Misi Khusus Ke Surga

Ketika Maria berdiri di kubur yang kosong sambil menangis, Yesus berdiri di dekat situ. Anehnya, dia tidak mengenali-Nya. Apakah karena dia menangis terisak-isak sehingga pandangan matanya kabur; atau matanya 'dihalangi" seperti mata kedua murid yang sedang berjalan ke Emaus dan tidak mengenalinya (Lukas 24:31). Kristus berpakaian sedemikian rupa sehingga dia tidak mengenalinya lagi? Maria mengira dia sedang berbicara dengan penunggu taman di kuburan milik Yusuf. Ada satu butir yang selalu menarik perhatian saya dalam cerita ini -- mengenai pakaian Yesus.

Yesus disalibkan tanpa mengenakan selembar pakaian pun. Ini adalah salah satu bagian mempermalukan seseorang yang dihukum mati. Ketika Yusuf mengurus jasad-Nya, tidak ada pakaian yang Yesus kenakan. Yesus hanya dibalut dengan kain lenan (seperti mumi di mesir). Namun, pada hari kebangkitannya, kain kafan itu ditemukan Yohanes DI DALAM kubur Yesus.

Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung (Yohanes 20:5, 7).

Namun, ketika Maria melihat Yesus, Dia sudah berpakaian. Dari mana dia mendapatkan pakaian itu? Kain itu bukanlah kain kematian yang ada di kuburan. Bukan juga yang dikenakan-Nya saat Dia dikuburkan. Hanya ada satu jawaban logis. Pakaian yang dikenakan Yesus diberikan oleh malaikat dari surga! Karena Yesus sekarang adalah Imam Besar kita, dia harus mengenakan pakaian khusus seperti para imam gereja yang harus mengenakan jubah khusus. Ingatlah apa yang diajarkan Kitab Suci, hal-hal surgawi harus disucikan oleh darah.

Ketika Maria melihat Yesus, Yesus hendak pergi ke Surga untuk memenuhi upacara membasuh perkakas bait suci surgawi, sekali untuk selamanya! Oleh karena itu Dia berkata kepada Maria, "... 'Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.'" (Yohanes 20:17)

Yesus hendak kembali kepada Bapa di Surga. Seperti pendeta yang mengenakan empat jenis lenan pada Hari Perdamaian, saya yakin bahwa Yesus, Imam Besar kita yang baru ditunjuk, juga mengenakan celana, ikat pinggang, jubah, dan tutup kepala lenan. Dia mematuhi peraturan yang ada! Dia akan "pergi kepada Bapa-Nya" untuk memenuhi misinya memurnikan wadah pelayanan surgawi.

Roh Kudus tidak hanya menyediakan pakaian, namun ketika Yesus Kristus berdarah saat dipukuli dan disalibkan, Roh Kudus mengumpulkan darahnya. Tampaknya kebenaran ini disimpangkan di Eropa ketika mereka mengarang kisah tentang Cawan Suci. Dalam cerita ini, Yusuf dari Arimatea berdiri di bawah salib Yesus dan menampung darah-Nya dengan cawan perjamuan yang pernah digunakan Yesus. Saat ini ada 6000 orang di Eropa yang menyatakan diri sebagai penjaga cawan suci. Ini adalah penyimpangan dari kebenaran yang diketahui oleh gereja mula-mula. Roh Kuduslah yang mengumpulkan darah Yesus di wadah, membawa wadah ini kembali ke surga, ke tempat yang kudus, dan menunggu Imam Besar datang dan menyelesaikan misi-Nya. Ibrani 9:11-12 dan 21-25, menggunakan perbandingan dua bait suci. Ayat-ayat ini dengan jelas menunjukkan apa yang dilakukan Yesus:

Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, -- artinya yang tidak termasuk ciptaan ini, dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal (9:11-12).

Paulus terus menjelaskan peristiwa Yesus membawa darah-Nya ke surga, dalam tulisannya: "Dan juga kemah dan semua alat untuk ibadah dipercikinya secara demikian dengan darah. Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Jadi, segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di sorga haruslah ditahirkan secara demikian, tetapi benda-benda sorgawi sendiri oleh persembahan-persembahan yang lebih baik daripada itu. Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita. Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. (Ibrani 9:21-25)

Dia hanya perlu mengorbankan darahnya sekali saja. Yohanes tidak melihat tabir di bait suci surgawi karena tabir itu telah dibelah dua dalam bait suci Herodes. Tidak ada lagi halangan bagi jalan menuju Bapa. Darah adalah pengorbanan sempurna bagi kemanusiaan, seperti yang dilakukan oleh Imam Besar kita, yang telah menghapuskan penghalang antara Allah yang Kudus dan orang yang berdosa.

Selain itu, karena darah Kristus tidak akan rusak serta tidak akan termakan waktu yang tidak berlaku di Surga, saya percaya bahwa walaupun sudah 2000 tahun yang lalu sejak peristiwa di Kalvari, dalam bait suci surgawi masih ada bahtera dan darah Kristus yang dipoleskan di tempat duduk pengampunan. Darah itu masih basah, segar, dan hidup sama seperti hari ketika darah itu dipercikkan oleh Imam Besar yang kekal. Saat kita memahaminya, kita akan mengerti bahwa kita hidup di zaman anugerah dan darah Kristus selalu menebus dosa kita. Darah Kristus telah membayar hak kita masuk ke hadirat Allah. Darah Kristus masih memunyai nilai kebangkitan, kekuatan hidup bagi mereka yang yakin dan memercayainya.

Ketika kita tiba di surga dan berjalan ke dalam bait suci surgawi, kita akan melihat darah yang telah membawa kita ke bait suci ini. Kita akan menyaksikan darah yang telah menyelamatkan kita. Kita dapat melihat darah yang dibayarkan agar kita bisa mendapatkan baptisan Roh. Kita akan menyaksikan darah yang membebaskan orang dari kecanduan kokain, obat-obatan, dan prostitusi. Darah Yesus masih di sana, masih aktif dan masih hidup! Terpujilah Tuhan! Haleluya!

Artinya ketika setan menyalahkan umat Allah (Wahyu 12:10), kasusnya ditolak karena dia tidak punya bukti! Sekarang, ketika Setan mengatakan kepada Bapa, "Saya telah memikat Perry Stone untuk berdosa melawan-Mu, jadi dia tidak punya hak untuk masuk ke kediaman kekal dalam surga yang penuh dengan kehadiran-Mu. Saya melihatnya sendiri dosa yang Engkau sebut Dosa-Mu. Di hadapan-Mu, saya menyalahkan-Nya dan menyatakan dia bersalah".

Kemudian Imam Besar (Perantara kita) akan berkata kepada Bapa, "Pendakwa yang hebat ini salah, Bapa. Dosa yang dia lakukan telah ditebus. Dengan pengakuannya lewat kata-kata, Perry telah menerima pengampunan, dan ada darah yang Engkau terima sebagai bayaran akan dosanya. Jadi, dosanya bukanlah bukti untuk melawan-Nya!" Haleluya! Sudah lunas! Dosaku sudah lunas! (t\Uly)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : The Priesthood and the Blood
Judul asli artikel : A Special Misson Into Heaven
Penulis : Perry Stone
Penerbit : Voice of Evangelism
Halaman Artikel : 25 -- 27

Dipublikasikan di: http://wanita.sabda.org/misi_khusus_ke_surga