Berkat Sejati

Penulis:Sion Antonius

Pada waktu berdoa kita sering berkata, Tuhan berkatilah hidup kami, Tuhan berkatilah pekerjaan kami, Tuhan berkatilah gereja kami dan seterusnya. Kata berkat itu menjadi sangat penting dan ketika diucapkan dalam kegiatan yang bersifat rohani maka menjadikan situasi menjadi sangat religius dan agung. Banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi orang yang diberkati. Namun pernahkah kita berdiam diri dan merenungkan arti kata berkat dengan sangat mendalam?

Pengertian kita tentang konsep berkat pada umumnya adalah sangat dangkal bahkan cenderung hanya merupakan ungkapan nafsu serakah akan materi. Orang Kristen ketika berpikir untuk meminta berkat kepada Tuhan, maka berkat yang diharapkan adalah curahan materi yang berkelimpahan. Saat kita berdoa Tuhan berkatilah hidup kami maka yang diharapkan adalah adanya curahan materi yang banyak berupa uang. Jika setelah berdoa dan kemudian ada curahan uang yang banyak pada rekening, maka saat itulah kita merasa mendapat berkat. Demikian pula dengan pekerjaan, kita merasa mendapat berkat apabila pekerjaan itu menghasilkan uang yang banyak. Gereja kita mendapat berkat tatkala bisa memperluas gedung dan membeli tanah karena banyaknya uang yang ada pada kas. Pikiran seperti inilah yang saya maksud dengan dangkal dan ungkapan nafsu serakah. Pandangan orang mengenai berkat semata-mata hanyalah mengenai berapa banyak uang yang bisa saya peroleh. Jika kita mendapat berkat materi maka ada fenomena yaitu itulah orang yang diperkenan oleh Tuhan. Semakin seseorang menjadi kaya maka semakin orang lain dan dirinya sendiri merasa sebagai orang yang baik dihadapan Tuhan.

Istilah orang baik di sini merujuk pada satu kondisi yaitu sebagai orang yang saleh di bandingkan orang yang lebih miskin materi. Kita harus mengerti berkat itu tidak identik dengan uang atau kekayaan. Namun pandangan ini tidak banyak yang bisa mengertinya, karena pandangan orang pada umumnya adalah seperti fenomena yang sudah saya sebutkan, jika kaya maka dia adalah orang yang diberkati oleh Tuhan. Dan kita juga kemudian terjebak pada pemikiran jika seseorang miskin pasti tidak diberkati Tuhan. Mengapa orang pada umumnya dapat setuju pada fenomena seperti ini? Saya beri 2 alasan yang sederhana, pertama: ketika ada yang diminta untuk memberikan kesaksian, maka seringkali adalah mereka yang memiliki keberhasilan di bidang bisnis, keberhasilan orang ini membuat orang yang menyaksikan digiring untuk berkesimpulan itulah orang yang diberkati Tuhan. Dari kesimpulan ini menimbulkan kesimpulan lain yaitu di dalam gereja orang miskin posisinya sangat kurang dihargai. Alasan kedua: coba lihat daftar pemberi persembahan, maka pada umumnya diurut dari pemberi yang terbesar hingga yang terkecil. Mungkin ada yang beralasan itu hanya untuk memudahkan saja dalam menyusun laporan. Saya pikir alasan ini tidak cukup kuat untuk mendukung pendapat tersebut. Alasan yang sesungguhnya adalah karena mereka yang memberi persembahan dengan angka besar adalah orang-orang yang dipandang penting dalam gereja, mereka dipandang sebagai kelompok orang yang diberkati, sehingga dihormati, oleh karenanya mereka harus berada dalam daftar paling depan.

