Hidup untuk Mati

Kita membaca dalam 1 Tesalonika 1:6 (AYT), "Kamu telah menjadi orang-orang yang meneladani kami dan Tuhan." Dalam teks ini ada dua orang yang merupakan teladan untuk sesuatu, yaitu Yesus dan Paulus. Berikut adalah apa yang mereka teladankan: "menerima Firman Allah dalam penindasan dengan sukacita Roh Kudus." Yesus adalah orang yang menerima Firman Allah dalam kesusahan, tetapi ditopang oleh sukacita. Kita membaca dalam Ibrani, "yang demi sukacita yang telah ditetapkan bagi-Nya, rela menanggung salib" (Ibrani 12:2, AYT). Paulus adalah orang yang menerima Firman Allah dan diberitahu untuk menerima itu, "Aku akan menunjukkan kepadanya betapa dia harus menderita untuk Aku" (Kisah Para Rasul 9: 6). Namun, Rasul mengatakan berulang-ulang bahwa ia bersukacita dalam kesusahan. Kita dipanggil untuk meneladani Yesus dan Paulus. Meskipun kita dipanggil untuk menerima Firman dalam penindasan, tetapi dengan sukacita.

Paulus hidup dalam penderitaan. Pertanyaannya adalah: Apa fungsi penderitaan dalam hidup rasul? Atau apa fungsi penderitaan dalam hidup pendeta, kehidupan misionaris, dan kehidupan orang-orang kudus? Apakah itu sesuatu yang kebetulan terjadi pada seorang pendeta, dan kemudian orang itu dapat memuliakan Allah dari cara ia menghadapinya? Atau adakah tujuan untuk penderitaan di dalam gereja? Dapatkah seorang pendeta menderita untuk gerejanya? Bisakah dia menderita untuk bidang misinya?

Apakah penderitaan hanya sesuatu yang terjadi karena Setan adalah pribadi yang jahat dan kita kemudian mengubahnya menjadi pengaruh kudus melalui kuasa Roh Kudus? Atau mungkinkah bahwa ketika Tuhan berkata kepada Paulus, "Aku akan menunjukkan berapa banyak kau harus menderita," maka ada rancangan dan strategi dalam penderitaan ini? Saya mengemukakan pertanyaan-pertanyaan dan topik ini karena para pemimpin perlu mendengar tentang penderitaan. Kebanyakan pendeta datang dari gereja yang kaya, di mana sangat sedikit orang menyadari bahwa mereka menderita dengan maksud.

Penderitaan sebagai Strategi

Richard Wurmbrand adalah seorang pendeta Rumania yang menderita selama 14 tahun di penjara demi Injil. Saya belajar dari dia secara harfiah dengan duduk di kakinya, karena dia melepas sepatunya dan duduk ketika berbicara. Itu sekitar 15 tahun yang lalu ketika saya masih bersama sekitar 12 pendeta lainnya duduk rendah di kaki Richard, dan itulah saat dia menabur ke dalam hati saya benih untuk memahami penderitaan sebagai sebuah strategi.

Dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti, "Jika Anda dan orang di sebelah Anda tahu bahwa Anda berdua akan memiliki anak, yang satu cacat, yang satu sempurna, yang mana yang akan Anda pilih?" Bahkan pertanyaan itu memiliki dampak yang mendalam pada saya, dan saya baru saja melihat beberapa hal telah mempengaruhi kelompok saya. Di Bethlehem Baptist, puluhan bayi diadopsi dari seluruh Amerika Serikat dan seluruh dunia. Keluarga-keluarga bersedia untuk menanggung penderitaan dengan mengadopsi anak-anak kecil dari panti asuhan di Ukraina. Hasilnya adalah penderitaan, dan jika Tuhan berbelas kasih, kemuliaan. Beberapa keluarga telah bertahan menanggung penderitaan itu sehingga mereka harus mempertimbangkan membiarkan anak-anak ini pergi, dan rasa sedih yang luar biasa. Keluarga-keluarga ini telah menempatkan diri dalam situasi yang mengancam jiwa karena pilihan mereka untuk mengasihi dan akhirnya karena pilihan itu mereka menderita.

