Perayaan

Sebuah perayaan adalah hal terakhir yang diharapkan Maria Magdalena ketika ia mendekati kubur pada hari Minggu pagi itu. Beberapa hari terakhir tidak terjadi apa-apa untuk dirayakan. Orang-orang Yahudi mungkin merayakan -- Yesus sudah tidak ada lagi. Para prajurit mungkin merayakan -- tugas mereka sudah selesai. Namun, Maria tidak mungkin merayakan apa pun. Bagi dia, beberapa hari terakhir tidak terjadi apa-apa kecuali sebuah tragedi.

Maria ada di sana. Ia telah mendengar para pemimpin berteriak-teriak menginginkan darah Yesus. Ia telah melihat sendiri orang-orang Roma mencambuk dan merobek kulit punggung Yesus. Ia telah menggerenyet saat duri menyayat dahi Yesus dan menangis karena beratnya kayu salib.

Di Louvre, ada sebuah lukisan pemandangan saat penyaliban. Dalam lukisan tersebut, bintang-bintang tidak bercahaya dan dunia diliputi kegelapan. Di balik bayang-bayang ada sebentuk orang yang berlutut. Itulah Maria. Ia menahan tangan dan bibirnya pada kaki Kristus yang berdarah.

Kita tidak tahu apakah Maria melakukannya, tetapi kita tahu dia bisa saja melakukannya. Ia ada di sana. Ia ada di sana untuk memeluk Maria, ibu Yesus. Ia ada di sana untuk menutup mata Yesus. Ia ada di sana.

Jadi, tidak mengejutkan bahwa ia ingin berada di sana lagi.

Pada waktu hari masih pagi-pagi benar, ia bangun dari tempat tidurnya, membawa rempah-rempahnya dan daun gaharu, dan meninggalkan rumahnya, melintasi pintu gerbang Gennath dan naik ke bukit. Ia mengantisipasi tugas yang suram. Saat itu tubuh Yesus akan bengkak. Wajah-Nya akan menjadi putih. Bau kematian akan semakin menusuk.

Langit yang kelabu berubah menjadi keemasan ketika ia berjalan menyusuri jejak sempit. Saat ia mengitari tikungan akhir, ia megap-megap. Batu di depan kubur telah terguling.

"Seseorang mengambil mayat-Nya." Ia berlari untuk membangunkan Petrus dan Yohanes. Mereka tergopoh-gopoh untuk melihatnya sendiri. Ia mencoba untuk mengejar mereka, tetapi ia tidak sanggup.

Petrus keluar dari kubur dengan merasa bingung dan Yohanes keluar dengan percaya, tetapi Maria hanya duduk di depan mereka sambil menangis. Dua laki-laki itu pulang dan meninggalkannya sendiri dengan kepedihannya.

Namun, ada sesuatu yang mengatakan kepadanya bahwa ia tidak sendirian. Barangkali ia mendengar suara. Mungkin ia mendengar bisikan. Atau, mungkin ia hanya mendengar hatinya sendiri berbicara kepadanya untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Apa pun alasannya, itulah yang dia lakukan. Ia membungkuk, menundukkan kepalanya ke pintu masuk yang melengkung, dan menunggu matanya menyesuaikan dengan keadaan yang gelap.

"Mengapa kamu menangis?" Ia melihat penampakan seorang laki-laki, tetapi ia tampak putih. Ia adalah salah satu dari dua cahaya pada kedua ujung tempat yang kosong. Dua lilin yang menyala di atas mezbah.

"Mengapa kamu menangis?" Sebuah pertanyaan yang tidak biasa ditanyakan di kuburan. Bahkan, pertanyaan tersebut terkesan tidak sopan. Memang benar, kecuali jika si penanya mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang yang ditanyai.

"Mereka telah mencuri Tuanku, dan aku tidak tahu di mana mereka meletakkan-Nya."

Ia masih memanggil-Nya "Tuanku". Sepanjang pengetahuannya, bibir-Nya terdiam. Sepanjang pengetahuannya, mayat-Nya sudah diusung dengan kereta oleh para perampok kuburan. Namun, meskipun begitu, Ia tetap Tuannya.

Pengabdian semacam itulah yang menggerakkan Yesus. Itulah yang menggerakkannya untuk mendekati Maria. Begitu dekatnya hingga Maria dapat mendengar Dia bernapas. Maria berbalik dan di sanalah Ia berdiri. Ia menduga Yesus adalah tukang kebun.

Kini, Yesus dapat menampakkan diri-Nya pada saat itu. Ia dapat mengutus malaikat untuk memperlihatkan-Nya atau sebuah pita untuk mengumumkan kehadiran-Nya. Akan tetapi, Ia tidak melakukannya.

"Mengapa kamu menangis? Siapakah yang sedang kaucari?"