Saya pikir 2 alasan tersebut sudah bisa menggambarkan betapa terhormatnya menjadi orang kaya. Dua alasan sederhana yang sudah saya sebutkan ini sudah bisa cukup untuk memicu orang-orang Kristen juga untuk berlomba-lomba menjadi orang kaya secara materi. Untuk mendukung fenomena tersebut masih banyak alasan yang lainnya, saya tidak akan menuliskannya lebih banyak. Jika sudah tahu fenomenanya bagaimana dengan faktanya? Faktanya adalah justru seringkali orang kaya itu mempunyai moralitas dan etika yang amburadul. Moralitas dan etika dalam menjalankan bisnisnya ketika ditelusuri banyak yang tidak sesuai dengan ajaran dalam Alkitab. Dengan fakta seperti ini apakah bisa ditarik kesimpulan bahwa orang kaya adalah orang yang lebih istimewa di hadapan Tuhan? Di hadapan Tuhan belum tentu, tapi dihadapan manusia adalah ya. Ayub kaya dan dia istimewa di hadapan Tuhan, tapi tidak berarti setiap orang kaya istimewa dihadapan Tuhan. Janda miskin bisa lebih berharga di hadapan Tuhan.

Nafsu serakah manusia ini sulit dibuat menjadi lebih benar, karena dasar pemikirannya yang sudah keliru yaitu banyaknya materi sebagai bukti akan begitu baiknya hubungan dengan Tuhan. Nafsu yang serakah ini semakin mendapat dukungan oleh karena adanya kesaksian dari orang-orang yang menjadi kaya karena ikut Tuhan. Mereka menebarkan pesona betapa indahnya menjadi kaya dan disayang Tuhan. Padahal Alkitab mencatat ketika seorang muda yang kaya datang kepada Yesus, dia disuruh menjual seluruh hartanya dan mengikut Dia. Bukan orang kaya yang disayang Tuhan, tetapi mereka yang taat kepada kehendaknya. Konsep berkat bagi orang Kristen harus lebih mulia, lebih agung daripada hanya sekedar uang. Seandainya kita berdoa berkatilah hidup kami, maka kalaupun tidak ada curahan materi yang berkelimpahan, tapi memiliki istri/suami yang mengasihi keluarganya, bukankah ini juga berkat? Sebagai orang tua yang anaknya mau belajar dengan sungguh-sungguh di sekolah tanpa menghamburkan biaya, apakah itu bukan berkat? Dianugerahi kesehatan yang baik sehingga tidak pernah berobat ke dokter, masihkah tidak merasakan ini sebagai sebuah berkat? Istri/suami yang baik, anak yang baik, kesehatan yang baik itu adalah berkat yang seharusnya diterima dengan rasa syukur kepada Tuhan.

Manusia pada umumnya, termasuk orang Kristen juga terkadang tidak menyadari bahwa setiap detik dalam kehidupan manusia adalah berkat. Manusia diciptakan Tuhan dan diberi tempat dalam dunia ini pada saat Dia sudah menyelesaikan penciptaan alam semesta. Manusia adalah ciptaan yang paling terakhir, hal ini supaya ciptaan ini bisa melangsungkan kehidupan dengan kondisi alam yang mendukung mereka dapat bertahan hidup. Jadi ketika manusia dapat hidup di dunia, dia hidup berdasarkan berkat-berkat dari Tuhan. Jikalau Tuhan tidak mengatur kondisi planet bumi sedemikian rupa, maka manusia tidak dapat hidup di dalamnya. Celakanya manusia seringkali tidak menyadari adanya berkat ini, kehidupan di dunia ini dipandang sebagai sebuah keadaan yang biasa saja. Ketika menghirup oksigen tidak dirasakan sebagai berkat. Baru ketika sakit dan harus membeli oksigen supaya dapat bernapas dengan lancar dan memerlukan biaya yang sangat mahal, kita menyadari oksigen adalah berkat. Betapa sempitnya pikiran kita dalam memandang berkat dari Tuhan, sehingga banyak hal yang berseliweran dalam kehidupan yang harusnya diakui sebagai berkat tapi kita tidak merasakan itu sebagai berkat.

Berkat dari Tuhan itu bukan semata-mata kekayaan materi saja. Berkat Tuhan itu luas dan dalam tidak dapat diukur dan dibatasi oleh pemikiran manusia. Bahkan ada sebuah berkat yang jarang dirasakan sebagai berkat, bahkan oleh orang Kristen sekalipun, berkat itu adalah pemulihan hubungan antara manusia dengan Allah, itu adalah BERKAT SEJATI yang seharusnya paling dikejar oleh umat manusia. Berkat itu adalah Yesus Kristus sendiri. Berkat ini ironisnya adalah yang paling dihinakan bahkan dianggap tidak bernilai dan tidak berguna oleh banyak orang. Mengapa orang tidak menghargai berkat yang berupa pemulihan hubungan antara Allah dan manusia? Ini karena perbedaan pandangan antara Allah dan manusia terhadap dosa. Manusia memandang dosa bukan hal yang fatal dalam hubungan dengan Allah. Manusia mengira dosa seperti sebuah kesalahan biasa yang bisa mudah diperbaiki.