Richard Wurmbrand juga memberi pengaruh pada saya melalui cerita yang disampaikannya. Ini adalah cerita tentang seorang biarawan Cistercian, seorang pejabat di Gereja Katolik yang pendiam. Seorang pewawancara radio di Italia bertanya kepada kepala biara Cistercian ini, "Bagaimana jika Anda menyadari di akhir hidup Anda, bahwa mereka yang ateis itu benar, dan bahwa tidak ada Tuhan?" Dan kepala biara itu menjawab, "Kekudusan, keheningan, dan pengorbanan itu sendiri adalah hal-hal yang indah. Bahkan tanpa janji akan upah, saya masih akan menjalankan hidup saya dengan baik." Namun, Paulus akan memberikan jawaban yang sebaliknya, karena ia memberikan jawaban yang berlawanan dalam 1 Korintus 15:19 (AYT). Paulus menulis, "Jika pengharapan kita di dalam Kristus hanya untuk hidup ini saja, kita adalah orang-orang yang paling malang dari semua manusia." Tidak ada teks dalam sepuluh tahun terakhir hidup saya yang menyebabkan saya lebih kesulitan kecuali bagian ini, membuat saya bercermin, mempertanyakan pelayanan saya, dan mengancam akan merubah masa depan saya lebih daripada teks ini.

Bagian ini mengatakan bahwa jika tidak ada kebangkitan dari antara orang mati, maka pilihan yang saya buat dan kehidupan yang saya jalani benar-benar tidak masuk akal. Pemikiran seperti ini mengejutkan di Amerika karena hampir tidak ada yang menjual Kekristenan dengan cara ini. Orang menjual Kekristenan sebagai kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, pernikahan yang lebih baik, dan anak-anak yang lebih patuh. Bahkan Allah bisa menjadikan bisnis Anda makmur. Akibatnya, jika Kekristenan adalah khayalan, maka hal itu tidak akan membuat perbedaan sepanjang Anda sudah hidup dengan baik.

Namun, Paulus memiliki pandangan yang berbeda. Kita semua adalah orang yang paling ditertawakan, malang, dianggap bodoh dan tidak masuk akal jika kita tidak dibangkitkan dari kematian setelah kehidupan seperti neraka ini. Paulus menjelaskan di pasal yang sama pilihan alternatif jika tidak ada kebangkitan dari antara orang mati. Dia menulis, "Mari kita makan dan minum" (15:32). Nah, dia tidak bermaksud bahwa dengan itu kita semua harus menjadi pemabuk dan pelahap jika tidak ada kebangkitan. Untuk menjadi seorang pelahap dan kelebihan berat badan berarti mengalami serangan jantung saat Anda berusia 36. Atau menjadi pemabuk mengakibatkan kehidupan yang sulit. Tidak ada yang melihat hidup mereka dan berkata, "Di situlah ada kehidupan." Apa yang dimaksud Paulus adalah, "jadilah normal." Makan, minum, menjadi normal, hindari risiko berlebihan, menjaga keamanan sebagai yang paling penting, dan menikmati kenyamanan yang wajar. Itu adalah bagaimana seseorang hidup jika tidak ada kebangkitan dari antara orang mati. Kekristenan yang normal, sederhana, biasa, berbudaya, jika tidak ada kebangkitan.

Paulus menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana kebenaran tentang kebangkitan berdampak pada hidupnya dalam 1 Korintus 15: 29-31: "Jika orang mati tidak dibangkitan sama sekali ... mengapa kami berada dalam bahaya setiap saat?" Saya membacanya di pesawat hari ini dan berpikir kepada diri saya sendiri, "malam yang baik." Jika saya dalam bahaya bahkan satu jam, saya akan mencoba untuk memperbaikinya. Saya tentu tidak ingin berada dalam bahaya, tetapi Paulus memilih itu. Bagi Paulus, itu bukan hanya satu jam, itu setiap hari, sepanjang hari. Bahaya di laut, bahaya di jalan-jalan, bahaya di kota, bahaya dari saudara-saudara yang buruk, dan bahaya dari musuh. Paulus tidak memiliki keamanan, dan sepertinya dia selalu dalam bahaya.

Saya pernah ada dalam bahaya hanya beberapa kali di lingkungan saya ketika terjadi ancaman. Akibatnya, sulit untuk berkonsentrasi dan melakukan pelayanan. Bagaimana Anda akan mempersiapkan diri untuk berbicara dengan orang-orang Muslim besok jika ada massa di luar malam ini? Meskipun berada dalam bahaya setiap saat, Paulus melanjutkan menulis, "Saudara-saudara, setiap hari aku menghadapi kematian, demi kebanggaanku dalam kamu, yang aku miliki dalam Yesus Kristus, Tuhan kita." (15:31). Adalah bodoh jika tidak ada kebangkitan dari antara orang mati. Jika tidak ada jaminan kebangkitan dari antara orang mati, maka Anda harus memaksimalkan kehidupan setiap hari. Orang ini berpikir seperti ini, orang ini membuat jenis-jenis pilihan karena ia tahu akan sukacita sejati. Jawaban Paulus tentang menderita dengan baik juga ditemukan dalam Kolose 1:24.