Ia tidak membiarkan Maria bertanya-tanya untuk waktu yang lama, hanya cukup lama untuk mengingatkan kita bahwa Ia senang sekali membuat kita terkejut. Ia menunggu kita putus asa dengan kekuatan manusiawi kita kemudian Ia campur tangan dengan kuasa surgawi. Allah menunggu kita menyerah, kemudian -- kejutan!

Sudah lamakah Anda tidak menerima kejutan dari Allah? Mudah sekali bagi Anda untuk mencapai suatu titik tempat kita telah memahami Allah.

Kita mengetahui dengan tepat apa yang Allah lakukan. Kita telah memecahkan kode itu. Kita membuat grafik tentang hasrat-hasrat-Nya. Allah ibarat sebuah komputer. Jika kita menekan semua tombol yang benar dan memasukan data yang benar, Allah adalah Pribadi yang tepat seperti yang kita pikirkan. Tidak ada variasi. Tidak ada perubahan. Allah adalah sebuah kotak gramopon otomatis. Berikan perpuluhan. Tekan angka-angka yang benar dan -- bam -- musik ilahi yang kita inginkan pun memenuhi ruangan.

Saya memandang ke meja saya sepintas lalu dan melihat sebuah kotak tisu. Sepuluh menit lalu kotak tersebut ada di pangkuan seorang wanita muda -- pertengahan tiga puluhan, seorang ibu dari tiga anak. Ia memberi tahu saya mengenai telepon yang ia terima dari suaminya tadi pagi. Suaminya ingin bercerai. Ia harus meninggalkan pekerjaannya dan menangis. Ia menginginkan kata-kata pengharapan.

Saya mengingatkannya bahwa Allah selalu siap menolong ketika hidup kita berada di kondisi yang terburuk. Allah sudah dikenal untuk merencanakan perayaan di kuburan. Saya berkata kepadanya, "Bersiap-siaplah, Anda mungkin sedang dipersiapkan untuk sebuah kejutan."

Sudahkah Anda menemukan Allah? Sudah pernahkah Anda mengetahui Allah tertangkap dalam suatu urut-urutan dan terpaku di papan flanel? Jika demikian, dengarkanlah. Dengarkanlah kejutan Allah.

Dengarkan, batu-batu yang ditujukan untuk merajam tubuh perempuan zina berjatuhan ke tanah.

Dengarkanlah ketika Yesus mengajak seorang narapidana yang akan dihukum mati untuk pergi bersama-Nya ke dalam kerajaan di tempat duduk depan sebuah mobil limo.

Dengarkanlah ketika Mesias berbisik kepada perempuan Samaria, "Aku yang berbicara kepadamu, ialah Dia."

Dengarkanlah seorang janda Nain yang sedang makan malam dengan anaknya yang seharusnya telah meninggal.

Dan dengarkanlah kejutan ketika nama Maria disebutkan oleh seorang laki-laki yang dia kasihi -- seorang laki-laki yang telah ia kuburkan.

"Maria".

Allah menampakkan diri di tempat-tempat paling aneh. Melakukan hal-hal yang paling aneh. Mengembangkan senyuman, ketika hanya ada muka yang masam. Menempatkan kelap-kelip di tempat yang hanya ada air mata. Menggantungkan bintang yang bercahaya di langit yang gelap. Melengkungkan pelangi-pelangi di tengah awan-awan yang diselimuti petir. Memanggil nama-nama di kuburan.

"Maria," katanya dengan lembut, "kejutan!"

Maria terkejut. Anda jarang mendengar nama Anda disebut oleh lidah yang kekal, tetapi ketika namanya disebut, ia mengenalinya. Dan ketika ia mengenalinya, ia menanggapi dengan tepat. Maria menyembah Dia.

Adegan ini memiliki semua elemen pesta kejutan -- rahasia, mata lebar, ketakjuban, ungkapan terima kasih. Akan tetapi, perayaan ini dilakukan dengan takut-takut dibandingkan dengan perayaan yang direncanakan untuk masa depan. Perayaan ini akan mirip dengan perayaan Maria, tetapi lebih besar. Semakin banyak kubur akan terbuka. Semakin banyak nama yang akan dipanggil. Semakin banyak lutut akan bertelut. Dan, semakin banyak orang yang mencari-cari akan merayakan.

Akan ada perayaan yang besar. Saya berencana untuk memastikan nama saya ada di daftar tamu. Bagaimana dengan Anda?

"Tak ada mata yang telah melihat, tak ada telinga yang telah mendengar, tak ada pikiran yang menyangka apa yang Allah telah persiapkan bagi orang-orang yang mengasihi Dia." (t/S. Setyawati)

Diterjemahkan dari:

Judul asli buku : Six Hours One Friday
Judul bab : The Celebration
Penulis : Max Lucado
Penerbit : Multnomah Publishers, Oregon 1989
Halaman : 157 -- 161