Ilustrasinya seperti ini, dalam sebuah ulangan matematika seseorang mendapat nilai ulangan 80, dia salah dalam 2 soal, kesalahan pengerjaan ini membuat dia berpikir lain kali dia tidak akan mengulang kesalahan itu, dan di sisi lain dia berpikir toh nilainya masih cukup untuk lulus ujian. Cara berpikir seperti ini dijadikan sama untuk masalah dosa, manusia berpikir jika saya berdosa dan bisa memperbaikinya (dengan cara mohon pengampunan dan tidak mengulanginya) maka dosa bisa diselesaikan. Penyelesaian masalah dosa dianggap seperti soal keliru biasa dalam perbuatan kemudian diperbaiki dengan gampang. Pengampunan dosa selalu Tuhan sediakan namun akibat dosa selalu harus ada pertanggungan jawabnya, contohnya adalah dosa yang dibuat oleh Daud, dia mendapat pengampunan, namun ada akibat yang harus ditanggungnya.

Konsep tanggung jawab terhadap dosa ini sering dilupakan orang. Kemudian manusia juga berpikir, jika saya dosanya cuma 2 dan yang benarnya 8, bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk dikategorikan sebagai orang benar? Manusia memandang dirinya masih cukup baik dihadapan Allah, yang jahat adalah pembunuh, pencuri, penipu, penzinah, pemerkosa dan kejahatan lainnya, apabila tidak melakukan kejahatan tersebut maka dia merasa sebagai orang baik. Membuat sederhana masalah dosa juga terjadi pada Adam dan Hawa, saat mereka berdosa Alkitab hanya mencatat mereka malu, tapi tidak dicatat mereka berupaya mencari jalan untuk menyelesaikan dosanya, mereka hanya bisa diam dan solah-olah berkata, ya sudahlah, wong sudah terjadi. Sedangkan di pihak Allah, dosa itu sangat fatal dan Dia jijik karenanya. Saya mencoba menggambarkan jijiknya dosa. Pernah menonton acara Fear Factor? Dalam acara itu seringkali peserta yang ikut harus makan makanan yang menjijikkan. Ketika peserta memakannya ada yang muntah dan jijik. Seperti itulah Allah memandang dosa kita yang menjijikkan. Dia ingin memuntahkan kita, karena kita begitu menjijikkan dihadapanNya. Dosa sedemikian najis dihadapan Allah, maka Dia tidak bisa kompromi dengan dosa. Perbedaan pandangan ini membuat adanya jurang yang sangat dalam antara manusia dan Allah dalam memandang dosa.

Perbedaan ini membawa perbedaan juga ketika melihat berkat Allah dalam penebusan dosa. Banyak orang Kristen yang juga salah menilai tentang masalah dosa. Tidak sedikit orang Kristen merasa Allah terlalu berlebihan dalam penebusan dosa, mereka merasa tidak terlalu jahat dalam dunia ini. Sehingga penebusan Yesus di kayu salib membawa akibat yang biasa saja bagi banyak orang Kristen. Jika diadakan survey maka dapat dipastikan sangat sedikit orang Kristen yang bersyukur karena sudah di tebus dosanya. Mereka juga seringkali sangat puas dan bangga dengan pelayanannya, seolah-olah Tuhan pasti berkenan, mengganti kekudusan dengan pelayanan, yang pelayanannya banyak pasti lebih kudus dihadapan Tuhan. Jadi ketika sudah menjadi orang baik, maka orang Kristen merasa pantas kalau Tuhan memberkati mereka dengan materi yang berkelimpahan. Orang Kristen tidak merasa puas akan berkat penebusan dosa tapi minta lebih banyak berkat lagi yang lain, karena apa? Sebab orang Kristen merasa layak dihadapan Tuhan.