Sebuah Teks yang Mengintimidasi

Di kantor John MacArthur ada patung kuningan seorang pria berlutut dengan tangan terentang. Di patung itu tertulis, "Aku akan percaya kepada Tuhan." Patung seorang pria mengernyit menghadap ke bawah di hadapan Allah yang Maha Kuasa ini adalah yang saya rasakan ketika membaca pasal-pasal ini. Sebagai pendeta, kita kadang-kadang tergoda untuk menggunakan Alkitab untuk menghindari Alkitab. Kita menggunakan khotbah ekspositori sebagai sarana bagi pelayanan untuk melindungi diri dari ayat-ayat yang merentangkan kita untuk melayani dengan cara lain. Jangan salah, saya percaya pada khotbah ekspositori dengan sepenuh hati, tetapi Tuhan memanggil kita untuk menjadi lebih dari sekadar pengkhotbah ekspositori.

Bersukacita dalam Penderitaan

Kita membaca dalam Kolose 1:24 (AYT), "Sekarang, aku bersukacita dalam penderitaanku demi kamu." Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan ayat seperti ini. Hampir semua orang di gereja saya benar-benar melakukan kebalikannya — mereka mengeluh ketika mereka menderita, mereka bertanya kepada Tuhan, "Mengapa?" Dan mereka tidak bersukacita. Apa yang salah dengan Rasul Paulus? Apakah dia berasal dari planet lain? Namun pola alkitabiah dari kehidupan begitu supranatural, begitu radikal, dan begitu berbeda sehingga sangat sedikit pendeta dan orang awam yang menghidupinya.

Kita terus membaca, "Sekarang aku bersukacita boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat." Paulus menyebut penderitaannya sebagai "menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus." Penderitaan dirancang untuk mencapai sesuatu yang disebut, "menggenapkan" apa yang kurang pada penderitaan Kristus. Apa artinya ini? Kita semua tahu apa yang bukan. Kita tahu dari Paulus dan Yesus bahwa ayat ini bukan berarti bahwa Rasul Paulus menambah karya penebusan salib. Ketika Yesus menyatakan, "Sudah selesai," berarti Dia telah menjadi korban yang sangat berharga dan sempurna, dan tidak ada yang pernah bisa membuat pengorbanan itu menjadi lebih baik. Apa yang telah dibayar di kayu salib sudah dibayar penuh, dan tidak ada yang bisa memberikan kontribusi apapun pada pembayaran yang dibuat untuk pengampunan dosa dan pembenaran kehidupan di hadapan Allah yang kudus. Yesus sendiri telah melakukan ini, dan kita mendapatkan keselamatan kita dengan berdiam di dalamnya.

Jadi jika bukan itu arti ayat ini, lalu apa artinya? Apa yang kurang pada penderitaan Kristus bukanlah kesempurnaan nilai harga penebusannya, tetapi presentasi pribadi kepada orang-orang, yang untuk mereka Dia telah membayar harganya. Kristus, oleh rancangan Bapa, ditentukan agar penderitaan penebusan-Nya diberikan dan disajikan kepada semua yang untuk mereka Dia telah mati, di setiap kelompok orang di dunia; dan ini harus dilakukan melalui penderitaan.

Namun, penderitaan ini harus disertai dengan sukacita, karena tanpa itu seseorang tidak pernah akan bertahan hidup. Untuk sukacita yang telah disediakan bagi Kristus, Dia menanggung salib. Dan demi sukacita yang disediakan bagi Anda, Anda akan menanggung pilihan yang Anda buat, yang tidak akan berarti jika tidak ada kebangkitan dari antara orang mati. Sukacita adalah satu-satunya cara Anda akan bertahan dalam misi Anda di dunia ini jika Anda memutuskan untuk menderita bagi Kristus. Sukacita Tuhan akan menguatkan Anda melalui pilihan yang tak seorang pun pahami.

