Kematian yang Memberi Hidup

Oleh: Feronica

Berawal dari pemberitahuan tentang tugas Paskah yang harus menjadi perhatian dari para peserta kelas diskusi Paskah di PESTA, terbersit di akal pikiran saya pribadi, tergelitik mencoba untuk menuliskannya. Karena hal ini terlihat aneh dan sangat menarik bagi saya.

Saya katakan aneh karena kematian yang merupakan akhir dari suatu kehidupan. Menurut terjemahan bebas wikipedia Kematian atau ajal adalah akhir dari kehidupan, ketiadaan nyawa dalam organisme biologis. Dan segala makhluk hidup pasti akan mengalami kematian atau ajal ini. Entah itu karena faktor usia, atau karena sakit penyakit ataupun karena faktor kelalaian atau suatu musibah yang dapat mengakibatkan kematian.

Kematian yang dialami oleh seseorang, baik itu kematian oleh karena binatang peliharaan ataupun seseorang teman, sahabat, atau dari salah satu anggota keluarga baik yang dekat maupun yang jauh, pasti akan mengalami suasana duka yang mendalam, karena sudah tidak dapat lagi berhubungan secara nyata atau secara fisik namun mengapa dikatakan kematian justru malahan dapat memberikan suatu kehidupan.

Yesus juga pernah mengatakanNya dalam kitab Yohanes 12 : 24, yaitu tentang sebuah biji gandum yang akan tumbuh, pasti ia harus jatuh ke tanah dan mati terlebih dahulu baru ia menghasilkan banyak buah. Dan dalam pengamatan saya-pun demikian, seperti hal-nya jika kita hendak menanam sesuatu yang berawal dari biji-nya seperti : Jeruk, Cabai, Pepaya atau Mangga dan Jambu yang hendak kita tanam di pekarangan rumah kita, terlebih dahulu biji itu harus kita semaikan terlebih dahulu di dalam tanah, dan ia-pun akan mati dengan terus merambahkan dirinya ke dalam tanah dan akhirnya ia-pun akan muncul atau tumbuh, yang berawal dari batang dan daunnya hingga ia-pun mengeluarkan buah yang banyak. Dan hal ini berarti tanaman tersebut memiliki sebuah nilai –“ bermanfaat bagi si penanam (di konsumsi sendiri) maupun bagi orang lain (di jual).

Hal ini mengacu kepada Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal yang rela menyerahkan diriNya sebagai tebusan orang-orang berdosa. Karena kasih Allah kepada setiap kita, manusia ciptaanNya. Ia pun tidak menginginkan kita terus jatuh dalam dosa dan hidup dalam api neraka (Roma 3 : 23; Roma 6:23) namun IA menginginkan kita semua berada bersama-sama dengan DIA di Sorga mulia, hidup kekal bersamaNya sehingga IA pun rela menyerahkan Anak TunggalNya yang tak bercacat cela dikorbankanNya sebagai ganti kita orang yang berdosa ini. Sehingga setiap kita yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Akibat kematian Yesus diatas kayu Salib, berarti ada kehidupan kekal, karena di dalam Yesus ada hidup. (Yohanes 14 : 6 Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.. ). Memiliki Yesus dan hidup di dalam Yesus, berarti hidup untuk Dia dan melakukan apa yang DIA kehendaki. Hal ini juga berarti bahwa tidak hidup dalam kehidupannya sendiri (hidup dalam kedagingan) atau menikmati kenikmatan duniawi yang sangat ditawarkan oleh Iblis, melainkan hidup untuk melayaniNya.

Dengan kematianNya dan kebangkitanNya, kita memiliki semangat untuk mematikan kedagingan kita dan bangkit bersama Yesus untuk menjadi kawan sekerjaNya dan hidup dalam penuh pengaharapan bersamaNya dan menikmati janji-janjiNya. Dan menjauhkan diri dari kenikmatan kehidupan kita sendiri, melainkan kita mau mati untuk sesama kita, seperti Kristus Yesus yang telah rela mati untuk kita.