Kristus Mati Untuk Kita

Oleh: Peserta Kelas Diskusi Paskah Maret 2011 - Mual Situmeang

Filipi 2:8
"Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."

Tulisan sejarah manusia didunia Alkitab tentang ketaatan dan pengorbanan besar hanya dapat digambarkan oleh seorang bapa Abraham yang mentaati perintah Allah dengan menyerahkan anak-Nya untuk korban persembahan. Penggambaran tentang pengorbanan anak oleh bapak demi ketaatan adalah tindakan yang paling berat dan sulit diterima oleh manusia yang normal. Akibatnya peristiwa Abraham menjadi contoh tertinggi akan ketaatan manusia sepanjang abad. Walaupun saat ini begitu banyak bapak yang mengorbankan anaknya demi keuntungan diri dan kehormatannya. Konsep pengorbanan yang tulus dari Abraham tetap bersinar dan tidak tertutupi oleh kenyataan tentang bapak-bapak yang tidak bertanggung jawab dijaman yang sudah sangat berdosa.

Yohanes 3:16; "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Kata-kata ini menjadi hidup dan terang benderang didalam sejarah manusia karena kematian Yesus telah menjadi pernyataan yang paling konkrit akan komitmen Tuhan bagi keselamatan mahluk ciptaan-Nya yang tertinggi. Allah Bapa dalam persekutuan Tritunggal yang sempurna menyerahkan Anak-Nya menjadi korban bagi kegagalan manusia untuk taat kepada Diri-Nya. Pengorbanan diri adalah pengorbanan yang paling besar dalam peradaban manusia. Pengorbanan diri yang ditunjukkan manusia demi keluarga dan bangsa adalah gambaran umum tentang kepahlawanan manusia yang dihormati oleh setiap bangsa didunia ini.

Kisah-kisah kepahlawanan manusia dalam berkorban bagi kebaikan adalah cerita abadi yang ditinggikan oleh semua peradaban manusia. Tetapi konsep bahwa Tuhan menyediakan diri-Nya untuk menyelamatkan manusia adalah cara yang tidak akan pernah muncul dalam pikiran manusia atau tak terpikirkan oleh siapapun juga. Jika manusia rela mengorbankan dirinya untuk kebahagian orang atau bangsa dan hal itu merupakan wujud jiwa yang mulia namun tetaplah mereka tidak lepas dari motivasi yang berdosa. Tetapi Allah yang suci dan mulia rela berkorban bagi ciptaan-Nya adalah kisah yang sangat sulit untuk dipahami oleh pikiran manusia. Allah menjadi manusia dan rela mati dengan hina menjadi kisah sejarah yang sulit diterima oleh dunia ini. Tetapi bagi mereka yang percaya akan kisah ini adalah mukjizat karena tentu tidaklah mungkin manusia memahaminya sehingga Allah memilih kita untuk percaya melalui karunia iman sebagai anugerah yang terbesar bagi hidup kita.

Pengorbanan Allah melalui manusia Yesus adalah hadiah terbesar bagi kita yang telah dipilih untuk menikmati anugerah keselamatan. Hanya oleh kasih karunia-Nya kita boleh memasuki kedalaman dan ketinggian Kasih-Nya melalui peristiwa salib. Peristiwa ini memampukan kita untuk hidup bersyukur dan bersukacita mengabarkan kebaikan Tuhan kepada sesama.

Salam
Mual Situmeang