Kepuasan terhadap Salib

Sejak kecil, saya selalu rindu agar diterima oleh Allah. Orang-orang di rumah kami sangat religius. Nenek tidak perlu memaksa saya untuk pergi ke gereja, baik setiap hari Minggu maupun hari besar kristiani lainnya. Sepulang sekolah, saya sering berhenti di sebuah katedral yang memancarkan cahaya temaram di dekat rumah kami, dan bertelut di salah satu bangkunya yang kosong. Saya benar-benar tersiksa saat itu. Saya sangat merindukan pengampunan Allah, tetapi Dia terasa begitu jauh.

Tatkala saya berusia 10 tahun, seorang uskup mengunjungi katedral kami. Ketika berada di sana, ia memberkati air suci. Nenek menyuruh saya untuk meminta sebotol air suci dari uskup tersebut, untuk ditempatkan dalam botol-botol kecil di sekitar rumah kami. Saya berlari sepanjang jalan menuju ke katedral, tetapi dalam perjalanan pulang saya memilih untuk berjalan santai. Saya berpikir keras. Saya begitu ingin diterima oleh Allah. Atas dorongan kata hati saya, saya minum air suci itu! Nenek tidak memarahi saya, karena ia menyadari kesalahan dan kerinduan yang ada dalam hati seorang gadis kecil. Namun, saya belum juga puas.

Bangku SMU tidak mampu memuaskan kehausan jiwa saya, tetapi kemudian saya disibukkan dengan pelajaran, teman-teman, dan kencan. Setahun setelah lulus dari SMU, saya berjumpa dan menikah dengan Dick. Tak lama kemudian saya telah sibuk dalam rutinitas kegiatan rumah tangga dan berkeluarga.

Walaupun saya mencintai suami dan keluarga saya, saya lebih merindukan kedamaian rohani. Karena itu saya meningkatkan ibadah saya di gereja, setia berbakti, dan mengerjakan banyak hal agar saya diperkenan oleh Allah. Namun, saya masih merasa hampa. Bahkan, saya menghampiri persekutuan para pewarta Kabar Baik yang diselenggarakan di pusat kota. Tetapi, saya tidak mengerti apa yang mereka katakan, sehingga akhirnya saya pulang dengan frustrasi. Padahal saya siap melakukan apa saja untuk menyenangkan Allah.

Saya memohon kepada Allah. Saya berseru kepada-Nya. Saya memohon agar Dia menyatakan diri pada saya. Akhirnya, saya memperoleh jawabnya, dari seseorang yang tak terduga -- ibu mertua saya. Saya merasakan kedamaian bila berada di dekatnya dan ia juga seorang wanita yang sangat baik hati. Jadi, tatkala ia mengajak saya menghadiri persekutuan doa wanita Kristen, saya menyambutnya dengan sukacita. Waktu itu seorang utusan Injil membawakan firman Tuhan. Dengan cara yang sangat jelas dan penuh kasih ia menyadarkan kami tentang salib. Untuk pertama kalinya saya memahami arti kematian Kristus. Puji Tuhan! Saya sadar bahwa seharusnya saya menghampiri salib itu sejak dulu. Saya tahu kehausan jiwa saya akan dipuaskan di sana. Saat itulah, saya menerima kasih dan pengampunan dari Allah. Dengan air mata sukacita, saya menaruh kepercayaan kepada Kristus dan pengorbanan-Nya bagi saya.

Sejak itu, tahun-tahun yang saya lalui tidak serta-merta menjadi mudah. Saya pernah meninggalkan gereja karena kehampaan ritualitas. Namun, saya bertumbuh dengan cepat dalam Kristus dan juga dalam komitmen saya kepada-Nya. Dick tidak dapat memahami saya, bahkan akhirnya ia meninggalkan saya. Tetapi, Tuhanlah yang menopang kehidupan saya dan anak-anak sepanjang waktu.

Kedamaian dan kepuasan yang saya peroleh dari salib sungguh nyata dan jauh lebih besar dari apa yang saya peroleh dari sebotol air suci. Kita dapat memperoleh pengampunan dosa dan diterima oleh Allah yang kudus melalui salib Kristus semata.

Diambil dari:

Judul asli buku : Why Did Christ Have to Die?
Judul buku terjemahan : Mengapa Kristus Harus Mati?
Penulis : Darlene Lehman
Penerbit : Yayasan Gloria, Yogyakarta 1983
Halaman : 30 -- 31