Pentakosta: "Tuhan dan Pemberi Hidup"

Pada poin ketiga dalam Pengakuan Iman Rasuli, Anda mengakui bahwa Roh Kudus adalah "Tuhan dan Pemberi hidup". Itulah pekerjaan Roh Kudus -- untuk memberi kehidupan. Pada hari Pentakosta inilah, pekerjaan Roh Kudus tersebut mendapat perhatian khusus dari gereja. Namun, pernahkah Anda berhenti untuk memikirkan apa yang terjadi di Yerusalem pada Pentakosta pertama?

Pada hari Pentakosta, semua orang Israel berkumpul di Yerusalem untuk merayakan hari raya Tujuh Minggu. Hari raya Tujuh Minggu, atau yang juga dikenal dengan hari raya Buah Sulung atau Pentakosta, adalah sebuah pesta sukacita dan ucapan syukur, memperingati selesainya musim panen. Ini adalah perayaan terbesar kedua ketika laki-laki Yahudi yang bertubuh sehat diharapkan datang -- yang pertama adalah hari raya Paskah. Hari raya Tujuh Minggu dirayakan sebagai hari Sabat dan hari istirahat dari segala pekerjaan dan merupakan sebuah panggilan pertemuan kudus.

Hari raya Tujuh Minggu, perayaan musim panen, adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan masa panen biji-bijian lalu panen jelai, dan akhirnya panen gandum. Disebut dengan hari raya Tujuh Minggu karena Tuhan mengatakan secara khusus kepada anak-anak Yakub bahwa mereka harus menghitung tujuh kali tujuh minggu (49 hari) dari hari raya Buah Sulung, dan kemudian pada "keesokan harinya", sebuah perayaan harus diadakan (Imamat 23:16). Penghitungan tersebut menghasilkan jumlah hari antara kedua festival tersebut menjadi lima puluh. Perayaan ini terjadi tepat pada 50 hari setelah hari raya Buah Sulung dan disebut dengan "Pentakosta" yang berarti "lima puluh".

Pada kesempatan ini, anak-anak Israel akan membawa buah sulung gandum ke Bait Allah. Pada upacara ini, mereka mengibaskan berkas gandum dan membolak-balikkannya sehingga menimbulkan suara berisik seperti angin yang kuat dan kencang. Hari raya Tujuh Minggu dalam Perjanjian Lama adalah sebuah perayaan yang menandakan pencurahan Roh Kudus. Pada hari Pentakosta, lima puluh hari setelah Yesus bangkit dari kubur disebut sebagai Buah Sulung atas semua yang telah mati, lalu Roh Kudus dicurahkan.

Pada bagian akhir Injil Lukas, Yesus berkata pada para rasul untuk menunggu di Yerusalem sampai mereka diperlengkapi dengan kuasa dari tempat tinggi -- Roh Kudus. Para rasul tahu dengan jelas seberapa lama mereka harus menunggu. Roh Kudus akan datang pada hari Pentakosta -- 50 hari setelah Yesus bangkit sebagai Buah Sulung. Peristiwa ini akan menjadi perayaan besar Israel yang selanjutnya -- yaitu ketika orang Yahudi dari berbagai daerah yang berbeda akan berada di Yerusalem untuk memperingati selesainya musim panen.

Para rasul menunggu seperti yang diperintahkan. Sayangnya, penantian mereka tidak panjang -- hanya sepuluh hari setelah Yesus naik ke surga. Kemudian peristiwa itu terjadi. Roh Kudus dicurahkan oleh Anak, dan pentahbisan para rasul, yang dimulai pada akhir Injil Yohanes, digenapi.

Dan satu hal lagi: dalam Perjanjian lama, kedua belas suku Israel berkumpul di Gunung Sinai. Ada suara gemuruh, angin, dan api. Dan ada Musa -- hamba Tuhan yang telah dipanggil dan ditahbiskan -- memberitakan firman Tuhan.

Di sini, pada hari Pentakosta, lagi-lagi adalah tentang Gunung Sinai -- suara yang bergemuruh, angin, api; kedua belas murid berkumpul bersama dan firman Tuhan dikabarkan oleh mereka yang telah dipanggil dan ditahbiskan.

Begitulah semua peristiwa itu dimulai. Dan Yesus terus mencurahkan Roh Kudus sejak saat itu. Setiap pelayanan Ilahi/pelayanan gerejawi adalah Pentakosta. Firman Tuhan diberitakan dan Roh Kudus dicurahkan. Tubuh dan darah Kristus dibagikan, dan Roh Kudus dicurahkan. Dalam pencurahan Roh Kudus, Anda dijadikan satu dengan Bapa dan Anak untuk selama-lamanya. (t/Hossiana)

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : Higher Things
Alamat situs : http://higherthings.org/myht/articles/catechesis/pentecost
Judul artikel : Pentecost: "Lord and Giver of Life"
Penulis artikel : The Rev. Dan Feusse
Tanggal akses : 20 Mei 2015