, namun ia tetap bertahan dengan setia. Akhirnya, mereka membawa putranya yang berusia 14 tahun dan memukuli anak itu di hadapan ayahnya. Mereka berkata bahwa mereka tidak akan berhenti memukuli anak itu sampai ia mau mengatakan apa yang mereka inginkan. Orang yang malang itu menjadi setengah gila.

Ia bertahan sekuat tenaga, kemudian ia berteriak kepada anaknya, "Amos! (bukan nama sebenarnya) Aku harus mengatakan apa yang mereka kehendaki! Aku tak tahan lagi melihat engkau dipukuli!"

Anak lelaki itu menjawab, "Ayah! Janganlah melakukan sesuatu yang tidak benar padaku dengan menjadi seorang pengkhianat sebagai orang tuaku. Bertahanlah! Bila mereka membunuhku, aku akan mati dengan kata-kata, 'Yesus dan tanah airku.'"

Mendengar itu, orang komunis menjadi kalap. Mereka memukuli anak itu sampai mati. Darahnya terpercik di dinding sel. Ia mati dengan memuji nama Tuhan. Sesudah melihat peristiwa itu, saudara kami, Felix, berubah -- tidak sama seperti yang dulu.

Borgol dengan paku-paku yang tajam di sisi dalamnya, dikenakan di pergelangan tangan kami. Bila kami tidak bergerak sama sekali, paku-paku itu tak menyakiti. Tapi dalam sel-sel yang dingin, jika kami menggigil kedinginan, pergelangan tangan kami akan robek oleh paku-paku itu.

Orang-orang Kristen digantung terbalik dengan tali kemudian dipukuli dengan keras sehingga badannya terayun-ayun. Orang-orang Kristen juga dimasukkan dalam "sel pendingin", lemari es yang sangat dingin sehingga es dan embun beku menutupi bagian dalamnya. Aku pernah dilemparkan ke dalam salah satu sel tersebut dengan pakaian yang amat minim. Dokter penjara mengawasi dari celah-celah. Jika mereka melihat gejala membeku, mereka memberi tanda lalu para penjaga bergegas masuk untuk membawa kami ke luar agar tubuh kami kembali hangat. Sesudah hangat, kami segera dijebloskan kembali dalam kamar es itu agar membeku lagi. Dicairkan di luar lagi -- berulang-ulang! Bahkan hari ini, ada saat-saat di mana aku tidak mampu membuka lemari es.

Kami orang Kristen terkadang dipaksa berdiri di kotak-kotak kayu yang ukurannya hanya sedikit lebih besar dari ukuran tubuh kami. Tidak ada ruang untuk bergerak. Lusinan paku-paku tajam ditancapkan di setiap sisi kotak tersebut, ujung paku-paku yang tajam itu menembus kayu. Selama tetap diam, kami tak menderita apa-apa. Tapi, kami harus berdiri dalam lemari itu selama berjam-jam. Saat kami mulai letih dan lelah, maka paku-paku tersebut menusuk tubuh kami. Paku-paku itu sangat mengerikan -- saat kami bergerak atau otot kami kejang.

Apa yang dilakukan orang-orang komunis pada umat Kristen sungguh di luar akal sehat manusia. Aku pernah melihat orang komunis menyiksa orang-orang Kristen dan wajah mereka berseri-seri dengan gembira. Sambil menyiksa, mereka berteriak, "Memang, kami ini setan!"

Kami bergumul bukan melawan daging dan darah, melainkan melawan penguasa-penguasa dan kekuatan jahat. Kami melihat komunisme bukanlah dari manusia, melainkan dari setan. Ini adalah kekuatan roh -- kekuatan kejahatan -- dan hanya dapat dilawan dengan suatu kekuatan roh yang lebih besar, yakni Roh Allah!