Sebuah Contoh Paralel

Nah, mengapa saya pikir bagian ini artinya adalah apa yang saya katakan itu? Karena ada penggunaan paralel bahasa di Filipi 2 (AYT). Saya mengambil dua istilah kunci di bagian ini, "menggenapkan" dan "kurang" dan mencari di bagian lain bagaimana hal ini dipasangkan. Contoh paralel jelas ditemukan dalam Filipi 2, ketika Paulus menulis tentang Epafroditus. Epafroditus adalah individu yang membawa pemberian dari Filipi ke Roma, di mana Paulus berada. Paulus menanggapi jemaat Filipi dengan surat ini dan memuji Epafroditus karena ia mempertaruhkan nyawanya hampir ke titik kematian, menurut Filipi 2:27 (AYT). Epafroditus membuat pilihan yang telah cukup bodoh menurut dunia, tapi tetap saja, ia berhasil. Kita membaca bahwa ia selamat karena "Allah mengasihani dia" (ayat 27). Oleh karena itu, Paulus mengatakan supaya jemaat menerima dia dengan sukacita dan menghargai dia dan orang-orang lain yang seperti dia.

Di ayat 3 kita membaca bahwa Epafroditus "dekat dengan kematian bagi pekerjaan Kristus, mempertaruhkan nyawanya untuk menyelesaikan apa yang kurang dalam pelayananmu kepadaku." Kita melihat dalam ayat ini dua kata yang ditemukan dalam Kolose 1:24 (AYT), kurang dan menggenapkan. Di sini kita memiliki paralel yang sangat mirip. Filipi memiliki hadiah cinta untuk Paulus; mereka bersedia berkorban untuk melayani sesama saudara dalam Kristus. Namun pemberian ini belum selesai sampai Filipi menyampaikannya ke tempat tujuannya — di Roma. Dan Epafroditus menggenapkan apa yang kurang dengan resiko yang hampir merenggut nyawanya sendiri.

Marvin Vincent, yang menulis komentar tentang Filipi lebih dari 100 tahun yang lalu, menulis tentang ayat ini, "Pemberian untuk Paulus adalah pemberian untuk gereja sebagai tubuh. Itu adalah persembahan korban cinta. Apa yang kurang adalah presentasi gereja dari persembahan ini secara pribadi. "

Paulus mewakili Epafroditus menyediakan apa yang kurang melalui pelayanan kasihnya dan semangatnya. Dan itulah interpretasi saya untuk Kolose 1:24 — saya pikir itulah yang terjadi di dalam ayat itu. Yesus Kristus memiliki pengorbanan dan persembahan penuh kasih bagi dunia. Dia telah menetapkan bahwa itu tidak akan disiarkan di tv atau melalui radio saja, tapi diwujudkan. Sekarang, inilah pertanyaannya: Jika rancangannya adalah untuk mendapatkan perasaan-Injil tentang penderitaan Yesus yang menebus, efektif, kuat ke dalam kehidupan orang-orang untuk siapa itu ditetapkan, dengan cara apa itu akan terjadi? Paulus sangat jelas menyatakan dengan cara apa di Kolose 1:24: "Aku bersukacita boleh menderita karena kamu, dan dalam dagingku... aku menggenapkan"

Metode untuk "menggenapkan" "kurangnya" presentasi pribadi adalah apa yang terjadi pada jemaat Paulus ketika dia berkhotbah:

"Lima kali aku dicambuk orang Yahudi, empat puluh kurang satu cambukan. Tiga kali aku dipukul dengan rotan, satu kali dilempari batu, tiga kali aku berada di kapal karam, satu malam dan satu hari aku diseret ombak di laut. Banyak kali dalam perjalananku, aku terancam bahaya dari sungai, dari para perampok, pihak orang-orang Yahudi, dan orang-orang bukan Yahudi. Aku diancam bahaya di kota, di padang belantara, di laut, dan juga bahaya dari saudara-saudara palsu. Aku sudah berjerih payah dan bekerja berat, tetap terjaga, kelaparan dan kehausan, sering tidak punya makanan, dalam kedinginan, dan tanpa pakaian." (2 Korintus 11: 24-27, AYT)

Penderitaan adalah penting! Jangan menjadi seorang pendeta jika Anda tidak mempercayainya. Tuhan menghendaki Anda untuk menjangkau orang-orang-Nya di antara semua kelompok masyarakat dunia dan di lingkungan kita dengan kesetiaan di tengah penderitaan. Dia menghendaki orang-orang itu untuk berjumpa Yesus, Yesus yang benar-benar disalibkan, dalam penyaliban Anda. Itulah yang Paulus tulis dalam Kolose 1:24.