Segala hal yang dianggap perbuatan baik oleh manusia adalah sampah dihadapan Allah. Banyak upaya manusia dilakukan untuk memperkenan hati Allah. Manusia mencari kebenaran akan tetapi selalu tidak memperoleh kesimpulan akhir yang memuaskan. Jika akhirnya manusia berkesimpulan sudah menemukan kebenaran, sebenarnya itu adalah kesimpulan yang salah, karena ketika manusia berkesimpulan mereka tidak berdasarkan nilai-nilai yang ditetapkan oleh Allah. Kesimpulan itu dibuat berdasarkan apa yang dipandang benar oleh manusia tentang apa yang dikehendaki oleh Allah.

Saya ingin memberikan ilustrasi yang sederhana, seorang ayah pergi ke sebuah rumah makan, kemudian anaknya memberikan mie bakso si ayah tidak memakannya, memberikan lagi ayam goreng, lagi-lagi tidak dimakan, diberikan lagi gado-gado, ayahnya semakin tidak mau makan, akhirnya ayahnya bicara dia mau bubur polos saja, anaknya protes, makan bubur kurang kenyang, ayahnya lalu berkata bahwa gigi palsunya tertinggal, jadi kalau mau makan hanya bisa bubur polos saja yang tinggal di telan beres. Dari ilustrasi ini kita melihat bahwa upaya anaknya adalah sia-sia, karena yang menentukan standar bisa dimakan atau tidak adalah si ayah. Ilustrasi ini tidak bisa menggambarkan hubungan manusia dan Allah, tetapi saya ingin mengilustrasikan bahwa kehendak Allah itu tidak bisa diselami oleh manusia, karena untuk memahami manusia lainnya saja kita sudah tidak mampu apalagi memahami jalan pikiran Allah. Upaya manusia memperkenan hati Dia hanyalah kesia-siaan, karena standarnya hanya milik Allah. Allah sendiri yang menentukan bagaimana manusia berdosa dapat diselamatkan. Manusia tidak bisa menebak-nebak apa kira-kira yang Allah suka supaya mereka diperkenan. Allah tidak sama dengan manusia, sehingga Dia bisa ditawari sesuatu oleh manusia supaya manusia mendapat belas kasihan. Manusia masih beranggapan dapat mengalahkan iblis, namun Allah menentukan bahwa yang dapat mengalahkan iblis hanyalah Dia sendiri.

Jika Allah tidak berinkarnasi menjadi manusia maka persoalan dosa itu tidak dapat selesai. Standar ukuran keberhasilan penyelesaian masalah dosa adalah ditentukan oleh Allah bukan oleh manusia.. Allah berkata Aku adalah Aku apa maksudnya? Ini berarti Allah yang berdaulat dan sebagai standar yang tertinggi, keputusannya adalah mutlak, kehendaknya bebas dari intervensi siapapun. Allah hanya tunduk pada diriNya sendiri. Jadi kematian Yesus Kristus di atas kayu salib dan bangkit pada hari yang ketiga itu adalah standar yang telah Allah tentukan supaya manusia ditebus dari dosa, itu artinya BERKAT SEJATI untuk umat manusia. Manusia boleh untuk tidak mendapat berkat yang lainnya, namun mereka tidak boleh kehilangan berkat yang satu ini. Berpikir untuk mengerti Yesus Kristus sebagai berkat harus dimulai pada saat manusia jatuh ke dalam dosa. Ketika manusia berdosa maka Allah pencipta bisa saja menghancurkan Adam dan Hawa, lalu menciptakan manusia yang baru. Bagi Allah tindakan ini sah-sah saja, karena Dia adalah yang memiliki kedaulatan. Ciptaannya mau diapakan, itu adalah hak Allah. Namun Allah tidak bertindak seperti itu, tetapi membiarkan kisah manusia itu berlanjut. Adam dan Hawa dibiarkan hidup bahkan berkembang biak sesuai dengan perintahnya. Bahkan Allah memberi kejutan yaitu pada saat Adam dan Hawa berdosa, Dia membuat sebuah janji yaitu ada penebusan dosa, iblis akan dikalahkan, ini dimeteraikan melalui janji sulung. Saya sudah menuliskan bahwa berkat Tuhan itu luas dan dalam tidak dapat kita selami.

