Berilah Makan Domba-Ku

Perahu nelayan terayun lembut di danau, seratus meter di lepas pantai. Sesekali ombak memukul sisinya meskipun, dengan mengherankan, danau tampak tenang pagi ini.

Meski pun sangat pagi, enam nelayan di perahu melucuti pakaian untuk bekerja, dan kilau keringat di punggung mereka hanya terlihat di tengah cahaya fajar. Sepanjang malam mereka telah menarik dan memasukkan kembali jaring mereka, berkali-kali. Berulang-ulang. Mereka bekerja semalaman untuk mencari nafkah. Namun, tidak malam ini. Malam ini mereka belum menangkap satu pun ikan.

Fajar menghampiri mereka sekarang, matahari terbenam di atas perbukitan di sebelah timur Galilea. Harapan mereka atas ikan untuk dijual lenyap bersama malam. Mungkin mereka harus mencoba satu atau dua jaring lagi sebelum mereka berhenti. Mungkin mereka akan beruntung.

Di pantai, desa Kapernaum yang mengantuk mulai bangkit. Di pantai yang berbatu itu, para nelayan bisa melihat cahaya dari suatu api kecil. Sesekali angin sepoi-sepoi membawa kepada mereka aroma masakan ikan. Perut Petrus mengingat rasa laparnya, dan mulutnya hampir bisa mencicipi ikan yang gurih.

Siapa yang memelihara api? Itu adalah seorang laki-laki. Petrus dapat melihat sebanyak itu. Dia terlihat akrab, tetapi Petrus tidak bisa menebaknya.

Sekarang, Pria itu mengangkat tangan-Nya dan menangkupkannya di mulut-Nya. Sesaat kemudian suara-Nya menggapai perahu:

"Anak-anak," teriak-Nya. "Letakkan jala kalian di sisi kanan perahu dan kamu akan menemukan beberapa (ikan)...."

"Setiap orang dari darat mengira bahwa Dia seorang ahli perikanan!" omel Petrus. Namun mereka siap untuk menarik jaring lagi. Kenapa tidak sisi kanan kali ini? Apa yang hilang dari mereka?

Tiba-tiba keheningan pagi dipecahkan oleh geliat ikan yang terperangkap dan tarikan yang luar biasa pada jaring itu, untuk sesaat, mengancam untuk membalik kapal. Para pria itu langsung waspada dan memposisikan diri untuk menarik jaring yang melabrak. Mereka pasti telah menangkap seluruh kawanan ikan - di sisi kanan kapal!

Petrus menengok ke atas dari pekerjaannya kepada Pria di pantai. Yohanes juga berusaha melihat-Nya. "Itu Tuhan!" teriak Yohanes "Itu Yesus!"

Yang lain berjuang dengan jaring, tetapi Petrus tidak peduli. Dia meraih pakaiannya, menyelam ke danau, dan berenang dengan gerakan yang kuat sampai airnya cukup dangkal baginya untuk berlari memukul ombak di sisa perjalanannya.

Dengan air yang bertetesan, dia berlutut di depan Yesus - Tuhan yang telah bangkit, orang yang bersamanya, ia menghabiskan waktunya selama tiga tahun untuk mengikuti, meniru, melayani.

"Bawa beberapa ikan lagi," kata Yesus. Jadi, Petrus berlari ke arah perahu, sekarang hampir di darat, dan membantu menangkap di dalam jaring. Mereka menghitung 153 ikan! Menakjubkan!

Yesus memanggil orang-orang itu - murid-murid yang telah berbagi banyak makanan dengan-Nya. "Mari kita sarapan!"

Mereka duduk bersila di sekitar api dan menmakan roti serta ikan yang telah dipersiapkan oleh Yesus. Ikan hangat! Roti hangat setelah kerja malam yang panjang!

Ikan dan roti. Roti dan ikan. Mengapa ini tampak begitu akrab? Petrus bertanya-tanya. Dan, kemudian dia mengingat hari ketika, hanya satu atau dua mil dari sini, Yesus telah memberi makan 5.000 orang dengan lima jelai roti dan dua ikan. Petrus dan orang-orang ini membawa keranjang demi keranjang ikan dan roti ke orang banyak sampai semuanya kenyang.

Yesus, Pemberi makan manusia yang agung, memberi makan mereka lagi pagi ini.

Kini Yesus memanggilnya ke samping. "Apakah engkau mengasihi-Ku Peter?"

Dengan kepedihan, Petrus ingat bagaimana dengan keras dia menolak Yesus sebanyak tiga kali sebelum penyaliban-Nya. Dia hampir tidak bisa menatap mata Yesus. Dia bergumam, "Ya, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi-Mu."

"Petrus, berilah makan domba-domba-Ku," kata Yesus. Tiga kali Yesus meminta Petrus untuk menegaskan kembali kasihnya - satu kali untuk setiap kali Petrus menyangkal-Nya. Tiga kali Yesus menegaskan kembali panggilan Petrus untuk melayani. Yesus tidak hanya memaafkan Petrus, tetapi juga mengembalikan kepercayaan dirinya sepenuhnya.

Bertahun-tahun yang lalu, Yesus telah memberitahu Petrus dan rekan-rekannya, "Aku akan menjadikan kalian penjala manusia." Benar saja - bersama-sama mereka telah melayani ribuan pria dan wanita, anak laki-laki dan anak perempuan dalam kurun waktu tiga tahun pengalaman menjala spiritual.

"Berilah makan domba-Ku."

Bukan makanan jasmani. Yesus sedang berbicara tentang makanan rohani - mengajar, berdoa, memimpin, menasehati, melayani. Yesus meminta kasih Petrus, tetapi juga ketaatan bersamaan dengan kasih itu.

Petrus tahu apa yang Dia katakan. Yesus pernah menggambarkan mengenai orang banyak yang dilecehkan dan tidak berdaya, seperti domba tanpa gembala.

"Ya, aku mengasihi-Mu, Yesus," kata Petrus dengan jelas, mengangkat matanya menatap sang Tuan.

"Maka, berilah makan domba-domba-Ku," kata Pemberi makan manusia yang agung. "Petrus, Aku ingin engkau memberi makan domba-Ku untuk-Ku."

"Ya, Tuhan, tentu saja aku mau," bisik Petrus, saat matanya banjir air mata. "Engkau dapat mengandalkanku."
(t/Manda)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Joyful Heart
URL : http://www.joyfulheart.com/easter/feed-sheep.htm
Judul asli artikel : Feed My Sheep
Penulis artikel : Dr. Ralp F. Wilson
Tanggal akses : 15 September 2017