Kejadian yang Sama

Saya baru saja menerima surat, dan saya akan menggunakan beberapa nama palsu di sini karena saya tidak tahu apakah orang ini mau hal ini diketahui. Surat itu berbunyi, "Dua minggu yang lalu, saudara saya, Joe, ditembak saat ia duduk di gubuknya di sebuah desa di Uganda utara. Joe dan istrinya, Frances, adalah misionaris untuk suku Muslim Aringa di Uganda utara, yang berjarak tiga mil dari perbatasan Sudan. Frances dan Joy, putri mereka berusia lima bulan, baru saja tiba di Amerika untuk kunjungan singkat karena mereka sudah pergi lebih dari satu tahun. Joe tinggal di Afrika. Dua hari setelah kedatangan Frances, Joe dan Martin duduk bersama-sama di ruang tamu di pondok di malam hari ketika mereka mendengar suara aneh di luar. Joe curiga ada masalah. Dia melompat, menendang pintu supaya tertutup sebelum peluru-peluru memberondong ditembakkan. Peluru-peluru meledak melalui pintu, mengenai Joe di bahunya dan Martin di lengan bagian bawah."

Surat itu kemudian menjelaskan bahwa para penyerang menerobos masuk, menuntut uang saat mereka menyeret dua orang tadi, dan orang-orang ini berteriak memohon Yesus untuk menyelamatkan mereka. Apa yang terjadi? Para prajurit menurunkan senjata mereka dan berjalan pergi. Orang-orang ini menghabiskan lima jam tanpa bantuan medis dan mereka masih bertahan. Cerita yang memiliki akhir yang bahagia, tetapi kita semua tahu cerita-cerita yang memiliki akhir bahagia yang bukan "duniawi".

Ini wajar! Celakalah gereja yang tidak mengajarkan orang-orang muda mereka bahwa ini adalah wajar. Paulus menulis, "Aku bersukacita boleh menderita karena kamu dan aku menggenapkan apa yang kurang." Nah, apakah ini hanya apostolik? Tidak, karena Yesus menyatakan, "Sebab, siapa saja yang ingin menyelamatkan nyawanya akan menghilangkannya. Akan tetapi, siapa saja yang menghilangkan nyawanya demi Aku dan Injil akan menyelamatkannya" (Markus 8:35, AYT). Saudara yang terkasih, jalan keselamatan adalah jalan kehilangan nyawa seseorang demi Injil. Kita juga membaca di 2 Timotius 3:12 (AYT), "Memang, semua orang yang ingin hidup dalam kehidupan yang saleh di dalam Yesus Kristus akan dianiaya."

Kebenaran tentang penderitaan bagi kemuliaan Allah berlaku untuk semua orang. Dan alasan mengapa kebenaran ini ditemukan begitu sedikit terdengar di gereja Amerika adalah karena kita telah begitu menjinakkan kata kesalehan — begitu banyak sehingga kita hampir tidak bisa mulai memahami apa yang dimaksud Paulus dengan itu. Kesalehan dibatasi dengan membaca Alkitab, pergi ke gereja, dan mematuhi perintah-perintah. Namun, itu semua bukan kesalehan karena orang-orang Farisi melakukan semua hal itu. Kesalehan adalah begitu bergairah oleh Allah, begitu puas oleh Allah, begitu penuh dengan Allah, sehingga digerakkan oleh Yesus sehingga Anda hidup sedemikian rupa, dan dengan demikian satu-satunya penjelasan untuk hidup Anda adalah janji Allah membangkitkan Anda dari antara orang mati. Itu sebabnya saya selalu berdoa, "Tuhan, siapkanlah istri saya dan saya untuk keputusan kami berikutnya."

Kita tidak akan pernah menjadi gereja Kristus sampai kita memilih untuk mengambil risiko yang hanya bisa dijelaskan oleh kebangkitan dari antara orang mati. Itulah satu-satunya cara yang menjadikan kita gereja yang seharusnya dan menyelesaikan Amanat Agung.