Bagaimana kita bisa mengerti, manusia yang gagal tapi Allah masih merencanakan karya yang agung? Ketika Allah berjanji untuk menyelesaikan masalah dosa manusia, maka itu membawa sebuah akibat yaitu hanya Allah sendiri yang dapat memenuhi janjinya. Manusia tidak dapat menyelesaikan masalah dosa, karena mereka sudah kalah, sudah berada dalam kekuasaan iblis. Allah sendiri yang harus merebut manusia dari kuasa iblis. Allah harus pergi untuk mengalahkan maut. Untuk mengalahkan maut maka Allah harus menjadi manusia yang tidak berdosa dan mati di salib. Inilah yang dimaksud dengan rencana Allah yang luas dan dalam tak terselami oleh akal manusia. Namun Yesus Kristus yang sudah mengalahkan maut ini, tetaplah dipandang sebelah mata, banyak manusia yang menghinakan karya keselamatannya. Manusia tetap lebih suka mencari jalan sendiri untuk mendapat belas kasihan dari Allah. Pengorbanan Yesus Kristus untuk menjadi penyelesai masalah dosa dianggap terlalu gampang dan murah. Padahal Yesus melakukan karya keselamatan ini bukan karena gampang dan murah, akan tetapi karena terlalu sulit dan mahalnya penebusan dosa ini sehingga Allah sendiri yang harus berinkarnasi menjadi manusia.

Allah yang sedemikian otonom, juga dikatakan Maha Adil, oleh karenanya Dia mempunyai standar dimana semua orang dapat kesempatan yang sama untuk memperoleh penyelesaian dalam masalah dosa. Penyelesaian itu oleh Allah di cantumkan dalam Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Undangan dari Allah ini ditanggapi oleh banyak manusia dengan tawar hati dan sinis, mereka tidak percaya bahwa dosa dapat diselesaikan dengan cara yang sangat mudah, yaitu percaya kepada Yesus. Mudahnya cara penyelesaian dosa bukan berarti Allah bertindak dengan cara murahan, tetapi sekali lagi harus dingat, hal ini karena terlalu mahalnya upaya penyelesaian dosa, sehingga Allah harus memberikannya dengan cuma-cuma. Bagi manusia mungkin terlalu mudah tapi tidak bagi Allah. Bagi Allah itu adalah tindakan yang sangat sulit, sehingga Yesus di taman getsemani, berdoa hingga keringatnya seperti darah. Apa yang dialami Yesus ini dikarenakan pecahnya pembuluh darah oleh karena pergumulan yang sedemikian beratnya, sehingga pada butiran keringat juga ada darah, secara medis disebut hemohidrosis. Jika penebusan adalah perkara yang gampang maka tidak mungkin Yesus mengalami keadaan ini.

Berikut saya akan menggambarkan betapa sakitnya pada waktu puncak Allah menebus dosa manusia melalui penyaliban. Kita mulai dahulu dengan hukuman salib. Penyaliban adalah salah satu jenis hukuman mati untuk kejahatan yang berat dan bagi warganegara bukan Romawi. Hukuman salib itu bukan hanya untuk membuat seseorang menjadi mati, tetapi melalui hukuman salib itu seseorang yang dihukum mati juga di inginkan supaya mengalami penderitaan yang sangat hebat. Semakin orang yang disalib mengalami penderitaan maka tujuan hukuman itu menjadi semakin tercapai. Jadi tujuan utama salib adalah membuat seseorang sangat menderita sebelum mengalami kematian.