Aku sering bertanya pada para penyiksa itu, "Tidakkah Anda memunyai rasa kasihan di hati Anda?" Biasanya mereka akan menjawab dengan mengutip perkataan Lenin: "Kamu tidak bisa membuat telur dadar tanpa memecahkan telurnya," dan "Kamu tidak dapat memotong kayu tanpa menyebabkan kepingan-kepingannya terbang." Aku berkata lagi, "Aku tahu itu kata-kata Lenin. Tapi ada perbedaan. Jika Anda memotong sekeping kayu, kayu itu tak merasakan apa-apa. Tapi di sini kamu berhubungan dengan manusia. Setiap pukulan menghasilkan rasa sakit, dan ada banyak ibu yang menangis."

Percuma saja. Mereka adalah orang-orang yang materialistis. Bagi mereka, yang ada hanyalah benda (materi) belaka. Bagi mereka, seorang manusia adalah seperti kayu, seperti juga kulit telur. Dengan pedoman ini, mereka jatuh dalam jurang kejahatan dan kekejaman yang mahadalam.

Kekejaman ateisme memang sukar dipercaya. Bila seseorang tak memunyai kepercayaan akan ganjaran atas perbuatan baik atau hukuman atas kejahatan yang dilakukan, maka tak ada alasan baginya untuk menjadi manusia. Tak ada lagi yang dapat mengekang unsur-unsur kejahatan yang bersemayam dalam jiwa manusia itu.

Penyiksa komunis sering berkata, "Tak ada Tuhan, tak ada alam baka, tak ada pembalasan atas perbuatan jahat. Kami dapat berbuat sesuka hati kami." Pernah kudengar, seorang dari mereka berkata, "Terima kasih kepada Tuhan yang kepada-Nya aku bisa melampiaskan semua nafsu jahat dalam hatiku." Ia mengungkapkan itu dengan melakukan kebrutalan yang luar biasa dan penganiayaan terhadap para tahanan. Mereka bangga karena tak memunyai belas kasihan.

Aku belajar dari mereka. Sebagaimana mereka tak memberikan tempat bagi Yesus sedikit pun dalam hati mereka, aku bertekad tak akan menyediakan tempat seujung rambut sekali pun untuk setan dalam hatiku.

Aku telah memberi kesaksian di hadapan badan keamanan Amerika Serikat yang bernama US International Security Subcommittee. Aku menceritakan hal-hal yang mengerikan, misalnya orang Kristen yang disalib selama 4 hari dan 4 malam.

Salib-salib itu diletakkan di atas tanah dan ratusan tahanan harus melakukan hajat mereka di atas bahan dan wajah orang yang disalib itu. Kemudian, salib ditegakkan lagi dan orang komunis mengejek serta menertawakannya, "Lihatlah Kristusmu! Alangkah cakapnya Ia! Alangkah sedapnya bau yang Ia bawa dari surga!"

Jika aku terus bercerita tentang siksaan komunis yang mengerikan itu dan pengorbanan orang-orang Kristen, aku tidak akan pernah selesai. Bukan hanya penyiksaan yang dikenal, namun perbuatan kepahlawanan juga dikenal. Teladan kepahlawanan mereka yang berada di penjara benar-benar memberikan semangat bagi saudara-saudara yang masih bebas.

"Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat."(Matius 10:21-22)

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Berkorban Demi Kristus
Judul asli buku : Tortured for Christ
Penulis : Richard Wurmbrand
Penerjemah : Ivan Haryanto
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 1999
Halaman : 36 -- 40

Komentar

Jadi, bersyukurlah jika kita masih diberi kesempatan untuk beribadah dengan 'nyaman'. Bersyukurlah jika masih diberi waktu untuk melayani-Nya melalui sesama di manapun kita berada. Tak harus pelayanan spektakuler. Dengan merenungkan Matius 25:31-46, kita sadar betul apa yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan.
Terpujilah nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Benar, Sisilia. Tetap bersyukur kepada Tuhan.