Sukacita adalah Kunci Penderitaan

Kata terakhir untuk diselidiki sini adalah sukacita. "Aku bersukacita dalam penderitaanku." Jalan Kalvari merupakan jalan yang sulit dipenuhi dengan sukacita, dan sukacita Paulus bagi saya tampaknya harus benar-benar tak terbatas. Dia menulis kepada jemaat di Korintus, "Sedih, namun selalu bersukacita" (2 Korintus 6:2, AYT). Apa kunci untuk sukacita ini? Kita menemukannya di Roma 5:2 (AYT): "kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah." Paulus melanjutkan, "bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita." Saya pagi ini baru saja membaca sebuah artikel oleh Marvin Olasky tentang topik pertobatan di edisi terbaru World Magazine. Dia menyebutkan bahwa Kekristenan memiliki contoh yang sangat baik tentang bagaimana bertobat. Namun, dia juga menggunakan ilustrasi dari cara yang buruk untuk melakukannya. Dia menulis bahwa 100 tahun yang lalu, di Turki, umat Islam membariskan orang-oang Kristen Armenia dan pemimpin Muslim berjalan ke depan dan bertanya, "Apakah kamu menyembah Kristus atau Allah?" Jika jawabannya adalah "Kristus," pedang disodorkan ke perut. Nah, berapa banyak orang yang Anda saksikan mengalami itu di hadapan Anda membuat Anda berpikir apa yang akan Anda jawab? Sukacita dalam Kristus pada saat itu bukan pilihan, itu adalah satu-satunya harapan untuk ketaatan. Itu sebabnya Paulus mengatakan di sini, "aku bersukacita dalam penderitaan."

Menggenapkan Apa yang Kurang

Saya ingin menyimpulkan dengan sebuah ilustrasi dari J. Oswald Sanders, seorang misionaris negarawan yang besar. Sanders meninggal beberapa tahun yang lalu, dan dia berusia 89 ketika saya mendengar dia dulu. Dia memberi ilustrasi yang begitu sempurna mewujudkan Kolose 1:24. Sanders berbicara tentang seorang penginjil India, orang baru percaya yang ingin memberitahu semua orang tentang Yesus. Sepanjang hari dan setelahnya dia melakukan perjalanan yang sangat sulit datang ke sebuah desa. Dia bingung apakah ia harus menunggu sampai pagi hari untuk menginjili ke desa ini. Namun, kemudian ia memutuskan untuk pergi ke desa dan memberitakan Injil sebelum beristirahat. Penginjil itu mengumpulkan banyak orang, memberitakan Injil, tetapi mereka mengejek dia. Dia berhenti karena dia lelah dan putus asa, berjalan keluar desa, dan terbaring di bawah pohon untuk tidur.

Beberapa jam kemudian saat matahari terbenam, ia terbangun kaget melihat seluruh penduduk desa di sekitarnya. Ia melihat salah satu pemimpin desa di atasnya dan berpikir, "Oh, mereka akan menyakiti saya atau membunuh saya." Pemimpin mengatakan, "Kami datang untuk bertemu Anda dan melihat kaki Anda yang berdarah. Kami telah memutuskan bahwa Anda pastilah orang suci dan Anda peduli dengan kami karena Anda datang sejauh ini sampai kaki Anda jadi seperti ini. Kami ingin mendengar khotbah Anda lagi."

Para Pendeta, kita bersukacita dalam penderitaan kita, dan dalam daging kita menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Yesus. Satu hal yang kurang dalam penderitaan Yesus adalah presentasi pribadi yang tuntas dan berdarah tentang salib-Nya kepada orang-orang yang untuk mereka Dia mati. Kita harus menjadi presentasi itu. Saya sudah mendengar khotbah ini beberapa kali karena saya merasa terbeban untuk memanggil gereja bersiap-siap bukan untuk apa yang mungkin terjadi, tapi untuk apa yang harus terjadi jika kita menghidupi kehidupan Paulus. Anda dipanggil melalui mulut saya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk membuat pilihan dalam pelayanan Anda, dalam pernikahan Anda, dan dalam mengasuh anak Anda. Jika Anda tetap berada di tepi dari sebuah keputusan radikal. Saya merasa senang untuk Anda. Saya ingin mendorong Anda ke tepi dan memperkuat apa yang Tuhan panggil untuk Anda untuk lakukan, dan itu adalah untuk membuat pilihan dalam pelayanan kasih, bukan masokisme — pelayanan penderitaan dan pengorbanan yang hanya bisa dijelaskan jika Kristus akan membangkitkan Anda dari Kematian. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : desiringGod
Alamat URL : http://www.desiringgod.org/messages/live-to-die
Judul artikel : Live to Die.A Leader Who Suffers Well
Penulis artikel : John Piper
Tanggal akses : 19 Januari 2016