Penderitaan untuk yang mendapat hukuman karena di salib adalah karena keluarnya darah secara sedikit demi sedikit sehingga membuat suplai oksigen menjadi tidak maksimal, akibatnya orang yang di salib harus mengerahkan segenap daya untuk bisa bernapas. Upaya ini membuat paru-paru dan jantung bekerja dengan keras dan mengalami sakit yang luar biasa pada saat mengambil napas. Jika sudah sampai pada puncaknya diharapkan orang yang di salib itu mati karena kekurangan oksigen yang berakibat gagal jantung. Penderitaan lainnya adalah tangan dan kaki yang dipaku. Apakah kita pernah tertusuk sesuatu hingga berdarah? Saya pernah disuntik vaksin dimana akibatnya selama 1 minggu tangan menjadi bengkak dan sakit sekali. Dalam penyaliban paku yang di tusukkan pada tangan (banyak yang menganalisa pada pergelangan) adalah berukuran sangat besar supaya bisa mengakibatkan pendarahan dan dapat menyangga tubuh. Dengan paku yang besar seperti itu maka sakit yang ditimbulkan pastilah sangat luar biasa. Rasa sakit semakin bertambah disebabkan Tuhan Yesus yang sedang di salib tidak bisa diam begitu saja, karena untuk bernapas Dia harus menggerakkan seluruh tubuhnya, bergeraknya tubuh ini mengakibatnya sakit yang semakin timbul pada tangan dan kaki yang di paku. Tubuh yang harus bergerak ketika mengambil napas itu, juga membuat punggung yang penuh luka bekas dicambuk memakai paku kecil pada ujungnya, mengalami gesekan, punggung inipun mengalami sakit amat sangat yang tak terbayangkan. Yesus yang di salibkan sungguh-sungguh mengalami penderitaan yang sangat….sangat…. tak tertahankan. Pada saat menonton visualisasi penderitaan Yesus dalam film The Passion of The Christ, saya membutuhkan waktu jeda hingga beberapa minggu untuk dapat menonton dari awal hingga akhir, saya tidak sanggup menonton penderitaan yang sedemikian hebat.

Jika kita sudah memahami penderitaan yang begitu hebat dari Tuhan Yesus supaya kita dapat ditebus dari dosa. Jika kita tahu bahwa menebus manusia dari dosa adalah sedemikian mahalnya karena harus ditebus oleh nyawa. Jika kita tahu bahwa pemulihan hubungan manusia dan Allah adalah berkat yang paling agung. Apa respon kita?

PERTAMA: penebusan dosa bukanlah untuk orang lain, pada waktu Yesus disalib itu adalah untuk saya, bukan untuk dia, bukan untuk mereka. Manusia berdosa yang menjijikkan dihadapan Allah adalah saya. Setelah ditebus dari dosa maka saya adalah orang yang diberkati Tuhan. Berkat ini yang utama maka jika saya tidak mendapatkan berkat yang lainnya, saya tetap bersyukur kepada Tuhan.

KEDUA: bersyukurlah senantiasa, apapun keadaan kita. Baik ketika banyak berkat materi maupun jika tidak memiliki materi yang banyak.

KETIGA: sebagai orang Kristen hendaknya bertobat dan menjadi orang-orang yang memandang hidup bukanlah untuk mencari keberhasilan secara materi. Kekayaan itu ada gunanya untuk hidup kita, tapi biarlah itu bukan menjadi tujuan utama hidup selama berada di dalam dunia. Konsentrasi orang Kristen bukanlah untuk mendapatkan berkat materi lagi, karena bagi setiap orang percaya Allah tidak akan lalai menjaga kita. Orang Kristen sudah mendapat berkat yang terbesar, oleh karenanya ambisi kita di dunia hendaknya tidak berfokus pada mencari kesenangan duniawi. Berkat materi haruslah menjadi urusan yang tidak kita pentingkan lagi. Tujuan mengikut Tuhan Yesus hendaknya bukan lagi supaya menjadi orang kaya, ini karena adanya konsep berpikir Dia adalah Raja dan kita anaknya pasti juga seperti raja.

KEEMPAT: pengorbanan Yesus di kayu salib adalah berkat yang mahal oleh karenanya kita harus menjadikan diri kita sebagai berkat untuk orang lain. Jadikan diri kita menjadi tempat dimana orang lain bisa merasakan berkat dari Tuhan. Jikalau kita diberi berkat materi, cobalah untuk membagi berkat itu melalui pelayanan yang bersifat menolong orang lain, jangan hanya memakai materi untuk kepuasan diri sendiri. Dalam merayakan JUMAT AGUNG dan PASKAH, seharusnya kita bisa lebih memahami kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus. Dan dengan meneladani kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus maka konsentrasi utama dari orang percaya adalah bagaimana mengupayakan orang lain yang belum mendapatkan BERKAT SEJATI yaitu Yesus Kristus, bisa juga memperolehnya. Hidup bukan hanya untuk diri sendiri atau untuk keluarga sendiri atau gereja kita saja, tapi bagaimana menjadi saksi-saksi Kristus kepada dunia.